Batam, PIJARKEPRI.COM – Dinamika komunikasi antara Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, dengan insan pers mendapat perhatian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kepulauan Riau.
Kedua organisasi pers tersebut mengajak wartawan menyikapi setiap pernyataan maupun gaya komunikasi Li Claudia secara jernih, proporsional, dan profesional, tanpa mengabaikan independensi serta fungsi kontrol sosial pers.
Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, didampingi Wakil Sekretaris Muhammad Ikhsan, mengatakan dinamika komunikasi antara pejabat publik dan pers seharusnya menjadi ruang untuk membangun kedewasaan bersama dalam menjalankan fungsi masing-masing.
Menurut Saibansah, pers yang matang bukan pers yang menghindari kritik maupun perbedaan pandangan, melainkan mampu memilah substansi persoalan secara objektif dengan tetap mempertahankan daya kritis.
“Kita perlu melihat dinamika ini secara jernih dan proporsional. Pers tetap memegang teguh independensi dan fungsi kontrol sosialnya, namun di saat yang sama, komunikasi dengan penyelenggara negara harus diletakkan dalam koridor mutual respect dan profesionalisme yang tinggi,” ujar Saibansah, Sabtu (29/8/2026).
Sementara itu, Ketua SMSI Kepri, Aldi Samjaya, didampingi Kepala Bidang Antar-Lembaga SMSI Kepri, Nov Iwandra, menilai gaya komunikasi Li Claudia dapat dilihat dari sisi positif sebagai karakter kepemimpinan yang tegas, spontan, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan.
Aldi menyebut gaya komunikasi tersebut sebagai kepemimpinan yang lugas dan tanpa banyak basa-basi.
“Gaya komunikasi Bu Li Claudia ini unik dan bernuansa kepemimpinan ala emak-emak: lugas, tanpa basa-basi, dan ingin pekerjaan beres dengan sempurna. Kadang, untuk mengakselerasi pembangunan kota sekompleks Batam, kita memang membutuhkan sosok pemimpin yang berani dan ceplas-ceplos seperti beliau,” katanya.
Namun, menurut Aldi, karakter komunikasi pejabat publik tetap perlu ditempatkan dalam ruang komunikasi yang sehat dengan media agar perbedaan gaya tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu hubungan pemerintah dan pers.
Di sisi lain, Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan upaya membangun komunikasi lebih dekat dengan media merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat hubungan dengan insan pers.
Perempuan yang akrab disapa Tuty itu menegaskan, komunikasi tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kritik atau mengintervensi kerja jurnalistik.
“Ibu Li Claudia ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan media. Silaturahmi ini bukan untuk membatasi ruang kritik, tetapi justru membuka ruang dialog agar pemerintah dan media bisa saling mendengar dan memahami,” ujar Tuty.
Ia menegaskan pers tetap memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Karena itu, kritik terhadap pemerintah justru dibutuhkan sebagai bagian dari evaluasi kebijakan.
Namun, Tuty berharap kritik yang disampaikan melalui pemberitaan tetap dibangun berdasarkan prinsip jurnalistik, terutama akurasi, verifikasi, konfirmasi, data, dan keberimbangan.
“Kritik yang kuat justru lahir dari proses jurnalistik yang kuat, ada verifikasi, konfirmasi, data, dan keberimbangan. Kami tidak membutuhkan media yang hanya memuji pemerintah. Kami membutuhkan media yang kritis dan profesional. Kalau kritiknya berdasarkan data, tentu itu menjadi bahan penting bagi kami untuk berbenah,” tegasnya.
PWI dan SMSI Kepri menilai komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan pers penting untuk mencegah kesalahpahaman sekaligus menjaga kualitas informasi publik.
Relasi pemerintah dan media, pada akhirnya, bukan soal siapa yang harus mengalah atau siapa yang paling benar.
emerintah memiliki kewajiban membuka informasi dan menerima kritik, sementara pers berkewajiban menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen dan bertanggung jawab.
Komunikasi yang sehat diharapkan tidak mengurangi daya kritis pers maupun kewenangan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun atas dasar keterbukaan, profesionalisme, dan saling menghormati dapat memperkuat ekosistem informasi publik di Batam dan Kepulauan Riau.
Pewarta: Aji Anugraha







