Seniman Menyayangkan Pemerintah Kurang Peduli Soal Perlindungan Cagar Budaya

Bangunan beton berdiri di Cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong/Vihara Bahtra Sasana, di Jalan Merdeka, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (11/9/2019). (Foto : ang)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Para seniman di Tanjungpinang, Kepulauan Riau sangat menyayangkan peran serta pemerintah di kota itu dinilai kurang peduli soal pelestarian cagar budaya du kota itu.

Padahal banyak cagar budaya dan kawasan situs bersejarah di kota itu sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Walikota Tanjungpinang Nomor 278 tahun 2014, namun dinataranya terabaikan, bahkan sampai pemugaran yang dinilai tidak sesuai.

Sejumlah pegiat seniman pelestari kesenian dan kebudayaan di kota Tanjungpinang angkat bicara soal pembiaran pemerintah setempat mengenai pemugaran cagar budaya yang tak sesuai mekanisme itu, bahkan tak memberikan perlindungan

Salah satu pembiaran itu yakni, pemugaran Cagar Budaya Klenteng Tien Hou Kong atau Vihara Bahtra Sasana, di Jalan Merdeka, Tanjungpinang yang hingga saat ini sudah di pugar pihak pengelola diduga tanpa melihat aspek historis.

Para seniman fotografi di kota itu mengakui keaslian cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong memiliki nilai tersendiri bagi wisatawan, baik dalam negeri mau pun luar negeri.

Seniman foto street photography Kota Tanjungpinang, Daeng Firman Afriansyah, mengutarakan ungkapan kecewa terhadap kondisi pemugaran cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong.

Pria yang kerap mondar mandir mengoprek foto kebudayaan di Tanjungpinang itu mengakui cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong salah satu spot foto para wisatawan dalam negeri mau pun luar negeri.

“Sangat disayangkan, keaslian bangunan sudah tidak ada lagi,” kata pria yang akrab disapa Rian itu.

Baca Juga : Soal Cagar Budaya Dirusak, Gubernur : Kalau Itu Menyalahi Aturan Kita Setop

Firman mengatakan, melihat kondisi pemugaran dengan merubuhkan sejumlah bangunan, mengubah keaslian cagar budaya hingga melaporkan adanya pembanguan di situs cagar budaya ratusan tahun tersebut, ke Disbudpar Kota Tanjungpinang, Agustus 2018 lalu.

“Saya berada di vihara itu dan cukup terkejut menyaksikan langsung pembongkaran cagar budaya itu. Perlu diketahui, cagar budaya itu salah satu spotfoto yang ada di kota tua. Karena keasliannya terjagalah banyak fotografer lokal bahkan dari luar kota datang hanya untuk mengambil foto disitu,” ungkapnya.

Dia sudah menyoalkan proses pemugaran cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong ke Bidang Cagar Budaya Dibudpar Tanjungpinang.

Kendati sudah melapor, Disbudpar mengaku pemugaran cagar budaya tersebut sudah mendapatkan izin (rekomendasi) untuk pemugaran.

“Jadi saat itu saya pasrah saja, walaupun merasa sedih juga. Tetapi sekarang menjadi heboh, karena menyalahi aturan. Artinya sudah satu tahun pemugaran yang tidak sesuai aturan ini, dibiarkan,” ujar Firman.

Senada disampaikan Ketua Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) Kepulauan Riau, Andre Mediansah mengungkapkan, sangat menyayangkan cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong merupakan salah satu icon Kota Tanjungpinang.

Menurutnya, salah satu objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan dengan keasliannya. Jika bangunan itu dirubah dari bentuk aslinya, akan menimbukan kerancuan, apakah cagar budaya itu asli atau tidak.

“Sangat disayangkan itu adalah salah satu icon kota Tanjungpinang, apa lagi sekarang, ketika di rubah keasliannya hilang, akan menurunkan tingkat kunjungan wisata,” ujarnya.

Cagar budaya Klenteng Tien Hou Kong atau Vihara Bahtra Sasana, di Jalan Merdeka, Tanjungpinang merupakan satu dari beberapa cagar budaya dan situs bersejarah di Kota Tanjungpinang.

Saat ini pengelola cagar budaya itu tengah memugar bagian tengah bangunan itu, dan sebagian atap berukiran naga yang menjadi ciri khas kelenteng itu juga dilepaskan, padahal bebatuan itu tak sama sekali keropos.

Kepala Bidang (Kabid) Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang, Meitya Yulianty mengatakan dari hasil kesepakatan semua pihak terkait disepakati untuk mengembalikam kebentuk semula. Walaupun dengan bahan bangunan yang berbeda, baik itu bangunan, ukiran dan furniture yang ada didalam bangunan cagar budaya tersebut.

“Barang-barang seperti meja dan lainnya masih disimpan. Untuk pembangunan fisiknya dihentikan sementara hingga menunggu hasil kajian kelayakan dari BPCB. Tentunya dalam pemugaran nanti didampingi tim ahli. Yang penting kita tetap berusaha menjaga keasliannya,” ungkapnya.

Pewarta : Aji Anugraha
Editor : Alashari

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top