Menunggu Kebijaksanaan Walikota Soal Pemindahan Bazar Imlek

Terlihat para pedagang dan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dan DPRD Kepri usai memdiasikan persoalan lapak dagang bazar imlek di Polsek Tanjungpinang Kota. (f-DNP)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Para pedagang pasar malam bazar imlek Pasar Kota Lama menunggu kebijaksanaan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang soal pemindahan lapak dagang ke Jalan Tengku Umar, Selasa (8/1/2019) dinihari.

Keharusan pemindahan tempat berdagang para pedagang bazar imlek yang sebelumnya di Jalan Pelantar II dan sekitarnya, harus berpindah ke Jalan Tengku Umar membuat ricuh situasi para pedagang.

Rata-rata para pedagang tak begitu menyibukkan persoalan pembayaran sewa lapak jualan dari panitia bazar imlek Jalan Pelantar II, atau yang dikelola bersama Acui, senilai Rp600 ribu sebulan, menjelang imlek 2019.

Akan tetapi, persoalan muncul ketika Pemerintah Kota Tanjungpinang melarang para pedagang yang sedari dulu berjualan di Jalan Pelantar II, tepatnya di deretan ruas jalan Pasar Baru Tanjungpinang itu, agar tak berdagang disana.

Padahal, sejak 2004 pemerintah setempat tak pernah mempermasalahkan para pedagang bazar imlek berjualan di Jalan Pelantar II dan sekitarnya, bahkan ini sudah menjadi tradisi dan daya tarik turis mancanagera, dengan kekhasan Pasar Kota Lama. Namun, oleh pemerintah saat ini mereka diharuskan berjualan di Jalan Tengku Umar.

“Berdasarkan hasil musyarawah, malam ini dibiarkan para pedagang berjualan di Jalan ini, besok tak dibenarkan lagi, semua sudah haru di Jalan Tengku Umar. Yang sudah bayar gratis,” kata Biro Ekonomi Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Baca Juga : Pedagang Bazar Imlek Kota Lama Tolak Dipindahkan

Rasa cemas diantara pedagang yang bisanya tersenyum sumringah menjelang dibukanya bazar imlek tahunan itu begitu tampak, jelas dan berangsur mereka mengangkut barang dagangan. Bukanmenempati tempatvyang disediakan pemerintah, mereka malah enggan untuk pindah ke Jalan Tengku Umar.

Sebagian pedagang mengaku tak begitu menghiraukan kebijakan pemerintah soal penempatan berdagang saat bazar imlek, akan tetapi melihat polemik akibat dari larangan berjualan menjadikan mereka enggan untuk berdagang.

“Kami tak masalah mau bayar berapa, tapi tolong hargai kami, kami butuh juga hak, kemeriahan, bukan batasan, lagi pun ini cuma sekali setahun, kalau soal macet bukannya di Jalan Tengku Umar bisa lebih macet kalau dibuka bazar disana,” ujar seorang pedagang yang tak ingin namanya disebutkan.

Kabar keriuhan para pedagang bazar imlek pasar kota lama Tanjungpinang ini terdengar sampai ke telinga para Wakil Rakyat. Anggota DPRD Kepri Rudi Chua, Anggota DPRD Kota Tanjungpinang Reni, bahkan Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, Suparno turun kelokasi untuk berupaya menyelesaikan persoalan ini.

Antara panitia pasar bazar imlek Jalan Pelantar II yang diketuai Acui dan panitia bazar imlek Jalan Tengku Umar dari Pemerintah Kota Tanjungpinang Atek, bersama Pemkot Tanjungpinang duduk bersama menyelesaikan persoalan itu di Polsek Tanjungpinang Kota.

Menurut Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, Suparno mengutarakan, pasar malam bazar imlek di pasar kota lama sudah menjadi tradisi masyarakat Kota Tanjungpinang. Menurutnya pula, Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak perlu membatasi tempat berdagang, apa lagi hanya sebulan.

“Karena ini sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas, saya yakin Pak Syahrul dan Bu Rahma akan mengambil kebijakan yang pro dengan masyarakat. Apa lagi aktivitas toko toko disekitar bazar ini sangat membantu meningkatkan perekonomian,” katanya.

Menurutnya pula, Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak perlu membatasi atau pun menutup lokasi penjualan para pedagang bazar imlek di Jalan Pelantar II. Akan tetapi, memperpanjang lokasi penjualan dari Jalan Pelantar II hingga Jalan Tengku Umar.

“Kalau misalnya kita panjangkan ke Jalan Tengku Umar, Alhamdulillah, ini berarti Pemerintah Kota saat ini memang ingin mengembangkan kota lama ini. Bahkan semua toko tentu sudah menyiapkan persedian barang yang akan dijual,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini diketahui bersama, Pemerintah Kota Tanjungpinang sangat kesulitan untuk mengembangkan Kota Lama, meskipun beberapa program pengembangan sudah berjalan.

Bahkan, pemerintah terus berupaya untuk mempertimbangkan agar toko-toko yang ada disekitar pasar Kota Lama buka sampai pukul 17.00 Wib, atau pukul lima sore hari.

“Itu saja sangat sulit, tapi insyallah pak Syahrul dan bu Rahma akan mengambil kebijakan yang bijaksana, termasuk yang ada di ocean corner. Kita tidak ingin mengahadapkan pemerintah dengan pedagang,” imbuhnya.

Ditanya apakah DPRD Kota Tanjungpinang akan menyelesaikan persoalan lapak dagang baxar imlek ini hingga rapat dengar pendapat, Suparno mengatakan belum terpikir sejauh itu.

“Saya pikir tidak sampai seperti itu lah, Pak Syahrul bisa turun langsung ke masyarakat bisa baca kondisi semua ini. Kondisi pedagang, dan kondisi untuk memajukan pasar Kota Lama,” ungkapnya.

Kendati sudah mendapatkan penjelasan dari wakil rakyat, para pedagang hingga saat ini tetap berharap menunggu kebijakan pemerintah setempat, dan tak ada larangan bagi mereka untuk berjualan sebulan menjelang perayaan imlek di Bazar Imlek Jalan Pelantar II.

DNP

Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top