Kemerdekaan Diri: Mengendalikan diri untuk Taat Kepada Allah SWT. 

Penulis : Neli Hidayah (Dosen IAI Miftahul Ulum Tanjungpinang)

OPINI – Setiap tanggal 17 agustus, bangsa kita memperingati hari kemerdekaan. Pada tanggal 17 agustus 2025 ini, sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Sekiranya mengamati definisi kata merdeka bermakna bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri (Arti kata merdeka – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, t.t.). Maka kemerdekaan Indonesia bisa dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan dan berdiri sendiri (berdikari) menentukan arahnya sendiri.

Bacaan Lainnya

Selain kemerdekaan bangsa diperingati, hal yang juga penting untuk diketengahkan dalam kehidupan sehari-hari adalah terkait kemerdekaan diri. karena sejatinya setiap saat didalam diri terjadi pertentangan, yaitu mengarahkan diri untuk sesuatu hal yang bermanfaat, tidak ada pengaruhnya atau bahkan merugikan diri itu sendiri senantiasa terjadi.

Adapun bagi seorang muslim hakikat kemerdekaan bukanlah kebebasan yang tanpa arah, tapi kebebasan yang fitrah (mengikuti) aturan dan tahu batas yang ditetapkan oleh Sang Pencipta Allah SWT, maka sejatinya kemerdekaan bagi seorang muslim adalah kemampuan mengendalikan diri untuk taat kepada Allah SWT.

Berkaca pada kemerdekaan suatu bangsa atau negara yang diraih dengan perjuangan dan pengorbanan, bagaimana pula dengan kemerdekaan diri. Sudah barang tentu kemerdekaan diri juga diraih setelah berjuang dan berkorban. Pertanyaan yang timbul berjuang dari apa, dan berkorban dengan apa? Dari perspektif Islam tentu saja berjuang mengendalikan hawa nafsu, semisalnya dalam surah Shad ayat 26, Allah SWT mengingatkan:

(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Ayat diatas merupakan tanda peringatan dan juga pelarangan untuk memperturutkan hawa nafsu, sehingga tidak mengindahkan lagi mana yang benar dan mana yang salah. Di ayat yang lain Allah SWT menyebutkan mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu adalah mereka yang akan ditempatkan di surganya Allah SWT dan keberuntungan bagi mereka yang mensucikan jiwanya sebagaimana firmannya di surah al-Nazi’at ayat 40-41 dan al-Syam ayat 9-10

Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Sejatinya nafsu itu sendiri adalah bekal yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia untuk menjalani kehidupan, ia merupakan dasar penggerak dalam aktivitas manusia, sebagai contoh nafsu untuk makan, nafsu untuk melakukan seksualitas, sekiranya dihilangkan nafsu makan tentu saya menyebabkan kematian, atau nafsu melakukan seksualitas dihilangkan tentu saja tidak akan memperoleh keturunan. Namun nafsu itu harus diarahkan atau dikendalikan, sekiranya tidak maka akan berakibat pada kehancuran.

Sehingga pantaslah Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti bahwa peperangan yang terbesar bukanlah perang fisik, tapi perang melawan hawa nafsu (mengendalikannya)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Dailami, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baiknya jihad adalah berjihadnya seseorang terhadap hawa nafsunya”.

Jawaban yang pertanyaan kedua, berkorban dengan apa? Berkorban dengan seluruh potensi yang kita miliki untuk senantiasa taat kepada Allah SWT, mengikuti alur yang ditetapkan oleh Allah SWT, karena ketika pijakan alurnya berdasarkan apa yang Allah SWT hal itu sudah tentu benar, dan kebenaran itu akan mendatangkan ketenangan dan keberuntungan.

Nabi Muhammad SAW menggarisbawahi bahwa: “Seorang mujahid (pejuang) adalah orang yang berjuang mengendalikan hawa nafsu untuk taat kepada Allah SWT” (HR. Ahmad).

Diriwayat yang lain Nabi menempatkan bahwa “orang yang cerdas adalah mereka yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian” (HR. al-Tirmidzi).

Diakhir dari tulisan ini kembali diingatkan bahwa peperangan akan terus akan ada didalam diri seseorang, tinggal dirinya memilih untuk merdeka atau takluk dibawah hawa nafsunya.

Ingatlah janji Allah bagi siapa yang bersungguh-sungguh menuju jalan Allah SWT pasti Allah akan membimbingnya, maka tatkala itulah kemenangan atau kemerdekaan yang hakiki baginya.

“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. al-Ankabut: 69)”

 

Pos terkait