Ekspedisi Kepri Biru “Bunda Tanah Melayu”

Foto : (Kiri) Aji Anugraha, (Tengah) Beri Kurniawan, (Kanan) Arie Sunandar.

Foto : (Kiri) Aji Anugraha, (Tengah) Beri Kurniawan, (Kanan) Arie Sunandar.

KAMI menamai perjalanan ini Ekspedisi Kepri Biru. Bukan hendak bermaksud berafiliasi dengan golongan atau partai apapun.

Kata ‘biru’ yang melekat pada perjalanan ini lebih dikarenakan bentang demi bentang laut yang harus diseberangi dari hari ke hari. Lima kabupaten, dua kota, kami menjelajah bertiga. Kami yakin, keindahan Kepri adalah keniscayaan. Kami tidak melulu percayapada cerita orang. Kami ingin mengalami keindahan itu dengan jiwa kami sendiri. Meresapkan kehangatan keramahan orang-orang yang kami temui ke dalam dada. Dari Tanjungpinang, ke Bintan, lanjut ke Lingga, terus ke Karimun, menyeberang jauh hingga ke Anambas dan Natuna.

Lelah yang mulai merasuk ke sekujur tubuh bukan hal yang kami sesali. Justru, dalam setiap langkah ekspedisi ini, kami akan menyesal sejadi-jadinya jikalau ada kabar baik, deret keindahan, yang alpa kami bagikan.

Sekarang, kami percaya, keindahan Kepri itu bukan bualan belaka, tapi ada senyata-nyantanya bagi mereka yang mau menjemputnya.

Gendong tas ransel, angkat kamera, dan bagikan keindahan daerahtercinta ini kepada dunia. Sebab kabar dan pengalaman baik tidak elok disimpan sendiri.

Perjalan Ekspedisi Kepri Biru

TIGA pemuda tengah melakukan perjalanan panjang melintasi sejumlah pulau di Provinsi Kepulauan Riau, melewati laut yang biru dan kemudian mereka menyebutnya sebagai “Ekspedisi Kepri Biru”. Pemburuan destinasi wisata baru, menjelajah alam, melihat kultur sosial di lima kabupaten dan dua kota.

Ketiga pemuda asal Tanjungpinang itu yakni Aji Anugraha, Arie Sunandar, dan Beri Kurniawan. Perjalanan ketiganya melintasi pulau-pulau di Kepri menyimpan sebuah cerita panjang mengenai perbedaan hegemoni masyarakat disetiap daerah di Kepri. Mereka mengeksplor gambaran kehidupan dan tempat-tempat baru yang bagi mereka suatu hal yang baru, seperti di daerah, Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Karimun, Kepulauan Anambas hingga Natuna.

Ketujuh kabupaten dan kota di Kepri ini memberikan jawaban akan keberanian ketiga pemuda Tanjungpinang ini menyebrangi laut biru Kepri yang bahari, alam hijau yang harmonis, dan masyarakat Kepri di setiap kepulauan yang humanis dengan beragam agama, suku dan budaya menjadi satu dipulau-pulau yang dikenal dengan sejarah Kerajaan Riau-Lingga, Bunda Tanah Melayu.

Perjalanan Ekspedisi Kepri Biru

SIANG itu tepat di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang 30 Agustus 2017, tepat disebuah warung kopi dipinggir Jalan RH Fisabillah dua pemuda tengah duduk menghabiskan sajian kopi yang sedang “ngehits” di daerah itu, Kopi Batok namanya. Benar-benar kopi yang disajikan dalam  wadah yang dibuat dari batok kelapa tua.

Seruput kuat kopi batok terdengar biasa dari bibir dua pemuda ini, biasanya ini tanda mereka akan membuat suatu yang baru untuk dipublish kehadirat ramai, saat ini hadirat itu disebut “Lini Masa”.

Keduanya berbincang-bincang, berencana mengatur langkah perjalanan panjang menyitari Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan Riau.

Arie Sunandar, seorang pemuda asal Tanjungpinang mangatur rencana bersama Aji Anugraha dan Beri Kurniawan untuk menjajaki bermacam tempat-tempat di Kepri.

Merekan mencoba mengenalkan perjalanan itu nantinya kepada dunia luas melewati media sosial, apapun itu namanya. “Apa nama perjalanan kita ini, Bagaimana kita sebut Ekspedisi Biru” tanya Aji ke Arie dan Beri.

Ekspedisi biru identik dengan perjalanan melewati sejumlah perairan, terlebih laut ataupun danau. Memakan waktu lama untuk menempuh perjalanan ini, seperti Videografer senior Watch Doc Dandi, yang juga mantan wartawan Televisi Swasta nasional, ia menjelajahi Indonesia.

Berhayal seperti Dandi, keduanya mengatur strategi perjalanan panjang itu, namun untuk Ekspedisi Biru hanya di Kepulauan Riau.

“Bagaimana perjalanan ini kita sebut Ekspedisi Kepri Biru,” kata Ari, disepakati Arie dan Beri.

Arie dan Aji mulai menyusun draf perjalanan mereka dalam sebuah note pad android dengan rute pertama Kota Tanjungpinang kemudian Bintan, Batam, Karimun, Lingga, Anambas dan Natuna.

Sebuah perjalanan yang belum diketahui apa sebutannya, pokok pikiran dan apa yang akan dicari oleh ketiganya, yang jelas mereka sebut perjalanan itu “Ekspedisi Kepri Biru”.

Ketiganya memang senang bertualang melintasi pulau, lembah dan hutan, seperti halnya Aji, dia adalah seorang Jurnalis di Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) Antara Biro Kepulauan Riau.

Aji sudah biasa menjajaki kakinya dari suatu daerah ke daerah lainnya di Kepri, terlebih mendapatkan proyeksi dari Kabiro Antara.

Tapi kali ini perjalanannya bukan membawa embel-embel jurnalis, sangat berbeda, pasalnya dia bersama kedua rekannya, Arie dan Beri, teman seangkatannya di kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang.

Ketiganya menyepakati perjalanan yang akan dimulai dari Kabupaten Bintan, sebuah kabupaten yang berada dalam satu daratan dengan Kota Tanjungpinang, kultur dan kebudayaan di Kabupaten Bintan tidak jauh beda dengan Tanjungpinang, hanya saja bintan banyak menyajikan wisata pantai yang eksotis bila dibandingkan Tanjungpinang, namun itu tidak sepenuhnya dikelola oleh pemerintah setempat, masih asing yang menguasai.

Perjalan ekspedisi kepri biru disertai dengan sejumlah gambar-gambar hasil jepretan kamera Aji dan Arie.

Keduanya sibuk mendokumentasikan setiap moment perjalanan mereka, mulai dari gambar darat, maupun gambar udara. Sementara Beri memepersiapkan road map Ekspedisi Kepri Biru. Perjalanan itu juga dilengkapi dengan tripot camera, powerbank, air mineral, makanan ringan, dan sedikitnya mempersiapkan anggaran untuk operasional.

Di Bintan tidak sah rasanya jika tidak pergi ke Gunung Bintan. Gunung dengan ketinggian kurang lebih 1.000 mdpl ini kokoh tegak memandang perjalan kami.

Siang itu, memnah sesi pengambilan gambar Gunung Bintan, Arie sudah mengambil gambar dengan dront barunya, dia hanya duduk di dalam mobil, sepertinya dia tidak sanggup mendaki kaki gunung bintan.

Cukup penat untuk sampai ke kaki Gunung Bintan, sayangnya setiba diatas, air Gunung Bintan tidak lagi seperti 10 tahun yang lalu, melimpah dan terasa sejuk, kini air gunung legendaris di Kabupeten Bintan itu dapat diukur dengan penggaris besi kedalamannya.

“Mungkin musim kemarau,” kata Arie, meskipun beberapa waktu intensitas hujan diwilayah itu cukup tinggi. Tapi ingat, digunung ini anda dituntut untuk berperilaku sopan santun, dan tidak asal bicara, ada petuah yang mengatakan itu.

Bintan mengantarkan Ekspedisi Kepri Biru menuju Lagoi, kawasan perhotelan megah berdiri kokoh dipinggir pantai pasir putih, pantainya yang sejuk membawa sejuk suasana anda jika sedang ingin berlibur.

Untuk sampai ke Lagoi, kami melewati pos penjagaan kendaraan, beruntungnya saat masuk kami menggunakan mobil berplat nomor polisi merah, alias mobil dinas pemerintah setempat, sehingga cukup membunyikan kelakson mobil maka kalian dapat melaju meneruskan perjalanan menuju lagoi.

Ekspedisi Kepri Biru kami lanjutkan menuju Batam, kota yang sering disebut sebagai Singapura kedua ini memang bersebelahan langsung dengan negeri singa.

Perjalan Ekspedisi Kepri Biru kali ini kami mulai 6 Oktober 2017. Rencana untuk menyeberangi laut menggunakan kapal Feri cepat kami batalkan, mengingat dari Tanjungpinang ke Batam dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat.

Saran Arie, dia lebih senang menggunakan roda dua miliknya, motor metik tepatnya, meskipun pada waktu itu dia tidak sempat mengechek kondisi motor tersebut. Dan pada akhirnya, rantai belting motor metiknya putus ditengah jalan.

Beruntung kami bertemu petugas kebersihan pemerintah setempat, Pak Suparnik namanya. Bapak ini meminjamkan motornya untuk kami pakai sejenak mencari bengkel motor terdekat.

“Untung ada bapak, terimakasih pak Suparnik,” kata Arie.

Perjalanan menuju Batam pun kami lanjutkan, segala jenis perlengkapan sudah disiapkan.

Jika melewati daratan, jarak tempuh menuju Batam harus ditempuh dengan jalur cepat Lintas Barat, pemerintah setempat sudah menyediakan akses jalan ini, lebih kurang anda akan melewati 7 (Tujuh) jembatan untuk sampai ke Pelabuhan Roro Tanjung Uban, kami menaiki  roro hingga sampai di Pelabuhan Roro Punggur, Batam.

Setibanya, Ekspedisi Kepri Biru batam kami mulai. Batam dikenal dengan kawasan Free Trade Zone, hal menarik yang kami tuju adalah kawasan pasar barang-barang seken, Aviari, memburu barang seken dengan kualitas luar negeri juga kami tempuh dengan cepat.

Ini kebiasan Arie, dia senang berkeliling, berlama-lama memburu barang seken, meskipun pada akhirnya dia mendapatkan hanya satu benda, sepatu Vans buatan asli produk USA. “Senang banget,” ujarnya.

Kami menginap disebuah kos-kosan yang arie sewa melalui jasa traveloka, maklum batam sudah serba online, mulai dari transportasi, penginapan, hingga kuliner sudah disediakan di Batam.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Barelang, betapa indahnya barelang di sore itu, semua orang dari berbagai daerah berkunjung diakhir pekan hanya untuk mengabadikan perjalanan mereka ke Batam, di Jembatan Barelang.

Batam juga menyimpan destinasi wisata malam, seperti kampung bule, deretan ruko-ruko bersilauan lampu kelap kelip malam dengan para wanita muda berpakain seksi bak penjaga payung motor GP berdiri di sepanjang jalanan Batam, malam itu berlalu. Belum lagi beberapa Diskotik mulai buka di malam hari.

“Ini hanya tontonan,” kata Arie.

Perjalanan ekspedisi kepri biru kami lanjutkan ke Kabupaten Karimun. Perjalanan menuju karimun ditempuh selama kurang lebih 4 jam dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, dengan tiket perorang Rp190.000.

Kabupaten Karimun merupakan satu dari tujuh Kabupaten dan Kota di Kepulauan Riau yang terbilang eksotis pariwisatanya.

Beberapa tempat di Karimun bisa dijadikan rekomendasi untuk setiap traveling, yang ingin menghabiskan waktu dan berlibur panjang dan saat akhir pekan.

Di karimun kami menginap disebuah hotel tepat ditepi pelabuhan domestik Karimun, Hotel Karimun City namanya, cukup menghemat biaya satu malam hanya Rp200 ribu perkamar, kami ambil satu kamar.

Cerita sebelum sampai di kasur hotel untuk berrehat, sebelumnya, Ekspedisi Kepri lebih memudar birunya setiba di perairan Karimun, lautnya tak lagi biru, seperti keabu-abuan.

Kenapa?, Karimun terkenal sebagai lumbung pertambangan pasir dan granitnya, hingga laut menjadi bias akibat limbah pasir tersebut, yang biru menjadi abu-abu.

Kondisi ini fakta terjadi, sayangnya pemerintah setempat memberikan izin eksploitasi pertambangan  itu, sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karimun.

Sejumlah fasilitas umum, seperti masjid-masjid besar dan tempat ibadah lainnya dibangun  pemerintah setempat, meskipun sejumlah jalan disana masih terasa sempit, ditambah lagi  dengan akses transportasi yang minim, mengantarkan kami untuk menyewa sepeda motor milik Sordari, ojek pelabuhan karimun Rp.200 ribu dua hari, hingga pada akhirnya kami melnjutkan ekspedisi kepri biru di Karimun.

Di Karimun kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata Air Terjun Gunung Jantan, Air Terjun Pongkar namanya, letaknya berada di Desa Pongkar, begitu juga dengan Pantai Pongkar dan sejumlah destinasi wisata lainnya yang tak sempat disebutkan satu persatu.

Dari Karimun Ekspedisi Kepri Biru lanjut ke Kabupaten Lingga, Bunda Tanah Melayu. Perjalan menuju Kabupaten Lingga ditempuh selama 35 mil, menggunakan MV Arena 3 dengan Jumlah penumpang 126 sit.

“Saat ini musim angin barat, biasa tenang dan teduh kadang kuat juge angin, tak tentu juge,” kata Kapten Kapal MV Arena 3, Jasrim, menemani kami dalam perjalanan itu.

Untuk sampai di Bunda Tanah Melayu, tepatnya di Daik Lingga, salah satu kapal cepat yang kami tumpangi ini menempuh waktu 7 jam dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.

Tidak sekedip mata untuk sampai ke Daik Lingga. Kapal yang kami tumpangi menyinggahi sejumlah pulau-pulau kecil. Dari Tanjungpinang kapal menuju Benan dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit, kemudian dari Benan singgah sebentar ke Desa Tajur Biru.

Sepanjang perjalanan kami menempatkan posisi di gladak kapal, tepat di Nahkoda, puluhan deretan pulau berjejer, sungguh sangat eksotis dipandang mata.

Kami melintasi tepat dititik kordinat 0 (Nol) derajat lintang Selatan dan Barat, tepat di garis Katulistiwa. Pemerintah setempat membangun tugu nol katulistiwa itu disebuah pulau di Lingga.

Di Tajur Biru kami melihat ada pemukiman penduduk suku laut Kampung Baru, suku pertama yang menempati Lingga, pemerintah setempat membangun perumahan untuk suku laut, agar penduduk suku laut bermigrasi ke rumah layak huni.

“Biar mereka berkembang,” kata seorang pegawai Lingga saat bertemu kami di kapal.

Desa Tajur Biru merupakan satu dari 75 Desa di Kabupaten Lingga, tepatnya berada di Kecamatan Senayang.

Dari Desa Tajur Biru kami berangkat menuju Desa Rejai, kurang lebih 50 menit menuju Desa Rejai, singgah ke Tanjung Kelid dengan jarak tempuh 30 menit.

Dari Tanjung Kelid ke Sungai Tenam ditempuh selama 5 menit, lanjut lagi  dari Sungai tenam-Pulun 40 menit, Pulun – Jagoh Dabok 1 jam, pada akhirnya dari Jagoh ke Daik tepatnya kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Buton dengan jarak tempuh 20 menit.

Cuaca di Daik Lingga kala itu mendung berhujan. Pakcik, sebutan akrab paman Beri mengantar kami menuju penginapan terdekat di Daik.

Daik masih natural, sepanjang perjalanan kami melihat rumah-rumah panggung, rumah penduduk asli Melayu masih kental terbangun rapi, kokoh di Daik. Meskipun sebagian rumah sudah ada yang bernuansa moderen.

“Masih alami ya, natural,” kata Arie sepintas membonceng saya melintasi jalan-jalan lembab, karena kami tiba sore hari saat cuaca sudah mulai turun rintik hujan.

Memasuki malam, tempat baru yang pertama kali kami kunjungi adalah, Kedai Kopi Balang, katanya kopi di tempt ini punya rasa tersendiri.

Kopi Balang punya haroma khas, terisi dalam sebotol bekas sirup, panas dan bearoma harum. “Wangi ya, yuk dicoba,” kata Beri.

Kebiasaan Arie kalau ada yang baru pasti ingin duluan, sampe gak kerasa panasnya kopi yang diseruput dilidah. “Panas men, tapi sumpah, enak,” ujarnya.

Sebotol kopi balang dihargai Tp.20 ribu. Kopi ini kata pemiliknya dipesan dari Jambi.

Bunda Tanah Melayu memiliki banyak peninggalan kerajaan Riau-Lingga. Sultan Mahmud Riayat Syah adalah Sultan yang pertama kali di Daik Lingga.

Dia adalah Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga XVI yang memindahkan pusat kerajaan Melayu ke Bintan Hulu Riau ke Daik tahun 1787, dengan istrinya Raja Hamidah (Engku Putri) yang merupakan pemegang Regelia kerajaan Melayu Riau-Lingga.

Pulau Penyengat Indra Sakti di Tanjungpinang adalah mas kawinnya, dan pulau penyegat tersebut menjadi tempat kedudukan Raja Muda bergelar Yang Dipertuan Muda Lingga, yakni dari darah keturunan Raja Melayu dan Bugis.

Pada hari senin pukul 07.20 Wib tahun 1899 dia mangkat dan dimakamkan di Makam Merah dengan Bergelar Marhum Damnah.

Di Daik Lingga, fasilitas jalan menuju pusat pemerintahan dan tempat wisata pemerintah setempat sudah membangun dengan baik. Hanya saja objek wisata di Lingga sangat kurang dikenal dunia.

Di Lingga ada beberapa tempat yang kami kunjungi, diantaranya Gunung Daik yang berada tepat di pusat pemerintahan Kabupaten Lingga, Masjid Sultan Lingga, Air Terjun Resun, Pantai Batu Bedaun, Benteng Bukit Cening, Museum Lingga Cahaya, Situs Istana Damnah dan peninggalan-peninggalan sejarah lainnya.

Kami melanjutkan perjalann menuju Dabo Singkep. Lagi-lagi, karena Beri banyak sanak saudara di Lingga, petunjukpun ditahtakan kepadanya, kami menggunakan perahu kayu menuju Dabo Singkep, satu jam dari Daik menuju pelabuhan Jago.

Setibanya disana kami menyewa mobil, untuk sampai ke Jantung Kota Dabo Singkep. Pemerintah setempat menempatkan kota jauh dari pelabuhan.

Di Lingga anda tidak perlu heran, daerah ini belum tersedia Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau Pertamina. Sebagian masyarakat menjual minyak secara eceran, BBM Premium masih dijual seharga Rp.13.000 per liter.

Tak heran satu botol ukuran besar untuk bensin mobil pedagang jual Rp.70 ribu.

“Disini belum ade SPBU bang. Kalau yang beli tempat saye ramai juge, lumayan lah,” kata Kodek, pedagang bensin setempat.

Di Dabok, kami menginap di sebuah hotel yang cukup strategis dengan jarak ke tempat wisata yang masih terjangkau seperti, Pantai Batu Bedaun, Pantai Todak dan Tempat pemandian Air Panas. Meskipun kami tidak mengetahui tempat-tempat itu.

Kami bertemu dengan penduduk setempat yang belum lama ini mengenal Dabok, Devi namanya. Wanita berhijab ini memandu kami menyusuri tempat-tempat wisata di Dabo.

Meskipn baru mengenal Devi, pandangan mata tak jauh dari hati Aji. “Baiknya die, manis pulak,” kata Aji. Pertemuan Aji, Arie, Beri dan Devi begitu singkat, semoga bisa berjumpa lagi.

Lingga memiliki kekayaan alam yang cukup banyak. Dahulu Belanda menetapkan kawasan Dabo Singkep sebagai tempat pertambangan timah. Jadi, tak jarang ketika anda berkunjung ke Lingga, terdapat kawah-kawah menyerupai danu bekas pertambangan timah.

Bahkan, bekas pertambangan itu berpotensi sebagai tempat wisata. Pemerintah setempat mengelola tempat itu sebagai salah satu destinasi wisata Kolam Air Panas.

“Benar-benar panas airnya men,” kata Beri yang baru pertama kali berendam di kolam itu.

Perjalanan kami berakhir di Desa Penuba, Kecamatan Senayang. Tepatnya di rumah kediaman paman Berri Kurniawan, kebetulan paman Beri ini adalah Kepala Desa di Penuba, Sapri namanya.

Sapri menjelaskan mengenai Penuba. Terdapat 1.400 penduduk di desa ini. Peninggalan sejarah bekas kekuasaan Belanda juga masih ada, sebuah meriam besi dan beberapa bangunan belanda sebagai pertanda Belanda pernah menduduki desa ini, begitu juga dengan pelabuhan VOC pertama kali berada di desa ini, Penuba, Kabupaten Lingga.

Masyarakat Penuba bermata pencarian sebagai nelayan. “Penuba “Terpencil namun tidak tercecer” satu lagi “Pembela Nusa Bangsa,” kata Sapri.

Banyak yang belum tereksplor di Daik Lingga, Bunda Tanah Melayu. Perlu waktu lama untuk dapat melintasi pulau-pulau yang indah di Daik Lingga, begitu juga dengan Anambas dan Natuna, menjadi catatan kosong dalam lembar Ekspedisi Kepri Biru yang belum teriisi.

Penulis : Aji Anugraha

 

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top