Jarak Tempur Kherjuli Sang Presiden Air

Kherjuli, Pegiat Lingkungan Hidup Kota Tanjungpinang (Foto : Aji Anugraha)

Kherjuli, Pegiat Lingkungan Hidup Kota Tanjungpinang (Foto : Aji Anugraha)

PERTEMPURAN antara sekelompok manusia bisa saja terjadi dikarenakan perebutan kekuasaan, wilayah dan terlebih bahan baku keberlangsungan hidup di dunia, salah satu diantaranya yakni “Air” yang merupakan sumber kehidupan manusia, kata Pegiat Lingkungan Hidup di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kherjuli, Rabu itu.

Kherjuli bukanlah seorang angkatan bersenjata yang memiliki pengaruh besar, loyalitas kepada negara dan siap mati untuk memperjuangkan negaranya. Dia hanyalah seorang pria kelahiran Tanjungpinang, 1 Juli 1970, yang memiliki perjuangan panjang untuk memperjuangkan ketersedian air, menempatkan air pada posisi yang paling tinggi, dan menyebut air sebagai presiden.

“Kerana posisi yang paling terpenting dimuka bumi ini adalah air, maka muncul filsafat dunia, Air Sumber Kehidupan, maka disebutlah air sebagai presiden dimuka bumi ini, karena air memiliki posisi penting di dunia,” kata pria lulusan SMK Negeri 1 Tanjungpinang alumni 1989.

Pertempuran sang presiden air baru dimulai sejak ia keluar dari dalam sistem pemerintahan sebuah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pengelola waduk air terbesar di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2005. Waduk itu diberi nama Sei Pulai, tepat berada di antara Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.

Pengalamannya mengelola air hinga keseluk-beluk air sebagai sumber hidupan, dan pemanfaatnnya bagi manusia sudah dipelajari lebih kurang 18 tahun mengabdi di PDAM Tirta Janggi yang saat ini diambil alih dan dibiayakan Pemerintah daerah setempat dan bertukar nama menjadi PDAM Tirta Kepri.

Pegiat sumber daya air, lingkungan hidup dan kehutanan ini sudah memulai pergerakannya, untuk merancang sebuah konsep, gagasan dan kritikan untuk pemerintah pada tahun 2005, saat setahun ketika Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.

Dia tidak sendiri untuk bertempur melawan penyalahgunaan air. Kherjuli membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup, Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) beranggotakan hanya 23 orang, tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Riau.

Kata ALIM menurut kherjuli, namun tidak untuk mendefinisikan Alif lam Mim, tiga kata pembuka dalam surat Al-Baqarah, A itu Air LI itu Lingkungan dan M itu Manusia.

Dalam penjelasannya, air merupakan sumber daya yang paling utama di dunia ini, sedangkan lingkungan merupakan satu kesatuan alam ruang, dan segala kejadian yang ada didalamnya yang saling berhubungn anatara hewan, tumbuhan dan manusia, dan perlu dilestarikan sepanjang waktu.

“Tak akan ada lingkungan dan kehidupan tanpa air,” ujar Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepulauan Riau ini.

Jarak antara Kherjuli semasa bekerja di PDAM dan saat ini menjadi Ketua LSM ALIM tidak jauh peruntukannya, LSM itu dibentuk untuk membantu masyarakat, menadapatkan air bersih dengan cakupan yang bersih dan yang baik diluar sistem yang ada. Dia siap bertempur untuk ketersedian air di dunia, terkhusus kepri. Agar lebih mudah, ia keluar dari sistem.

“Ini saya lakukan untuk lebih leluasa, lebih keras dan lebih independen dan lebih objektif, karena sebelumnya saat berada di sistem merupakan bagian dari pemerintah, sehingga tak mungkin berteriak dengan kepala daerah, sehingga kita lebih bisa lantang kepada kepala daerah sebagai owner PDAM,” kata Anggota Komisi AMDAL Provinsi Kepulauan Riau ini.

Di Kepri, komitmen air bersih untuk masyarakat berada ditangan kepala daerah, ALIM menawarkan sistem, meluruskan, menganalisa dan melakukan kajian.

Perjuangan panjang ALIM dalam kepemimpinan Kherjuli mengkritik keras kebijakan tarif air, dalam penelitiannya salama ini air selalau dipandang sebagai aspek sosial saja, berdasarkan dari curah hujan, harga yang murah dan dapat diadapati setiap waktu.

Dalam kenyataannya, telah terjadi pergeseran orientasi, dimana telah terjadi penurunan daya dukung hutan dan lahan, penurunan daya tampung dan daya dukung lingkungan, sehingga sumber-sumber air menjadi langka dan terbatas, maka untuk mendapatkan air tidak semudah yang ada dalam pandangan masa lalu.

“Air selalu dipandang sebagai sesuatu yang murah, terlalu sosial oriented, padahal pengelolaan air sangat sulit. Maka solusinya hubungan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup harus diselaraskan, sumber-sumber air harus dijaga, hutan lindung sebagai daerah tangkapan air, area ini yang harus dilindungi,” kata Anggota TKPSDA Batam-Bintan ini.

Perjuangan Kherjuli dalam menyuarakan lingkungan hidup, air dan manusia mendapatkan apresiasi dari beberapa pimpinan daerah, salah satunya yakni Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmanyah.

Menurut Lis, Kherjuli adalah salah satu pahlawan dibidang lingkungan hidup, meskipun karakter Kherjuli dimata Lis enggan dipuji dalam berbagai hal. Perjuangan Kherjuli dianggap Lis luar biasa disegala lini sektor lingkungan.

“Patut diberikan apresiasi, menurut saya bisa dikatakan Kherjuli adalah pahlawan di bidang lingkungan hidup, meskipun saya tau pasti, dia bukan orang yang senang disanjung-sanjung, tapi dengan kerja nyata selama ini,” ujarnya.

Menyuarakan Pentingnya Air

Ditataran kebijakan pemerintah, trobosan Kherjuli merancang strategi perperangan cukup sulit untuk menembus jantung kebijakan dan Stake holder sejak 2005 dan setelah Prov Kepri terbentuk.

Suara Kherjuli begitu gencar untuk memperjuangkan keberadaan waduk sungai pulai dikelola dengan maksimal oleh Provinsi Kepri, yang pada waktu itu memiliki anggran cukup banyak bila dibandingkan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Suara Kherjuli kerap kali terbit disejumlah media cetak bersekala lokal maupun nasional.

“Pada waktu itu Bintan dan Tanjungpinang keterbatasan anggaran, dan Waduk itu diminta dikelola oleh provinsi kepri,” katanya yang juga Ketua Forum Kota Sehat Kota Tanjungpinang ini.

Perjuangan Kherjuli membuahkan hasil, pada akhirnya Provinsi Kepri membntuk PDAM Tirta Kepri tahun 2008. Sumber air masyarakat di Tanjungpinang dan Bintan pun terpenuhi, meskipun katanya hingga saat ini pengelolaanya masih smeraut.

Sejak Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengambil penguasaan air Waduk Sei Pulai, sebelumnya Waduk 43 hektar mengalami pendangkalan, ditingkatkan daya tampung luasannya, dengan pendalaman 80.000 meter kubik air, untuk ketersedian air di Pulau Bintan dan Tanjungpinang.

Dikarenakan dari rasio ketersedian air baku tidak mencukupi untuk pertumbuhan penduduk yang terus bertambah di Bintan, pemerintah setempat juga meningkatkan daya tampung Waduk Sungai Jagoh dan Kolong Enam, Kijang dan membuat sumber-sumber air baru seperti Waduk Gesek.

Pemberdayaan Masyarakat

Agar masyarakat selalu bersyukur atas nikmat air yang Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa berikan, karena dengan bersyukur nikmat tuhan akan bertambah, rasa sukur itu dalam tindakan askis nyata, Kherjuli merumuskan sebuah program baru bertajuk “Kenduri Air” pada tahun 2005.

Aksi nyata kenduri air didefiniskan seperti menghemat air, membuat lobang biopori untuk pengawetan air, tidak menebang pohon, memperbanyak tanaman dan pohon, tidak menimbun daerah resapan air, dan tidak membuka lahan secara luas, sperti pertambangan bauksit.

“Sehingga ketika hujan turun air mampu diresap oleh tanah dan air tidak sia-sia lari ke laut, menjadi limbah,” kata Anggota Tim Penilai Adipura Kepri ini.

Sejak tahun 1992, PBB telah menetapkan tanggal 22 Maret sebagai World Water Day atau yang dikenal dengan sebutan hari air sedunia. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan informasi dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat dunia terhadap pentingnya air bagi kehidupan.

Tahun 2017, PBB melalui UN WATER menetapkan Wastewater atau Air Limbah sebagai tema Hari Air Dunia.

Mengapa Air Limbah ?, Karena 80 persen air mengalir begitu saja ke sungai, laut dan ke tempat yang lain tanpa melalui proses pengolahan. Hal tersebut berpotensi menjadi air limbah yang terlewatkan begitu saja. Padahal, diwaktu yang sama, ketersediaan air untuk air baku air minum masih sangat ternyata dan minim.

“Air baku tidak sebanding dengan jumlah permintaan dan kebutuhan, seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia, dan setiap tahun, data memperlihatkan masih banyak anak-anak meninggal dunia akibat buruknya sanitasi dan pencemaran air,” ujar Anggota Tim Penilai Adiwiyata Provinsi Kepulauan Riau ini.

Pendampingan Generasi Masa Depan

Kherjuli beranggapan dimasa yang akan datang orang dewasa tidak lagi peka terhadap air, dampak keterbatasan air, kekeringan air. Untuk itu dia meyakini perlu ada gerakan regenerasi pada pencacakan, agitasi dan memberikan doktrin untuk generasi muda, terkhus anak-anak untuk lebih mengerti dalam pemanfaatan air yang benar.

“Karena kita menganggap anak anak merupakan penerus generasi dunia ini, ditangan merekalah baik dan buruknya pengelolaan sumber daya air itu ditentukan, kami beranggapan jika orang dewasa tidak lagi peka terhadap air, maka anak-anak ini yang akan menjadi penerus perjuangan,” ujar Anggota POKJA Perhutanan Sosial Provinsi Kepulauan Riau ini.

Selama dalam kurun waktu 7 tahun, dia memberikan pemahaman dan peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap sumber daya air dan lingkungan hidup. Kenduri Air, Bank Air dan bentuk pemahaman air yang baik dan benar selalu diadakan di sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA. Katanya, agar kenduri air tadi dapat menjadi kearifan lokal.

Segala usaha pergerakan Kherjuli tidak serta merta dapat dibantu atau meminta bantuan pemerintah setempat atupun negara. Untuk menggerakkan ALIM merupakan dana dari pribadi dan anggota.

Kesungguhannya mengukur jarak pertempuran melawan penyalahgunaan air membuhkan hasil. Tak sedikit penghargaan yang ditorehkannya, dari Pemerintah Kota Tanjungpianng Kherjuli mendapatkan penghargaan Pegiat Lingkungan Hidup dari Wali Kota Tanjungpinang pada tahun 2013, 2015 dan 2017.

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tanjungpinang juga menobatkan Kherjuli sebagai pegiat sumber daya air pada tahun 2014, Pemerintah Provinsi Kepri pada tahun 2010 menobatkanya sebagai Pegiat Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup.

Ditingkat Nasional Kher mendapatkan penghargaan Dari Kementrian dalam Negeri Wawasan Nusantara 2014, dan empat tahun berturut-turut Kherjuli mendapatkan penghargaan dari lembaga dibawah naungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) UN Water PBB sebagai Pegiat World Water Day.

“Melalui moment itu kita lakukan, menerobos kebijakan, pemberdayaan masyarakat, dan pendampingan terhadap anak-aanak sekolah,” ungkapnya.

Ia mengatakan dimasa yang akan datang, dari hasil kajian sumber daya air yang ada di muka bumi ini jumlahnya tetap, sementara penduduk dan populasi dunia meningkat. Menurutnya maka jika tidak di kelola dengan sebaik-baiknya, antara ketersedian dengan kebutuhan air itu sendiri maka akan berdampak langsung dengan keterbatasan air.

“Buktinya dapat kita rasakan, ketika waduk-waduk kering, itu salah satu implikasi peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan lahan air, penambahan perumahan, dengan cara menebang pohon, air pun kering,” ujarnya.

Menurut Kherjuli, dibutuhkan pengelolaan air yang baik dengan menyelaraskan kepentingan sosial, air dan kehidupan.

“Jika tidak dikelola dengan baik, air akan lebih mahal dari harga minyak, menjadi sumber konflik antara negera, sumber peperangan, dan sumber bencana, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan bahkan sumber peperangan di dunia,” ungkapnya.

Penulis : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top