Nelayan Subang Mas Tolak Pertambangan Pasir Laut Sedot

Nelayan Subang Mas, Kecamatan Galang, Batam saat menggelar aksi di laut. Mereka meminta aparat penegak hukum bertindak soal pertambangan pasir sedot yang merusak habitat laut. (F-ist/pijarkepri.com)
Nelayan Subang Mas, Kecamatan Galang, Batam saat menggelar aksi di laut. Mereka meminta aparat penegak hukum bertindak soal pertambangan pasir sedot yang merusak habitat laut. (F-ist/pijarkepri.com)

PIJARKEPRI.COM, Batam – Nelayan di Kelurahan Subang Mas, Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau menggelar aksi menolak maraknya pertambangan pasir laut sedot di wilayah itu.

Sudah dua hari sejak Selasa, di (19/3/2019) nelayan setempat menggelar aksi penolakan diseputran area kapal sedot milik PT Barelang Internasional Ekspasindo.

Meski menggelar aksi mengelilingi hingga menaiki Kapal besi sedot pasir laut bertuliskan Momentun 25001, tetap saja pasir laut Subang Mas disedot masuk kedalam kapal tersebut.

Seorang Nelayan Subang Mas, Abas mengatakan tak ada satu pun aparat penegak hukum yang menghentikan operasi tambang pasir laut itu. Sekalipun mereka sudah mengadu ke wakil rakyat dan aparatir pemerintah setempat.

Padahal, ekosistem laut yang menjadi tempat pencarian hidup nelayan Subang Mas rusak parah. Biota laut ikut tersedot masuk kedalam mesin penyaringan kapal pasir itu.

“Sama sekali tidak ada ikan lagi, habit laut hancur, lingkungan rusak, kami minta pertambangan ini keluar dari perairan Sebung Mas,” ungkapnya.

Sudah hampir 2 bulan kapal sedot pasir laut Subang Mas beroperasi. Dalam perjanjian prusahaan bersama tokoh masyarakat dan perwakilan rakyat setempat menyimpulkan Kapal tersebut tak dibenarkan untuk menyedot sambil berjalan.

Kendati sudah dimusyawarahkan, masih saja kapal penyedot pasir itu beroperasi melewati batas yang ditentukan secara musyawarah. Bahkan banyak kapal sedot berlabuh di perairan Sebung Mas.

“Kami minta aparat penegak hukum bertindak,” ungkapnya.

Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia.

Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya.  Pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura.

Sebagian peneliti menilai jika pulau itu benar-benar tenggelam atau hilang, maka yang akan diuntungkan adalah Singapura. Mereka dapat mengklaim bahwa luas wilayah negaranya bertambah.

Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Muhamad Karim, sebagaimana dilansir dalam scribd.com belum lama ini mengatakan, penambangan pasir laut di sekitar perairan Kepulauan Riau telah berlangsung sejak 1970-an.

Penambangan tersebut sebagian besar untuk memenuhi permintaan negara tetangga, Singapura.

“Bagi Singapura, penambangan pasir dibutuhkan untuk memperluas wilayah daratan mereka. Sementara bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Kepulauan Riau, penambangan pasir tidak mendatangkan kesejahteraan. Yang ada justru kerusakan ekosistem pesisir, dan tenggelamnya sejumlah pulau kecil,” ungkapnya.

Hingga saat ini pemerintah setempat dan aparat penegak hukum belum mengambil tindakan atas persolan pertambangan pasir itu. Pihak-pihak terkait belum dapat dikonfirmasi.

ANG
Editor : Aji Anugraha

Pos terkait