Diskominfo : Pertumbuhan E-Commerce Mempengaruhi Sistem Perdagangan Konvensional

Aktivitas pasar kota lama Tanjungpinang yang masih ramai dikunjungi masyarakat Tanjungpinang. (Foto: Aji Anugraha)

Aktivitas pasar kota lama Tanjungpinang yang masih ramai dikunjungi masyarakat Tanjungpinang. (Foto: Aji Anugraha)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang -Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang mengamati pertumbuhan e-commerce, perdagangan elektronik, atau lebih lazim disebut dengan jual beli online secara umum mempengaruhi transaksi belanja konvensional di daerah itu.

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Saluran Komunikasi Publik Diskominfo Kota Tanjungpinang Teguh Susanto, di Tanjungpinang, Senin mengatakan semakin tinggginya e-commerce atau belanja online berdampak pada transaksi belanja langsung, penjualan ritel dan pasar tradisional.

“Belanja online, menawarkan banyak kemudahan kepada masyarakat. Terlebih saat ini banyak situs belanja online yang semakin dipercaya konsumen. Hal ini tentu saja berdampak kepada tingkat pendapatan, atau transaksi pada toko-toko ritel dan pasar tradisional,” ujarnya.

Teguh mengutarakan, sebagai contoh pusat perbelanjaan barang elektronik terkenal seperti Glodok, di Jakarta bahkan terkena dampak meningkatnya pertumbuhan e-commerce di Indonesia.

Menurutnya, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap belanja daring ini membuat masyarakat konsumen lebih memilih belanja secara online, karena menawarkan banyak kemudahan.

Sementara di Tanjungpinang, lanjutnya, terkait dengan informasi mengenai tutupnya beberapa toko di Jalan Merdeka Tanjungpinang, Menurut Teguh, selain dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan e-commerce, tutupnya toko-toko konvensional di Jalan Merdeka juga dipengaruhi oleh terjadinya perpindahan penduduk secara signifikan ke kawasan Timur Kota Tanjungpinang.

“Banyak faktor yang menyebabkan kenapa beberapa toko di Jalan Merdeka tutup. Selain adanya perubahan pola dan gaya hidup masyarakat yang beralih kepada belanja online, perpindahan kepadatan penduduk ke kawasan Timur, dan tingginya ketergantungan perekonomian daerah kepada dana APBD ikut menyebabkan kurang bergairahnya perekonomian di kawasan kota lama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini pusat perekonomian Kota Tanjungpinang, bisa dikatakan telah pindah dari kawasan Kota Lama ke kawasan Kecamatan Tanjungpinang Timur.

Perdagangan di kawasan Bintan Center dan sekitarnya, kini bahkan tetap terjadi hingga larut malam, menurutnya hal ini Bertolak belakang dengan kondisi di kawasan kota lama.

Pemerintah Kota Tanjungpinang sendiri, lanjutnya, tetap berupaya menyusun berbagai program dan kebijakan untuk meningkatkan kembali aktivitas perekonomian kawasan kota lama.

Salah satu program pemerintah adalah dengan membuka kawasan Tandjongpinang Night Market setiap hari mulai pukul 17.00 WIB, sampai tengah malam sejak 15 Januari 2018 lalu.

“Namun ke depan program tersebut diharapkan mampu memancing geliat ekonomi kota lama,” ujarnya.

Pada rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang awal Februari lalu, Pj. Walikota Tanjungpinang Raja Ariza mengatakan perekonomian Kota Tanjungpinang sangat tergantung pada APBD.

Sehubungan dengan itu, Raja Ariza juga telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah untuk segera melaksanakan kegiatan yang dibiayai melalui APBD Kota Tanjungpinang Tahun 2018.

Sebelumnya Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Drs. Riono telah mengeluarkan instruksi tentang percepatan pelaksanaan program/kegiatan tahun anggaran 2018 melalui Surat Nomor 050/106/1/2/02/2018 tertanggal 29 Januari 2018.

Pemerintah kota, lanjutnya, sangat menyadari jika perekonomian daerah sangat tergantung pada perputaran uang yang terjadi setelah pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui dana APBD. Sekretaris Daerah bahkan sampai mengeluarkan instruksi kepada seluruh OPD untuk segera melaksanakan program dan kegiatan yang dibiayai APBD.

Mengenai sistem perparkiran paralel yang diterapkan di Jalan Merdeka dan sekitarnya, yang juga dianggap sebagai penyebab tutupnya beberapa toko, menurut Teguh perlu pengkajian tersendiri. Meski demikian, pemerintah Kota Tanjungpinang sendiri sebelumnya telah menerima berbagai laporan dan permintaan masyarakat agar sistem parkir di Jalan Merdeka dan sekitarnya dikembalikan menjadi menyerong.

“Hal ini juga telah menjadi masukan kepada pemerintah untuk dipertimbangkan. Namun apakah sistem perparkiran paralel yang dianggap menjadi penyebab tutupnya beberapa toko, tentu saja perlu ada pembahasan atau penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

Pewarta : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top