
“Saya sayang dan cinta dengan masyarakat Kota Tanjungpinang, sebagai Kampung Halaman saya, tempat saya dibesarkan,” kata H Lis Darmansyah SH.
PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Mantan Wali Kota Otonom Tanjungpinang ke 3 (tiga) H Lis Darmansyah angkat bicara terkait tudingan yang disampaikan Waki Wali Kota Tanjungpinang baru, Rahma dalam menyikapi permasalahan banjir di Kilometer 7, JL DI Panjaitan Tanjungpinang, belum lama ini.
Persoalan mengatasi masalah masyarakat, diantaranya Banjir di sejumlah titik Tanjungpinang kerap dihubungkan Rahma dengan “Pemerintahan Sebelumnya” yang tak lain pada masa pemerintahan H Lis Darmansyah.
Sebagaimana dilansir sejumlah media online lokal. Ditanya soal penangan Banjir di Kilometer 7, Rahma mengutarakan tudingan sepihak soal aksi Lis Darmansyah blusukan langsung menangani permasalahan banjir di kota Gurindam hanyalah pencitraan.
“Pilih yang turun tebar pesona atau lainnya …dan pemko di masa pemimpin Syahrul-Rahma tidak mencari pencitraan,” kata Rahma sebagaimana dilansir hariankepri.com
Baca Juga : Masyarakat Keluhkan Genangan Air di Kilometer 7
Menyikapi hal itu, H Lis Darmansya SH, saat ditemui pijarkepri.com di sela-sela waktunya, Selasa (6/11/2018), menanggapi tudingan yang disampaikan Rahma.
“Awalnya saya tidak ingin menyikapi hal ini, meskipun saya tahu saudari Wawako selalu memakai kata-kata “Pemerintahan Sebebelumnya”. Tentu kata kata ini secara tidak langsung memberikan gambaran bahwa apa yang dilakukan pemerintahan sebelumnya suka hal-hal yang berbau pencitraan,” kata Lis, di kedai kopi, Food Curt.
Lis menjelaskan, frase kalimat yang diutarakan Rahma secara implisit tidak ditujukan pada pemerintahan sebelumnya, akan tetapi menurutnya, makna tersirat sangat jelas disampaikan dalam kata-kata tersebut tertuju pada pemerintahan sebelumnya, yakni masa kepemimpinan Lis Darmansyah dan Syahrul.
Menurut Lis, menanggapi dan menyampaikan tanggapan soal tudingan Rahma mengenai tindakan blusukan Lis saat menangani banjir pada masa itu sebagai bentuk rasa cinta dan sayangnya kepada KotaTanjungpinang dan masyarakat Tanjungpinang.
“Saya sayang dan cinta dengan masyarakat Kota Tanjungpinang, sebagai Kampung Halaman saya, tempat saya dibesarkan,” ungkap Lis.
Lis mengungkapkan, sekadar mengingatkan dan berbagi pengalaman kepada Rahma untuk lebih berhati- hati dalam bertutur menggunakan kata dan kalimat, khususnya terkait dengan penggunaan bahasa “Pemerintahan sebelumnya.”
Menurutnya, Rahma perlu mengetahui kalau saja dalam sistem pemerintahan yang tengah dipimpinnya merupakan kelanjutan pemerintahan sebelumya.
“Maka kebijakan-kebijakan itu haruslah berpedoman kepada aturan, peraturan dan perundang-undangan. Tidak akan mungkin pemerintahan itu terputus putus, dan sudah tentu pemerintahan itu harus memakai prinsip dasar berkelanjutan,” ujarnya.
Lis masih menjelaskan persoalan penangan banjir tidak luput dari kerjasama pemerintah, dalam hal itu Lis mengutarakan kalau saja hal yang baik sudah dilakukan oleh pemerintah sebelumya, tentu perlu dipertahankan, dan hal yang kurang baik tentu diperbaiki, tidak untuk membandingkan.
Soal kalimat yang diutarakan Rahma mengenai Pemerintahan sebelumnya, Lis menjelaskan, kalau saja Wali Kota saat ini adalah merupakan bagian dari pemerintah sebelumnya termasuk seluruh ASN yang ada.
Menurut Lis, penggunaan bahasa “Pemerintahan Sebelumnya” dalam konteks menjawab pertanyaan apa tindakam penanganan masalah banjir di Tanjungpinang, namun malah bias ke persoalan pencitraan terkesan sangat tidak tepat.
Ia mengatakan, Wakil Wali Kota Tanjungpinang saat ini adalah salah satu, seorang dari pemimpin di Tanjungpinang perlu kesiapan untuk dikeritik, terlebih dalam penanganan persoalan di masyarakat secara langsung, sebagai bentuk pelayanan pemerintah.
“Itulah yang namanya demokrasi, jangan kritikan dianggap sebagai bumerang, tetapi sikapilah setiap kritikan menjadi bahan kita untuk koreksi dalam mengambil setiap kebijakan,” ulasnya.
Lis meluruskan terkait tindakan pemerintah Kota Tanjungpinang pada masa kepemimpinannya dalam mengatasi permasalahan di masyarakat, semisal penanganan genangan air turun dan pejabat saat itu turun dilapangan dianggap Rahma adalah sebuah pencitraan.
Ia mengungkapkan, kalimat pencitraan tersebut perlu diluruskan, mengingat yang perlu diketahui bahwa jabatan yang diamanahkan baik walikota dan wakil walikota bukan semata mata sesuatu yang ekslusif.
“Saya berprinsip bahwa jabatan itu adalah sebuah pekerjaan sehingga didalam kita menjalaninya tidak terasa beban berat dalam mengemban tugas-tugas yang diamanahkan oleh masyarakat kepada kita,” ungkapnya.
Ia mengutarakan, sebagi seorang pemimpin kritikan merupakan hal yang biasa, apalagi di zaman demokrasi saat ini, yang serba bebas berpendapat. “Tetapi tidak melanggar kaedah-kaedah hukum dan norma serta etika kewajaran,” ujarnya.
Tanggapan Kebiasaan Blusukan Dibilang Pencitraan
H Lis Darmansyah mengutarakan kilas balik pemerintahan sejak diberikan amanah oleh masyarakat Kota Tanjungpinang sebagai Wali Kota Tanjungpinang pada 13 januari 2013, turun ke lapangan ataupun sesuatu yang dikeluhkan oleh masyarakat untuk segera ditanggapi (Blusukan) sudah merupakan kebiasaannya.
“Dan itu juga yang selalu di ajarkan oleh orang tua saya. Jadi untuk saudari Wawako ketahui apa yang saat itu saya lakukan murni benar-benar merupakan kewajiban yang memang harus saya lakukan, dan itulah juga yang dilakukan Wakil saya saat itu (H. syahrul) yang sekarang diamanahkan oleh masyarakat untuk menjadi Walikota,” ungkapnya.
Lis meminta Rahma untuk bertanya kepada H Syahrul, apakah turun langsung kelapangan dan menanggapi persoalan masyarakat merupakan pencitraan.
“Dulu saya dan beliau (H Syahrul) turun dilapangan melihat secara langsung setiap pengaduan , permasalahan yang di keluhkan oleh masyarakat, apakah karena pencitraan ???, coba saudari Wawako tanyakan,” ujarnya.
Lis menjelaskan, disaat awal pemerintahannya per 13 januari 2013, terdapat 73 titik genangan air kecil dan besar. Seiring berjalannya waktu, 3 (tiga) bulan bertambah menjadi 101 titik baik yang besar maupun yang kecil di Kota Tanjungpinang.
Dalam kurun waktu 5 tahun pemerintahan berjalan bersama OPD yang membidanginya berupaya dan berusaha menyelesaikan tahap demi tahap permasalahan-permasalahan yang ada di Kota Tanjungpinang, terlebih pada saat itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang meminta dukungan anggaran baik dari provinsi maupun dari pemerintah pusat untuk menangani genangan- genangan air yang ada di Tanjungpinang.
“Alhamdulillah beberapa Titik dapat kami tanggani sehingga dapat mengurangi permasalahan genangan air, meskipun belum dapat kami tuntaskan secara keseluruhan,” ungkapnya.
Diketahui saat ini terdapat 26 hingga 28 genangan-genangan air besar dan kecil. Menurut Lis, penyelesaian permasalahan genangan air tidak akan mungkin mampu diselesaikan oleh pemerintah Kota Tanjungpinang sendiri tanpa dukungan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Lis mensyarankan, untuk Rahma ketahui bahwa yang seharusnya Rahma pikirkan yakni bagaimana menyelesaikan atau mengurangi titik-titik genangan air tersebut dapat selesai atau berkurang.
“Bukan dengan cara arogansi sebagai wakil walikota menggunakan kata-kata dan membuat statment-statment atau kalimat-kalimat yang seolah-olah apa yang kami lakukan dulu merupakan Sebuah Pencitraan, dan iu salah besar,” tegasnya.
Lis juga mensyarankan agar, Wawako Tanjungpinang untuk fokus mencari jalan keluar dan berusaha serta berupaya mencari sumber dana baik dari Pemerintah Provinsi, maupun dari Pemerintah Pusat. Hal ini dikarenakan melihat keterbatasan Anggaran Pemko saat ini tidak akan mungkin mampu mengatasi permasalahahan- permasalahan yang ada di Tanjungpinang, dan permasalahan- permasalahan masyarakat Lainnya.
“Saudari haruslah banyak-banyak bersyukur kepada Allah SWT karena amanah itu dipercayakan oleh masyarakat kepada Saudari, tentu seharusnya saudari harus mampu bertutur dan berperilaku secara bijak dengan mengunakan kata kata yang mencerminkan sebagai seorang pemimpin,” ungkapnya.
Lebih tajam, Lis kembali mengingatkan Wakil Wali Kota Tanjungpinang Rahma untuk tidak perlu merasa kalut ataupun alergi, bahkan mencari pembenaran terhadap lambannya dalam menyikapi permasalahan yang ada dan tumbuh dimasyarakat.
Lis menjelaskan, permasalahan genangan air yang terjadi di Kilometer 7, Jalan DI Panjaitan tersebut sudah sejak 30 Oktober 2018, genangan yang cukup tinggi memicu keluhan masyarakat atas lambannya penanganan permasalah tersebut, hingga akhirnya Kapolres kota Tanjungpinang mengambil sikap untuk menyikapi permasalah genangan di Kilometer 7.
“Padahal kalau perlu di ketahui Kapolres melakukan sesuatu yang Luar biasa di luar Tupoksinya sebagai Kapolres mengingat demi kepentingan dan kenyamanan masyarakat dan juga kawasan tersebut adalah jalan utama yang tentu sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat , ini belum lagi jika kita merasakan akibat dampak yang dirasakan oleh masyarakat yang berdomisili disekitar tempat genangan air di batu 7 tersebut,” ungkapnya.
Kendati menanggapi tudingan Rahma atas pembandingan mengenai cara kerja pemimpin mengatasi Banjir di Kilometer 7 disebut-sebut “Pemerintah Sebelumnya Pencitraan”, namun lis mengungkapkan salut dan memberikan apresiasi kepada Kapolres dan perangkat kelurahan dan kecamatan dan OPD yang membantu bapak Kapolres.
“Serta apresiasi juga saya sampaikan kepada masyarakat sekitar yang juga bahu membahu dalam menanganinya sementara permasalahan genangan yang ada di batu 7,” ujarnya.
“Saya juga mendoakan bagi semua yang turut andil turut serta membantu dan mendampingi Bpk. Kapolres pada saat itu diberikan ganjaran Pahala oleh Allah SWT,” tambahnya.
Baca Juga : Polisi dan Warga Berjibaku Atasi Banjir Kilometer 7
Lis juga menghimbau, sebagai salah satu bagian dari pada eleman masyarakat Kota Tanjungpinang yang dicintai ini dijauhkan dari segala macam bencana, dan masyarakat kota tanjungpinang selalu di berikan Keberkahan dan dilimpahkan Hidayah serta selalu mendapatkan kesejahteraan yang di ridho oleh Allah SWT.
Lis Kembali berpesan kepada Wakil Walikota Tanjungpinang, Rahma. “Saya berpesan dan saya nasehatkan (jika berkenan), karena saya sangat paham dan mengerti betul tentang saudari maka banyak-banyaklah belajar dan bacalah kembali UU 23 tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah,” pesannya.
Sementara untuk pernyataan Rahma disejumlah media sosial mengenai perbandingan cara kepemimpinan, Lis mengingatkan agar untuk lebih berhati-hati dalam mengutarakan pendapat.
“Sekali lagi berhati hatilah dalam menyampaikan Statemen-stastemen, lebih bijaklah dalam menggunakan kata dan kalimat karena saudari adalah seorang pemimpin ,yang akan menjadi panutan, serta jadikanlah setiap masukan, kritikan , sekalipun itu Hujatan adalah sebagai pembelajaran untuk selalu melakukan intropeksi dan juga masukan,” ungkapnya.
Menurut Lis, kritikan atau pun hujatan menjadi guru yang akan membimbing kita untuk menjadikan kita pemimpin yang akan lebih baik. Jadilah selalu pemimpin yang selalu ikhlas, istiqomah dan tawadu dalam kondisi apapun.
“Sehingga masyarakat akan melihat saudari sebagai sosok Pemimpin yang setiap ucapan saudari sama dengan perbuatan. Apalagi mengingat usia pemerintahan saudari baru seusia jagung, 46 hari,” pungkasnya.
Pewarta : Aji Anugraha
Editor : Abdul Atan Sulaiman







