Lis Darmansyah : Pemerintah Daerah Harus Tegas Soal Tambang Pasir Ilegal

Aktivitas pertambangan pasir ilegal di Galang Batang, Bintan, Rabu (15/1/2020) masih berlangsung. (Foto: pijarkepri.com)

PIJARKEPRICOM, Tanjungpinang – Seharusnya pemerintah daerah kabupaten kota harus tegas soal maraknya tambang pasir ilegal, artinya tidak berizin tapi dibiarkan, kata Anggota DPRD Kepri, Lis Darmansyah, SH.

“Yang punya, tahu wilayah itu diperuntukkan untuk apa sesuai Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ‘kan pemerintah kabupaten kota, seharusnya tegas,” tambahnya, di Tanjungpinang, Kamis (16/1/2020).

Tanggapan itu disampaikan Lis Darmansyah melihat persoalan maraknya tambang pasir ilegal di Galang Batang dan Teluk Bakau, Bintan Kepulauan Riau.

Baca Juga : Pasir Ilegal di Bintan Merugikan Masyarakat

Pertambangan pasir ilegal di Bintan, Kepulauan Riau sudah berlangsung lama. Aktivitas pertambangan berlangsung di Galang Batang, Teluk Bakau, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan.

Menurut Lis Darmansyah, Satpol PP memiliki peran dalam penegakan Perda RTRW. Pemerintah kabupaten kota dapat menghentikan aktivitas ilegal di masyarakat, apalagi merugikan masyarakat dan merusak alam.

Jika itu menjadi tugas dan wewenang pemerintah kabupaten kota maka sudah tentu peruntukan lokasi pertambangan harus sesuai dengan RTRW Kabupaten tersebut.

Lokasi pertambangan pasir Bintan berada di Galang Batang dan Teluk Bakau. Berdasarkan Perda RTRW Bintan, lokasi tersebut bukan kawasan pertambangan.

Menurut Lis, Satpol PP selaku penegak Perda dapat menutup aktivitas pertambangan ilegal. Jika saat ini masih berlangsung dan aktivitas pertambangan ilegal dibiarkan, Satpol PP bisa diperiksa aparat penegak hukum.

“Hati-hati, jika aktivitas ilegal di daerah sementara ada aturan yang mengikat dan dibiarkan Satpol PP, Polisi bisa memeriksa Satpol PP, karena aktivitas ilegal itu,” ungkap Lis.

Baca Juga : Harga Pasir Ilegal Bintan Tembus 500 Ribu di Pasaran

Camat Gunung Kijang, Arif Sumarsono mengatakan jumlah lokasi pertambangan pasir di Galang Batang mencapai 26 titik. Aktivitas pertambangan pasir terbesar di Teluk Bakau, Bintan. “Galang Batang maupun Teluk Bakau bukan kawasan pertambangan,” ungkapnya.

Berdasarkan data di kecamatan, pemilik maupun penanggungjawab dalam aktivitas pertambangan pasir yakni Gonde, Maxi, Alex, Ferdi, Yohanes, Yoman, Yanti, Latif, Edison/Nas dan Riki Mitra.

Dari data tersebut, Riki Mitra memiliki lokasi pada tiga lokasi. Lokasi pertambangan terbesar di Teluk Bakau. “Ya, di Teluk Bakau lahannya cukup luas,” ungkapnya.

Pantauan di lokasi pertambangan, sejumlah lokasi pertambangan pasir hari ini tutup. Penutupan pertambangan pasir di Galang Batang dan Teluk Bakau disebabkan pemberitaan di sejumlah media massa.

“Lagi panas. Setiap hari ada beritanya, tadi bos suruh kami tutup,” ujarnya.

Hanya saja hampir keseluruhan lokasi bekas pertambangan pasir Ilegal rusak parah.

Pewarta : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top