Di Balik Gemerlap Songket Melayu, Baiq Tri Astuti Hudayani Persembahkan Marwah Kepri hingga Raih Best Catwalk IKWI 2026

Foto kolase : Sekretaris IKWI Kepri, Baiq Tri Astuti Hudayani, dalam penampilan busana Melayu dalam ajang Busana Adat Nusantara HUT IKWI Ke 65. Baiq Tri Astuti Hudayani mendapat juara Best Catwalk IKWI 2026. (Foto: pijarkepri.com ss/video)
Foto kolase : Sekretaris IKWI Kepri, Baiq Tri Astuti Hudayani, dalam penampilan busana Melayu dalam ajang Busana Adat Nusantara HUT IKWI Ke 65. Baiq Tri Astuti Hudayani mendapat juara Best Catwalk IKWI 2026. (Foto: pijarkepri.com ss/video)

BATAM – Ketika langkah anggun Baiq Tri Astuti Hudayani menyusuri pelataran Masjid Tanwirun Naja atau dikenal Masjid Tanjak mengenakan Busana Adat Nusantara dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-65 Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI), yang terpancar bukan sekadar pesona seorang perempuan Melayu.

Bersamanya, hadir marwah budaya, petuah leluhur, dan identitas Kepulauan Riau yang dibawa dengan penuh kebanggaan.

Bacaan Lainnya

Penampilan Sekretaris IKWI Provinsi Kepulauan Riau itu berhasil memikat perhatian dewan juri.

Balutan busana adat Melayu yang dikenakannya, dipadukan dengan penguasaan panggung dan kelembutan langkah, mengantarkannya meraih penghargaan Best Catwalk dalam ajang nasional yang diikuti perwakilan IKWI dari seluruh Indonesia.

Bagi Baiq Tri Astuti Hudayani, kemenangan itu bukan semata tentang gelar. Lebih dari itu, ia ingin menyampaikan bahwa setiap helai kain Melayu menyimpan kisah yang tak lekang oleh waktu.

Guru teladan di Kota Batam itu meyakini, busana adat Melayu bukanlah sekadar pakaian yang indah dipandang. Di balik lipatan kain, kilau songket, hingga setiap aksesori yang dikenakan, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Baju adat Melayu tidak lahir sekadar untuk memanjakan mata. Ia adalah bahasa yang tak bersuara; selembar hikayat yang ditenun dengan benang emas, dijahit dengan petuah para leluhur, lalu diwariskan kepada anak cucu,” tuturnya.

Baginya, baju kurung yang longgar dengan lengan panjang bukan hanya simbol estetika, tetapi pengingat bahwa kemuliaan perempuan Melayu lahir dari kesopanan dan kehormatan.

Dalam falsafah Melayu, rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan mahkota kemuliaan. Keindahan bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang ditampilkan, melainkan oleh kemampuan menjaga marwah diri.

Nilai itulah yang berpadu erat dengan ajaran agama yang menjadi tiang kehidupan masyarakat Melayu.

Songket yang berkilau keemasan pun memiliki kisahnya sendiri. Setiap benang emas adalah simbol doa, harapan akan keberkahan, kemuliaan, dan rezeki yang halal.

Di balik kilaunya, tersimpan ketekunan tangan-tangan penenun yang menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus modernitas.

Demikian pula warna kuning keemasan yang mendominasi busana Melayu. Warna itu sejak dahulu menjadi lambang daulat para raja, kehormatan, kewibawaan, dan marwah.

Sebuah pengingat bahwa kemuliaan sejati tidak pernah lahir dari kemewahan, melainkan dari keluhuran budi pekerti.

Tak ada satu pun aksesori yang dikenakan tanpa makna. Kerongsang menjadi perlambang menjaga kehormatan, mahkota dan sanggul menegaskan kedudukan perempuan sebagai permaisuri dalam keluarganya.

Tusuk sanggul mengajarkan ketelitian dan kesabaran, jurai melambangkan kelembutan hati, sedangkan gelang menjadi simbol doa dan restu orang tua agar setiap langkah kehidupan selalu berada dalam lindungan Sang Pencipta.

“Begitulah adat Melayu memaknai busana. Ia bukan sekadar pakaian, melainkan cermin kehidupan. Di dalamnya bersemayam tiga tiang yang tak boleh runtuh, iman, adat, dan marwah. Anggun pada rupa, kukuh pada jiwa. Mewah dalam makna, sederhana dalam laku. Beragama tanpa meninggalkan budaya, berbudaya tanpa meninggalkan agama,” ucap Baiq penuh penghayatan.

Prestasi yang diraih Baiq Tri Astuti Hudayani menjadi kebanggaan tersendiri bagi IKWI Kepulauan Riau dan keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam.

Di tengah derasnya arus globalisasi, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa budaya daerah tetap mampu berdiri tegak dan memancarkan pesonanya di panggung nasional.

Ketua PWI Kota Batam, Muhammad Khafi Ansyari, menyebut capaian itu bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kompetisi, melainkan kemenangan budaya yang berhasil diperkenalkan dengan elegan kepada Indonesia.

Menurut Khafi, penghargaan ini bukan hanya milik Baiq Tri Astuti Hudayani, tetapi menjadi kebanggaan seluruh keluarga besar PWI dan IKWI Kepulauan Riau.

Ia mengutarakan, ketika budaya diwariskan dengan hati, dipresentasikan dengan kecerdasan, dan dibawakan dengan penuh cinta, maka yang lahir bukan sekadar prestasi, melainkan penghormatan terhadap jati diri bangsa.

“Semoga capaian ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh anggota IKWI untuk terus menjaga budaya, menginspirasi generasi muda, dan mengharumkan nama Kepulauan Riau di panggung nasional,” ujar Khafi.

Di balik selembar songket yang berkilau, Baiq telah menunjukkan bahwa warisan budaya bukan hanya layak dikenakan, tetapi juga layak dibanggakan.

Dan di setiap langkah anggunnya di pelataran Masjid Tanwirun Naja, marwah Melayu ikut melangkah menyapa Indonesia. (Aji)

 

Pos terkait