Enam Gunung Api Erupsi Berdekatan, PVMBG Tegaskan Fenomena Independen

Gunung Anak Karakatau. (Foto: Wikipedia)
Gunung Anak Karakatau. (Foto: Wikipedia)

Jakarta, PIJARKEPRI.COM – Aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hingga awal September 2026, enam gunung api dilaporkan mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan, dengan ketinggian kolom abu yang bervariasi.

Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan keenam gunung tersebut mengalami peningkatan aktivitas dengan tingkat kewaspadaan yang berbeda. Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, misalnya, dilaporkan mengeluarkan kolom abu hingga sekitar 3.500 meter.

Aktivitas juga tercatat di Gunung Semeru, Jawa Timur, dengan kolom abu sekitar 1.000 meter. Sementara itu, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur menunjukkan aktivitas dengan kolom abu sekitar 600 meter.

Di Maluku Utara, Gunung Ibu masih mengalami erupsi secara periodik dengan kolom abu sekitar 400 meter. Adapun aktivitas erupsi dan sebaran abu juga teramati di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda serta Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah gunung tersebut berada pada status Level III atau Siaga, yakni Gunung Sinabung, Semeru, Ibu, Anak Krakatau, dan Lewotobi Laki-laki. Gunung Ili Lewotolok berada pada Level II atau Waspada dan masih dalam pemantauan.

Meski terjadi hampir bersamaan, rangkaian erupsi tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antargunung. PVMBG menegaskan setiap gunung api memiliki sistem dapur magma dan karakteristik aktivitas vulkanik masing-masing sehingga erupsi satu gunung tidak secara otomatis memicu erupsi di gunung lainnya.

Fenomena tersebut juga tidak terlepas dari kondisi geologi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, sehingga aktivitas vulkanik merupakan salah satu ancaman bencana yang terus dipantau.

Peningkatan aktivitas di sejumlah gunung api itu mendapat perhatian pemerintah dan lembaga negara. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) turut mendorong penguatan kesiapsiagaan nasional, termasuk mempercepat penyiapan jalur logistik dan kebutuhan pengungsian di daerah yang berpotensi terdampak.

PVMBG mengingatkan masyarakat di sekitar kawasan gunung api untuk tidak mendekati zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya. Warga juga diminta mematuhi radius aman berdasarkan rekomendasi pos pengamatan gunung api setempat.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak hujan abu disarankan menggunakan masker atau pelindung mulut dan hidung untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Warga juga diminta tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Perkembangan aktivitas gunung api dapat dipantau melalui kanal resmi pemerintah, termasuk aplikasi Magma Indonesia dan informasi yang disampaikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dengan aktivitas vulkanik yang terus berubah, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti setiap arahan petugas di lapangan. (ANG/NET)

Pos terkait