PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19) Kepulauan Riau mengingatkan pemilik apotek tidak menjual produk disinfektan antiseptik yang tidak sesuai standar kesehatan yang ditetapkan BPOM.
“Sebaiknya apotek tidak menjual disinfektan dan antiseptik sembarangan,” kata Anggota Satgas Covid-19 Kepulauan Riau, Nikolas Panama, di Tanjungpinang, Selasa (7/4).
Apotek Kimia Farma yang berstatus BUMN harus memberi contoh kepada apotek lainnya. Apotek harus menjual produk dengan harga yang wajar, dan sesuai standar kesehatan.
Gugus Tugas Covid-19 Kepri menemukan masih ada apotek yang menjual cairan disinfektan antiseptik tidak sesuai standar Badan Pengawasan Obat dan Makan (BPOM).
“Di sejumlah apotek kami masih menemukan cairan disinfektan dan antiseptik seperti hand sanitizer (pembersih tangan) yang komposisinya tidak sesuai untuk membunuh virus,” ujarnya.
Sejumlah apotek Kimia Farma di Tanjungpinang menjual cairan hand sanitizer (cairan pembersih tangan) ukuran 5 liter jeriken seharga Rp 750.000. Sedangkan masker kain di jual seharga Rp.55.000. Harga ini jauh meningkat lima kali lipat dari sebelum wabah Covid-19 melanda dunia. Komposisi cairan hand sanitizer yang di jual tidak sesuai dengan standar kesehatan.
“Apotek Kimia Farma adalah apotek BUMN, seharusnya memberikan contoh untuk apotek lainnya dengan tidak hanya mengejar profit, akan tetapi juga menjalankan misi sosial kemanusiaan,” kata Niko.
Ia mengatakan, penggunaan hand sanitizer tidak begitu dianjurkan untuk masyarakat di rumah saja. Penggunaan hand sanitizer digunakan masyarakat saat berpergian. Meski demikian, masyarakat tetap dianjurkan cuci tangan pakai sabun, agar terhindar dari Covid-19.
“Penggunaan hand sanitizer tidak diharuskan, hanya perlu dipergunakan untuk masyarakat yang berpergian. Cuci tangan pakai sabun sangat diharuskan. Begitu juga dengan masker, sangat diharuskan,” ungkapnya.
Akedemisi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Eka Ramdani, mengatakan disinfektan antiseptik seperti Hand Sanitizer, tidak dianjurkan untuk diproduksi rumahan. Pembuatan handsanitizer diperlukan riset dan ketentuan campuran bahan kimia melalui uji laboratorium.
Pembuatan handsanitizer rumahan atau dijual dengan harga bervariasi di median online tidak sesuai rekomendasi lembaga kesehatan rentan berbahaya untuk kesehatan pengguna.
Campuran pembuatan hand sanitizer seperti Etanol, Giliserol, Hidrogen Peroksida, Aquadest, merupakan bahan kimia yang sulit ditemukan. Selain itu, untuk membuat hand sanitizer perlu uji laboratorium agar ukuran campuran seimbang, sehingga tidak berbahaya digunakan.
“Berdasrkan riset, sarat hand sanitizer itu diatas 60 persen, kalau dibawah itu kita gak tau dampaknya seperti apa, di masyarakat di jual murah, tapi kan bahaya. Ada yang menggunakan alkohol, kalau alkohol itu kita gunakan sembarangan uapnya berbahaya juga, takutnya gagal organ, tidak direkomendasikan untuk sembarangan,” ungkapnya.
Hand Sanitizer tidak efektif untuk menahan bakteri Covid-19, masyarakat dianjurkan cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan, menggunakan masker ketika batuk, mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga imunitas tubuh.
Sedangkan masker kain dapat digunakan jika bahan yang digunakan merupakan kain berpori-pori kecil. Penggunaan masker kain dianjurkan dicuci bersih setiapkali usai digunakan.
Berdasarkan riset, masker kain berbahan caton maupun bersertifikasi anti bakteri dengan pori-pori kecil dapat menahan drop plat berupa cairan yang keluar dari mulut. Masker kain bersifat sementara tidak dapat digunakan untuk paramedis Covid-19.
“Masker kain untuk saat ini dapat digunakan, di tengah kesulitan mendapatkan masker di Apotik, tapi dianjurkan menggunakan kain yang berpori-pori kecil, untuk antisipasi dari pada gak sama sekali,” ungkapnya.
Satgas Covid-19 Kepri juga mengimbau agar masyarakat diharuskan untuk jaga jarak dalam setiap aktivitas, menggunakan masker saat berpergian keluar rumah, makan-makanan bergizi secara teratur, cuci tangan pakai sabun, dan tidak berpergian keluar daerah untuk sementara waktu.
Dilansir Worldometers, hingga Selasa, 7 April 2020 Dunia mencatatat sebabyak 1,347,473 orang terinveksi Covid-19, sebanyak 74,779 orang meninggal dunia 285,090 sembuh.
Di Indonesia sebanyak 2,491 orang terinveksi Covid-19. Sebanyak 209 orang meninggal dunia, 192 orang sembuh. (Aji)
Editor : Redaksi







