IWO Sorot Kelestarian Budaya Melayu di Pulau Penyengat

Umat muslim saat beribadah di masjid raya sultan riau lingga di pulau penyengat.foto pijarkepri.com

Umat muslim saat beribadah di masjid raya sultan riau lingga di pulau penyengat.foto pijarkepri.com

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Ikatan Wartawan Online (IWO) menyorot tajam kemajuan dan perkembangan budaya di Pulau Penyengat, Tanjungpinang yang tergerus oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Ketua Umum IWO, Jodhi Yudono setibanya di Pulau penuh sejarah kerajaan Riau Lingga itu terkejut dengan kemegahan peninggalan para Raja Haji Fisabillah, yang dipertuan muda Kesultanan Riau Lingga pada masa itu.

Ukiran kokoh masjid Sultan Riau Lingga menjadi pertanda bagi siapapun yang masuk dari penjuru negeri, kalau saja sejarah melayu dimualai dari tempat ini.

“Sungguh indah Pulau Penyengat,” katanya siang itu.

Mas Jo, panggilan akrabnya berkesempatan sholat dzuhur di masjid Pulau Penyengat, melihat Al-Quran tulis tangan, peninggalan Kesultanan Riau Lingga.

Ia berkunjung kemakam Raja Haji Fisabillah dan Raja Ali Haji Fisabillah, pengarang Gurindam 12, berdoa dimakamnya, sebagai tanda menghormati jasa para pahlawan bahasa Indonesia.

Becak motor mengantarkan dia menjajaki sejumlah pemakaman kerabat para Raja, hingga melihat sejumlah perkantoran pemerintahan Kesultanan semasa dahulu.

“Semua sudah tersusun, seperti kesultanan Aceh dan Jogjakarta. Sangat disayangkan kalau tidak dijaga dengan baik,” ujarnya.

Josdi kemudian mengunjungi Bilik Engku Putri Tengku Hamidah, sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh, tempat dahulu kala Engku Putri Hamidah berdendang ria dan tempat para berkumpulnya para penyair sema itu.

Jodhi bertemu dengan teman lamanya, Tengku Fahmi yang masih keturuan Kesultanan Riau Lingga. Tak bisa dibayangkam mereka saling memandang sebab hampir 12 tahun pertemuan di Jakarta kini terulang kembali.

Fahmi yang gemar bermusik dan kental akan sejarah melayu Riau Lingga menjelaskan sedikit tentang silsilah kerajaan dan tihta Kesultanan Riau Lingga.

“Banyaj bangunan yangvtak sesuai kontruksinya di bangun kembali tanpa melihat bentuk aslinya, ini salah,” kata Fahmi sembari menunjukkan artefak, dokumen peninggalan buyutnya terdahulu.

Ketua Umum IWO Jodhi Yodono mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak adil terhadap Pulau Penyengat.

Saat saya berkunjung ke pulau penyengat dan bertemu ahli waris sultan, Tengku Fuat, beliau mengatakan pemerintah Indonesia tidak adil terhadap mereka karena beberapa kesultanan di Indonesia betul-betul dinasti atau peninggalannya dirawat hingga sekarang.

“Kita lihat saja seperti di Aceh dan Jogja di sematkan sebagai kota istimewa di dalamnya, jika mau adil seharusnya pulau penyengat ini juga di berikan daerah istimewa,” ucapnya

Ia menilai bahwa pulau penyengat ini mempunyai Drajat yang sama yakni kesultanan dengan daerah istimewa lainya di Indonesia.

Selama mengunjungi pulau penyengat Jodhi mendapatkan pengalaman spiritual yang luar biasa.

“Ini merupakan pengalaman spiritual bagi saya karena dapat mengunjungi makan Raja Ali Haji Bapak Bahasa Indonesia yang selama ini saya kagumi,” ungkapnya

Selain itu lanjutnya, saya juga berziarah ke makam Raja Haji Fisabilillah dan Engku Putri (Raja Hamidah).

Pulau Penyengat, lanjutnya merupakan saksi sejarah dari perjalanan kawasan Kepulauan Riau khususnya karajaan Riau Lingga,” kata Jodhy yang juga merupakan pengiat sejarah

Jodhi merasa prihatin dan sedih melihat peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Penyengat ini tidak terawat dengan baik.

Ia berharap kepada pemerintah daerah maupun pusat agar dapat menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat luar biasa ini. (ANG)

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top