Pemerintah Dinilai Belum Tegas Soal Pengelolaan Sampah Sedotan

Ketua ALIM Kepri, Kherjuli saat memberikan workshop revisi kurikulum SMPN 5 Tanjungpinang dan prangkat pembelajaran (Adwiyata). (F-ang

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Lembaga masyarakat Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Kepulauan Riau menilai kebijakan strategis nasional soal pengelolan sampah produksi belum tegas.

Ketua ALIM Kepulauan Riau, Kherjuli, di Tanjungpinang, Jumat (2/8) mengatakan, sebagai contoh kebijakan strategis nasional pengelolaan sampah yang belum tegas terhadap produsen yakni, jenis sampah sedotan plastik.

Pengamatan ALIM, sampah sedotan kerapkali berakhir ke laut, mengendap di dalam lumpur hingga mengancam ekosistem dan biota laut.

“Kelihatannya sepele, tetapi sudah sangat mengancam,” ungkapnya.

ALIM mengajak Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk mengurangi sampah sedotan plastik, yang bila dihitung, dan jika tidak dikurangi atau ditangani dengan baik dapat merusak ekosistem laut.

“Jangan sampai, jumlah sampah sedotan plastik pada tahun 2025, lebih banyak daripada Gonggong atau Ikan Sembilang,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penghitungan ALIM bersama SMPN 5 Tanjungpinang yang telah Zero Plastic Straw (Tanpa Sedotan Plastik,red) terdapat 294,036 batang sedotan plastik di sekolah itu.

“Selama setahun, Terdapat 687 siswa, 214 hari kalender belajar dan 2 kali waktu istirahat ke kantin sekolah. Jika dikalikan, berjumlah 294,036 batang sedotan plastik,” ungkapnya

Dalam hitungan ALIM, jika panjang setiap sedotan plastik tersebut 18 cm dan di sambung, maka panjangnya 5,292,648 cm atau 53 kilometer.

Ukuran tersebut, jika dijadikan dalam satuan kaki (foot) dan ditarik tegak lurus ke udara, panjangnya 173.885 kaki. Ukuran itu lebih panjang dari ketinggian terbang pesawat terbang yang hanya disekitaran 30.000 kaki – 35.000 kaki.

“Itu baru satu sekolah saja. Sementara, ada 106 SD/SMP sederajat dengan 40.400 siswa. Coba pikirkan,” ujarnya.

ALIM belum mendapatkan data sekolah yang telah menerapkan kebijakan tanpa sedotan plastik bersama komite sekolah.

“Karena regulasi kita, baru bersifat himbauan. Bukan larangan penggunaan sedotan plastik. Oleh karena itu, sangat diperlukan ketauladanan dan kepeloporan Kepala Sekolahnya,” ungkapnya.

Melalui kepeloporan Kepala SMPN 5 Tanjungpinang, ALIM mengajak seluruh kepala sekolah tingkat SD, SMP, SMU dan SMK sederajat mengurangi sampah sedotan plastik.

Selain sekolah yang dinilai merupakan sasaran konsumen sedotan, sejumlah tempat penyaji minuman semisal, cafe , warung kopi dan pujasera, akau dan tempat kuliner lainnya termasuk perkantoran publik dan swasta menjadi sasaran pemakai sedotan.

Berdasarkan pengamatan media ini, terdapat sejumlah prusahaan yang masih memproduksi sedotan plastik dalam kemasan, seperti, kemasan minuman aQua, Sanford, Bestari dan minuman kemasan kotak yang beredar di masyarakat.

ALIM menilai produksi tersebut jika dibiarkan sangat berbahaya. Untuk itu, ALIM memilih sekolah sebagai agen sosial, agen perubahan, tempat generasi penerus bangsa menimba ilmu pengetahuan.

Dengan begitu, menurut ALIM diharapkan, penerapan edukasi di sekolah dapat merubah pemikiran dan perilaku siswa dan mampu mengajak orang tua untuk peduli terhadap sampah sedotan plastik.

“Jelas berbahaya. Bahkan lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, disekolah selalu kami himbau untuk berusaha semaksimal mungkin tidak menggunakannya lagi. Warga sekolah dihimbau membawa minuman air dengan Tumbler,” ungkapnya.

ALIM memberikan solusi, mengenai penggantian sedotan pelastik dengan sedotan ramah lingkungan.

“Sudah banyak beredar dipasaran. Baik yang dari bahan bambu, stanless dan bahan lainnya untuk digunakan banyak kali pakai dan menjadi barang personal yang bisa dibawa kemanapun,” ungkapnya.

Kendati sudah memberikan edukasi ke sekolah untuk penggunan sedotan ramah lingkungan, ALIM belum dapat mengomentari produksi sedotan pelastik dalam beragam minuman kemasan di kota itu.

“Mungkin posrsi kami disasaran itu dulu. Sesuai kapasitas. Dan yang memiliki kekuasaan, harus dapat melakukan dalam porsi yang lebih dari pada itu,” imbuhnya.

(ANG)

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top