Tiga Tahun Merangkum Prestasi Dinas Kebudayaan Lingga

Muhammad Ishak, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga. (Foto: aci)

PIJARKEPRI.COM, Lingga – Dinas Kebudayaan di Lingga, Kepulauan Riau merangkum beragam prestasi dan trobosan untuk daerah berjuluk Bunda Tanah Melayu tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak, di Lingga, Kamis (5/12) mengatakan, Dinas Kebudayaan Lingga terbentuk sejak 2004 dengen berbagai peleburan.

Ia mengatakan, Dinas kebudayaan Lingga sebelumnya juga mengurusi urusan pariwisata di daerah itu, dalam Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) Pemerintah Kabupaten Lingga disebut SKPD Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, atau dikenal dengan sebutan Disparbud Lingga.

Berubahnya SOTK Pemerintah Kabupaten Lingga pada 2007 juga mengubah penamaan Disparbud menjadi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

SOTK juga kembali berubah pada awal 2017. Penamaan OPD Disbudpar dilebur menjadi Dinas Kebudayaan, sementara untuk Dinas Pariwisata dilebur bersama urusan Pemuda, dan Olahraga (Disparpora).

Menurut Ishak, dibentuknya Dinas Kebudayaan menjadi OPD tersindiri, tidak terlepas dari upaya Pemkab Lingga yang berihikhtiar agar Kabupaten Lingga yang disebut sebagai pusatnya “Bunda Tanah Melayu”.

“Dimana kebudayaan menjadi sangat penting untuk dikelola lebih optimal,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, tidak saja untuk dimajukan dan dilestarikan, pengkhususaan penanganan kebudayaan di Dinas Kebudayaan dibentuk agar dapat dikelola dengan sebaik-sebaiknya.

Upaya itu agar dapat memberi manfaat kepada masyarakat dan daerah. Ishak mengatakan, sama dengan di Provinsi Kepri, kebudayaan juga menjadi OPD sendiri.

Di seluruh kabupaten dan kota se Kepulauan Riau, Lingga menjadi Pemerintah Daerah tingkat 2 yang mengkhususkan penanganan kebudayaan di satu OPD disebut, Dinas Kebudayaan.

Ishak mengatakan, sejak 3 tahun berdiri sendiri, terdapat beberapa pencapaian yang telah diraih Dinas Kebudayaan Lingga.

Pencapaian tersebut sebagaimana yang tertuang di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2020 dan Rencana strategis (Renstra) Disbud Lingga.

Sejumlah pencapaian itu diantaranya memperjuangkan pejuang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Lingga, Kepulauan Riau.

“Ada hal yang sangat penting pada tahun tersebut yang harus dicapai yaitu, menjadikan Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) sebagai Pahlawan Nasional, yang mana usulan pada tahun 2013 belum berhasil,” kata M Ishak.

Beberapa pencapaian lainnya yang telah dilaksanakan Disbud Lingga seperti terlaksananya event budaya internasional, perhelatan Tamadun Melayu Antarbangsa

Menurutnya, kesuksesan perhelatan akbar tersebut berkat kerja keras Bupati Lingga, Alias Wello dan tokoh masyarakat di Kepri. Perhelatan tersebut dihadiri dan dibuka oleh Wapres RI, bapak Yusuf Kalla beserta isteri.

Ishak melanjutkan, paska dianugerahinya Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) sebagai pahlawan nasional di Istana Negara pada, Kamis (9/11/2017). Gelar tersebut diberikan Presiden RI, Joko Widodo dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan tahun 2017.

Menurutnya, pemberian gelar pahlwan untuk tokoh perjuangan dari Lingga, Kepulauan Riau itu berdampak pada meningkatnya, kunjungan wisatawan dalam negeri maupun di luar negeri.

Berdasarkan catatan Disbud Lingga kunjungan wisatawan yang datang ke Lingga, untuk ziarah maupun untuk berwisata sejarah, kunjungan muhibah dan untuk melihat-lihat warisan dan peninggalamln sejarah ataupun yang berkaitan dengan kepalawanan SMRS.

Terobosan lainnya, untuk menjaga aset kebudayaan dan sejarah kerajaan Lingga-Riau juga mendapay llt dukungan dari pemerintah pusat.

Bantuan dari Kemensos RI untuk menata makam SMRS, pembuatan film dokumenter perjuangan SMRS dan penulisan buku khusus tentang SMRS.

Ishak mengatakan, upaya itu dinilai tidak saja dapat menambah pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga akan menjadi bahan ajar kurikulum muatan lokal.

“Dan yang terbaru nama kebesaran SMRS di abadikan untuk nama Masjid yang terbesar di Batam,” terangnya.

Ishak mengatakan, capaian Disbud Lingga lainnya dilihat dari pengusulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang terus meningkat.

WBTB yang diusulkan Disbud Lingga saat masih bergabung dengan Dinas Pariwisata 2016 itu berjumlah 2 ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.

Pencapaian untuk mendapatkan penetapan sebagai WBTB Indonesia terus diupayakan Disbud Lingga setelah menjadi OPD sendiri.

Dalam jangka 3 tahun sejak tahun 2017, sudah 23 WBTB usulan Pemkab Lingga ditetapkan sebagai WBTB Indonesia, dimana pada tahun 2017, terdapat 2 WBTB, tahun 2018 sebanyak 5 WBTB dan tahun 2019 sebanyak 16 WBTB yang ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.

Hingga saat ini total WBTB Kabupaten Lingga yang telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia sudah berjumlah 25 WBTB, yang merupakan terbanyak di Provisi Kepri.

Ishak berpendapat, dengan telah ditetapkan 25 WBTB Kabupaten Lingga sebagai WBTB Indonesia menunjukkan hadirnya pemerintah dalam negara yang menyelamatkan sejarah Indonesia, di Lingga, Kepulauan Riau.

“25 WBTB Indonesia di Lingga tidak saja telah memberikan kontribusi penyelamatan warisan budayanya yang sekaligus juga budaya Provinsi Kepri, tetapi juga untuk khasanah warisan budaya nasional,” pungkasnya.

Pewarta : Puspandito/Aci
Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top