
SIAPA orang paling berpengaruh terhadap suksesnya perjalanan karir seseorang? Ada yang menjawab “ibuku”. Dan, tak sedikit pula yang menyebut “istriku”. Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada, Lis Darmansyah, dia akan menjawab kedua-duanya.
“Almarhumah ibuku Hj. Siti Halimah Tunsa’diah binti Muhammad Bachry dan istriku Yuniarni Pustoko Weni merupakan jantung hatiku. Merekalah yang memberikan kekuatan dalam setiap langkahku,” katanya spontan.
Memang sulit terbantahkan bila ada yang menyebut bahwa “ada peran wanita di balik suksesnya seorang pria.” Artinya kesuksesan seorang pria tidak hanya ditentukan oleh mengkilatnya langkah yang dilakoninya, namun juga bagaimana dia mampu mendampingi pasangan hidupnya dalam mengarungi kehidupan dalam suka dan duka.
Bagi Lis, almarhumah ibunya dan istrinya merupakan wanita bermental baja yang gigih dan tekun dalam mendukung setiap karir dan profesinya di tengah masyarakat. Bahkan, dalam melayani masyarakat, kedua orang yang sangat istimewa di matanya ini sering melupakan kepentingan dirinya sendiri. Sungguh luar biasa!
Mengacu kepada perjuangan dan ketegaran almarhumah ibunya, Lis membangun rumah tangga bersama Weni – sapaan istrinya tercinta dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab. Dalam mengatur rumah tangganya, Lis dan Weni berbagi tugas. Mereka berdua terikat dalam sebuah komitmen yang kuat untuk menciptakan keluarga harmonis.
Dalam catatan Lis, almarhumah ibunya merupakan wanita Melayu berdarah Jawa. Bila dilacak ke atasnya, almarhumah ibunya yang lahir pada 11 Agustus 1925
masih masuk dalam keturunan Pengeran Diponegoro salah seorang pahlawan nasional yang terkenal itu.
“Sewaktu masih berumur belasan tahun, almarhumah ibu saya ikut berjuang sebagai perawat kurun waktu 1941 – 1943. Dia bertugas di daerah Wonosobo (Jawa Tengah) dan terlibat dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda. Perannya waktu itu sebagai anggota Palang Merah Indonesia.
Pada waktu itu, almarhumah ikut mendampingi pasukan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Setelah terlibat dalam perang gerilya, almarhumah bekerja di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) di Semarang dan meminta untuk pindah tugas ke RSAD Tanjungpinang yang saat ini menjadi RSAL dr. Midayato S.
Sampai pada 1970, almarhumah ibunya masih bekerja sebagai perawat di RS AD Tanjungpinang sampai akhirnya mengundurkan diri karena suaminya jatuh sakit. Karena terlibat langsung sebagai perawat dalam perang gerilya, almarhumah menerima “bintang gerilya” dari pemerintah Indonesia.
Banyak orang yang tidak tahu tentang hal ini jika saja sang anak (Lis Darmansyah, red) tidak menyampaikan riwayat hidup ibundanya kepada khalayak yang ikut melayat ke rumah duka waktu itu.
Menurut Lis, almarhumah ibunya tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan panjang republik ini dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan juga menjadi simbol kesederhanaan dan suri teladan bagi masyarakat yang mengenangnya dengan baik.
Budi baik dikenang sepanjang masa, begitu juga pola hidup sederhana yang diterapkan almarhumah ibunya dalam berumah tangga patut menjadi cerminan bagi generasi penerus bangsa saat ini.
Sebagai sosok pejuang, “Taman Makam Pahlawan” adalah tempat peristirahatan terakhir yang pantas untuk mengenang jasa-jasa almarhumah ibunya. Namun kata Lis, keluarga besarnya sepakat memakamkan orang yang mereka cintai itu di pemakaman keluarga. Itulah pilihan keluarga. Lis tidak ingin berpisah dengan ibunya – kendati ibunya sudah di kandung tanah.
“Di pusara Ibu saya akan tetap mengantar doa,” ujar Lis.
Hidup seperti air Sang ibu juga selalu memberikan pemahaman kepada Lis bersaudara agar membiarkan hidup ini berjalan dengan apa adanya, seperti air tetap mengalir. Air di manapun mengalir, akan tetap bermanfaat.
Bagi Lis, almarhumah ibu dan istrinya merupakan sumber inspirasi dan motivasi hidupnya. Jejak perjalananan hidupnya yang penuh lika-liku juga tak lain diabadikan untuk sang ibu.
Sewaktu ibunya masih hidup setiap pulang ke rumah sang ibu, ia selalu melakukan hal yang tak pernah terbayangkan oleh anak-anak pada zaman sekarang. Duduk bersimpuh mencium kaki ibunya sebelum mencium tangan ibunya dengan penuh khidmat.
Kedekatan Lis dengan sang ibu tak lepas dari garis tangan Allah SWT. Ketika berusia empat tahun, ia ditinggal pergi selama-lamanya oleh sang ayah tercinta. Bahkan sampai saat ini Lis tidak pernah mengenal dengan baik sosok ayahnya, karena masa-masa bersama ayahnya H. Umar Malin Malelo hanya empat tahun.
Otomatis setelah sang ayah pergi untuk selamanya, ibulah yang mengambil alih seluruh tanggungjawb keluarga, membesarkan sebelas orang anak yakni Bambang Supriadi, Didiek Sutrisno, Siti Riausani, Djoko Suryanto, Titik Marjulin, Ratna Rio Indrawati, Apri Rio Risnadi (alm), Bambang Juli Budiarso, Yan Fitri Halimansyah, Lis Darmansyah, dan Linda Yana Kurnia Putri.
Karena itu tak ada pilihan lain bagi sang ibu kecuali mendidik 11 anak secara keras agar mereka mandiri dan tak cengeng menghadapi hidup.
Memberikan Cahaya
Sementara Weni mengatakan, sebagai kepala rumah tangga, suami tercintanya itu selalu memberikan cahaya dalam kehidupan mereka. Kasih sayangnya tumpah kepada kami sekeluarga.
“Doa saya dan anak-anak semoga suami saya mampu menjalankan amanah yang diembankan masyarakat Tanjungpinang kepadanya,” ujar Weni.
Menurut Weni, suaminya itu selalu punya keinginan membantu menyelesaikan setiap permasalahan. Namun sebagai manusia, terkadang dia juga sering lupa. “Wajarlah begitu banyak yang dijanjikan tak sempat dicatat, abang menyesal. Disinilah peran saya sebagai seorang istri memberikan semangat kepada suami tercinta,” ujar Weni seraya mohon maaf atas kealpaan suaminya dalam menunaikan janjinya.
Sementara bagi Raja Noi Kamaria, yang tak lain Ibu dari Weni, Lis merupakan menantu yang gigih berjuang untuk keluarganya dan untuk masyarakat yang dipimpinnya.
Lis juga mampu menjadi imam untuk anaknya (Weni, red) dan ke empat cucunya Dhiya Shafa Abilla, Dhiya Rio Khanza Nabila, Dhiya Ananda Zilfa Salsabilla, dan Dhiya Shalahudin Abdurahman Syah.
“Sebagai muslim, Lis juga tak mengenyampingkan salat lima waktu,” ujar Kamaria yang mengaku dalam setiap waktu dan kesempatan dirinya selalu mendoakan Lis selalu sehat. karena dia kurang istirahat.
Bagi Noi – sapaan akrab Kamaria, Lis merupakan sosok pekerja keras dan tak kenal lelah untuk meraih sesuatu. Semisal untuk menghidupi keluarganya, bersosialisasi, dan saling membantu sesama.
“Saya melihat itu, dia pekerja keras, gigih, bahkan hingga saat ini,” ujarnya.
Soal pandangan orang yang menyebut Lis, seorang tempremental dan mudah emosi, Noi mengatakan, itu anggapan yang keliru dan perlu diluruskan. Orang mungkin hanya melihat dari luarnya saja. Lis itu santun kepada yang lebih tua, seusia, bahkan yang lebih muda darinya.
Dia bisa memposisikan diri dimana dia berada. Noi tak mengajak siapa pun untuk memilih Lis lantaran menantunya yang sudah merupakan bagian dari keluarganya. Hanya saja, dia berharap masyarakat Tanjungpinang perlu melihat perubahan apa yang terjadi di Kota Tanjungpinang semasa Lis memimpin. (Aji Anugraha)







