Soerya dan Kaum Termarginalkan

HM Soerya Respationo dalam suatu pertemuan dengan masyarakat. (Foto : SInergi Kepri)
HM Soerya Respationo dalam suatu pertemuan dengan masyarakat. (Foto : SInergi Kepri)

SEORANG pria dengan postur tubuh tinggi, gempal berbaju batik Oren tengah duduk ditepian kursi sofa ruang tamu di kediaman Ketua Senat Universitas Batam (UNIBA), Dr HM Soerya Respationo SH MH, di Perumahan Duta Mas, Kecamatan Batam Kota, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 31 Oktober 2020, pagi.

Dia memperhatikan percakapan antara seorang wartawan dengan Soerya Respationo. Tepat di samping kanan wartawan itu ikut menyimak mantan Walikota Tanjungpinang, H Lis Darmansyah SH. Perbincangan santai itu cukup serius soal sisi lain kehidupan Soerya Respationo yang tak banyak orang tau.

Tak sabar menahan diri, Sugianto menghampiri meja perbincangan. Dia duduk diantara wartawan dan Soerya Respationo. Saat itu, dia memperkenalkan diri dan ikut masuk dalam alur pembicaraan. Seketika, wartawan itu bertanya siapa dia.

Dia menduga terdapat kekeliruan dalam setiap pertanyaan yang diajukan wartawan kepada Soerya Respationo. Tepatnya, kecurigaan itu beralasan kalau saja Sugianto adalah pengawal khusus Soerya Respationo. Atau bisa saja, dia adalah seorang preman yang kerap dipergunjingkan orang banyak kalau Soerya Respationo adalah ‘kepala preman’.

Sebab, dalam wawancara antara wartawan dengan Soerya Respationo menguraikan kabar beredar yang tengah diperbincangkan kalau Dosen Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum UNIBA itu terkenal dengan sifat arogansi dan kepala ‘preman’.

Sontak semua terdiam. Soerya Respationo mempersilahkan Sugianto memperkenalkan diri.

“Perkenalkan, saya Sugianto, Anggota Komisi empat DPRD Kepulauan Riau dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” kata Sugianto, sumringah.

Ya, dia adalah Sugianto, satu dari sekian penduduk Kota Batam, Kepulauan Riau yang mendapat kesempatan berubah dari kehidupan Termarginalkan hingga pada akhirnya siapa sangka kalau dia dipercayakan sebagai wakil rakyat di DPRD Kepri.

Perjalanan Sugianto untuk bangkit dari kehidupan termarginalkan merupakan kesaksian untuk menjawab apakah benar Soerya Respationo adalah seorang ‘kepala preman’ sebagaimana kerap disebutkan oleh oknum-oknum tertentu, untuk merusak pemikiran masyarakat. Terlebih ketika setiap pesta demokrasi berlangsung.

Sugianto mengutarakan kisah dirinya jauh sebelum dipertemukan dengan Soerya Respationo. Badung, begitu mungkin sebutan untuk Sugianto sebelum 1997. Jika dikatakan preman, mungkin cocok untuk profesinya kala itu.

Bagaimana tidak, Sugianto mengatakan, sebelum mengenal Soerya Respationo dia bekerja sebagian besar pekerjaannya tidak terarah. Berkecimpung di kehidupan dunia malam menjadi hal yang biasa untuk dirinya.

Sugianto hanya menyelesaikan pendidikan SMA. Jalan terjal di kehidupan gelap seketika berubah ketika dia bertemu Soerya Respationo. Dia diarahkan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Kata Sugianto, sosok Soerya Respationo mengajarkan kebaikan bagi siapa saja yang ingin menjemput keberhasilan. Beragam pesan dan nasehat Soerya Respationo mengantarkan Sugianto menyelesaikan kuliah dan terjun ke dunia politik.

“Tamat kuliah saya ikut beliau sebagai anggota PDI Perjuangan, dari beliau saya belajar politik, dari beliau lah saya belajar kebaikan,” ujarnya.

Setelah bergabung dengan PDI Perjuangan, Sugianto mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk menjadi wakil rakyat di DPRD Kepri. Dia menerima amanah untuk kembali memperjuangkan dan merangkul saudara setanah air untuk dapat berbakti kepada negara.

Sugianto, Anggota DPRD Kepri saat ini. (Foto: aji anugraha)

Disisi lain, Sugiono menceritakan pengalaman umroh pada 2002. Dia bersama rekan-rekannya yang dulu termarjinalkan mendapatkan kesempatan pertama kala itu ke tanah suci.

Ia mengatakan, program Umroh besutan Soerya Respationo untuk para anggota disuatu perkumpulan yang sudah sampai pada perubahan diri.

Sugianto terharu setibanya di tanah suci. Dia tak menyangka pada akhirnya dia sampai juga ke Makkah Al Mukaromah. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata perasaan haru dan melihat segala perilaku buruk selama dia berada di jalan yang tak lurus, namun terjawab disana.

“Tahun 2002 saya bersama Caknur dan anggota Jokoboyo saya di umroh kan, waktu itu romo punya program anggor, artinya beliau selain kita didik dan diarahkan ilmu di kehidupan dunia, melatih keimanan,” ujarnya.

Catatan kehidupan Sugianto itu menjawab pertanyaan dari penilaian oknum-oknum yang selalu menyebutkan kalau saja Soerya Respationo ‘kepala preman’.

Bagi Soerya Respationo, pergunjingan para oknum-oknum politik yang kerap mengatakan dirinya preman dan arogan adalah cara mereka yang tak berani mengadu program dalam pelaksanaan Pilkada. Namun tak sedikit pula yang mengetahui siapa Soerya Respationo sebenarnya. Salahsatunya Sugianto.

Misi Soerya Merubah Prilaku Kaum Termarginalkan

Soerya mengaku dekat dengan para preman, begitu mungkin sebutan untuk mereka yang sulit merubah prilaku kehidupan lebih baik. Namun, dibalik kedekatan itu semua, Soerya memiliki misi tersendiri. Misi khusus itu adalah upaya untuk menyelamatkan mereka yang dikatakan preman “Sampah Masyarakat” atau disebut kaum termarjinalkan.

Dia mengetahui persis kondisi mereka yang dikatakan preman adalah orang-orang yang membutuhkan petunjuk agar dapat berubah kejalan yang baik.

“Rata-rata mereka menyampaikan gak punya cita-cita jadi preman, saya tanya kenapa kamu jadi preman, kami gak punya kerja, sementara kampung tengah harus disisi terus, saya bilang kamu kalau seperti ini terus gak ada kemajuan, maka harus berubah, kamu mau berubah lebih baik,” kata Soerya kala itu.

Penulis : Aji Anugraha
Editor : Ali Atan Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *