DLH Dalami Dugaan Pencemaran Limbah B3 PT Panca Rasa Pratama

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tanjungpinang, Riono. (Foto: Aji Anugraha/doc_pijarkepri.com)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tanjungpinang, Riono. (Foto: Aji Anugraha/doc_pijarkepri.com)

PIJARKEPRI.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di Tanjungpinang, Kepulauan Riau tengah mendalami dugaan pencemaran lingkungan dari limbah B3 PT Panca Rasa Pratama, di RW8 Kelurahan Air Raja.

Kepala DLH Tanjungpinang, Riono, dihubungi, Sabtu (19/11) mengatakan, telah mengambil sejumlah sampel air limbah yang mengalir di saluran -saluran drainase lingkungan warga RW8 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang itu.

“Kami lebih dulu mengambil sampel air di got yang diduga limbah itu untuk diuji laboratorium. Dengan keterbatasan alat nanti akan kami simpulkan hasilnya seperti apa,” kata Riono.

Baca Juga : Warga Lapor Pencemaran Limbah B3 Perusahaan Teh Prendjak ke Polisi

Menurutnya, sample warna merah dari air limbah yang diambil di saluran drainase warga menunjukkan sudah terjadi pencemaran. Namun, Riono belum dapat memastikan kandungan dalam air tersebut apakah berbahaya.

“Yang nama pencemaran berbahaya. Tapi jika dilihat kondisi fisiknya, air berwarna itu hilang setelah air baru masuk. Artinya tidak menetap. Tidak seperti di Jawa yang sampai ikan mati dan sebagainya,” kata Riono.

“Yang jelas saya belum menerima hasil uji sampel air limbah yang sudah tim kami ambil. Kita tunggu hasilnya,” tambahnya.

Warga RW.8 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur saat menunjukkan air berwarna coklat diduga limbah B3 dari PT. Panca Rasa Pratama yang mengaliri drainase warga, Kamis (17/11/2022)
Warga RW.8 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur saat menunjukkan air berwarna coklat diduga limbah B3 dari PT. Panca Rasa Pratama yang mengaliri drainase warga, Kamis (17/11/2022)

Riono menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan dari PT Panca Rasa Pratama bahwa terjadi kebocoran pipa produksi beriringan dengan pengaduan warga kepadanya soal dugaan pencemaran limbah B3.

“Dari awal saya sudah mendapat laporan pihak perusahaan memberitahu ada pipa produksi mereka yang pecah, sehingga mencemari lingkungan masyarakat, dan kami sudah mengirimkan tim untuk turun langsung ke lokasi,” kata Riono.

Ia memastikan PT Panca Rasa Pratama memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berdasarkan izin UKL dan UPL yang DLH terima dari mereka untuk keperluan produksi.

Kendati demikian, DLH Tanjungpinang tetap mengarahkan PT Panca Rasa Pratama untuk menambah IPAL baru agar menghindari segala kemungkinan yang dapat terjadi, semisal pencemaran lingkungan.

“IPAL dari dokumen UKL dan UPL mereka ada, tapi nanti kami menganjurkan mereka untuk penambahan pembuatan IPAL, sehingga jika terjadi pecah pipa saat produksi mereka tidak langsung ke saluran drainase masyarakat,” kata Riono.

PT Panca Rasa Pratama Akui Pipa Produksi Kecap Asin Bocor

Pihak PT Panca Rasa Pratama, Mustardi, dihubungi mengatakan, telah menerima persoalan laporan warga ke Polresta Tanjungpinang terakit dugaan pencemaran limbah B3 tersebut.

Ia memastikan perusahaan akan memenuhi undangan warga untuk menyelesaikan persoalan dugaan pencemaran limbah tersebut.

“Kami sudah mendapatkan undangan dari kelurahan untuk pertemuan dengan warga dan media nanti akan kami panggil juga agar dapat meluruskan permasalahan yang terjadi,” katanya.

Ia mengatakan persoalan air yang mencemari lingkungan warga tersebut terjadi dikarenakan pipa produksi kecap asin PT Panca Rasa Pratama mengalami kebocoran, dan dinilai tidak berbahaya.

“Air itu tidak berbahaya kok, itu kan air bahan makanan, konsumsi jadi tidak berbahaya,” dalihnya.

Warga Lapor Pencemaran Limbah B3 Perusahaan Teh Perenjak ke Polisi

Sebelumnya Sejumlah warga dan lurah Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, melaporkan pencemaran limbah B3 diduga dari Perusahaan Teh Prendjak di daerah itu, ke Polresta Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Lurah Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Ibnu Roji, di Tanjungpinang, Jumat (18/11) mengatakan, pengaduan ke Polresta Tanjungpinang tersebut, buntut dari laporan warga RW.1 dan RW.8 Kelurahan Air Raja kepadanya.

Warga disekitar lingkungan PT. Panca Rasa Pratama yang merupakan perusahaan produksi teh kemasan prendjak dan sejumlah prodak minuman lainnya itu diduga membuang limbah produksi ke saluran drainase pemukiman penduduk.

Dampak dari limbah tersebut, bau yang tidak sedap melanda sejumlah pemukiman penduduk RW.1 dan RW.8 Kelurahan Air Raja. Keluhan warga soal limbah tersebut diterima kelurahan 2 kali dalam setahun.

“Harapan kami hal ini tidak berulang ulang kembali karena sudah menjadi titik jenuh masyarakat, dan ini sudah sekian kalinya, laporan warga dua kali dalam 1 tahun,” kata Ibnu Roji, di Polresta Tanjungpinang.

Ketua RW 8 Kelurahan Air Raja, M. Muslim, mengatakan, kerap menerima keluhan warganya atas persoalan limbah B3 PT Panca Rasa yang mengalir di saluran drainase pemukiman penduduk tersebut.

Ia mengatakan, perusahaan dan rukun tetangga (RT) di RW.8 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur sering melakukan pertemuan untuk menyelesaikan persoalan limbah tersebut. Namun, pertemuan itu tidak membuahkan hasil.

“Di lokasi limbah itu ada sekitar ratusan warga. Warga mengeluhkan bau dari limbah, dan dimana tempat limbah ini merupakan tempat aktivitas warga, apalagi ketika air laut naik,” katanya.

Sebelumnya, Polda Kepri sempat menyegel pabrik PT Panca Rasa Pratama di Tanjungpinang, pada 26 Februari 2019. Subdit IV Kriminal Khusus mengendus aktivitas tak lazim pembuangan limbah perusahaan yang berada di Km 8, Jl DI Panjaitan, Tanjungpinang itu.

Hasil penyelidikan terindikasi kuat pengolahan limbah berupa oli yang membahayakan lingkungan. Limbah tersebut dibuang ke parit dan tidak adanya tempat penampungan dan pengelolaan selama ini.

Direkrimsus Polda Kepri, Kombes Pol Rustam Mansur menjelaskan jika penindakan ini dilakukan terkait pelanggaran undang-undang lingkungan hidup dan sumber daya air.

“Limbah dibuang ke selokan dan tidak ada tempat pengelolaan. Sumber air berasal dari sumur bor (air dari tanah) untuk memproduksi beberapa produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan pemilik atas nama Bandi tersebut,” terang Rustam, saat itu.

(ANG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *