KLHK Tangkap Sindikat Perdagangan Hewan Dilindungi

Burung Bayan, hewan dilindungi yang diamankan KLHK falam operasi tangkap sindikat perdagangan hewan di Batam, Kepri. (f-FIR)

PIJARKEPRI.COM, Batam – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan menangkap sindikat perdagangan hewan dilindungi, di Batam, Kepulauan Riau.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, di Batam, Kamis (21/2) menjelaskan, penangkapan tersebut berawal dari operasi pengamanan jaringan peredaran burung dilindungi di Batam, Kepulauan Riau yang dilaksanakan Ditjen Gakkum LHK bersama Balai KSDA Jambi, Balai Besar KSDA Riau dan Kepolisian Resort Tanjung Jabung Timur.

Operasi tersebut dimulai dari tertangkapnya pelaku jual beli satwa yang dilindungi berupa 13 ekor kakaktua hidup, 11 opsetan burung cenderawasih dan 1 ekor monyet
emas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.

Hasil pengembangan diketahui pelaku di Jambi berinisial E, menjual satwa ke jaringan pelaku di Batam dan Malaysia.

Atas dasar tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan memerintahkan Tim Operasi dari Ditjen Gakkum LHK bersama dengan BKSDA Jambi, Polres Tanjung Jabung TImur yang didukung BBKSDA Riau untuk melakukan operasi penangkapan jaringan perdagangan satwa dilindungi di wilayah Batam.

Pelaksanaan operasi diawali dengan penangkapan seseorang berinisial B yang biasa menjemput satwa yang diperdagangkan oleh Sdr. E (pelaku Jambi) di Pelabuhan Rakyat Pungur. Hasil interogasi terhadap B, menyebutkan bahwa pelaku bertugas untuk menjemput satwa dan diperintahkan oleh bosnya yaitu T.

Atas informasi tersebut, Tim bergerak ke rumah T, dan dari hasil pemeriksaan benar bahwa T yang memerintahkan Sdr. B menjemput satwa yang berasal dari E. Selanjutnya T dibawa ke markas Polsek Batu Ampar kota Batam untuk
dimintai keterangan lebih lanjut.

Selain berhubungan dengan jaringan  T, pelaku di Jambi juga biasa menjual satwa ke  W yang berada di Batam. Tim mendatangi kediaman W dan menemukan 30 ekor Burung hidup, yang terdiri dari 4 ekor burung Kakaktua Jambu Kuning, 6 ekor Kakatua Jambul Jingga, 5 ekor Kakatua Jambul Putih, 4 ekor Bayan, 10 ekor burung Nuri Papua dan 1 ekor Kakaktua Raja di halaman rumahnya.

Tim langsung mengamankan pemilik burung (W) ke Mapolsek Batu Ampat untuk dimintai keterangan dan terhadap 30 ekor burung dibawa ke Kantor Seksi Wilayah Batam BBKSDA Riau untuk dilakukan pengaman sementara.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, menyatakan bahwa keberhasilan ini selain hasil pengembangan kasus juga merupakan hasil dari operasi
intelijen yang kuat dari Ditjen Gakkum LHK, Ditjen KSDAE dan Kepolisian.

Operasi pengamanan peredaran ilegal satwa dilindungi akan terus dilakukan untuk mengungkap jaringan mulai dari daerah asal satwa sampai ke tempat tujuan perdagangan.

Sustyo selanjutnya menyampaikan bahwa dari hasil investigasi Ditjen Gakkum LHK perdagangan ini juga melibatkan pelaku di Malaysia, sehingga ini merupakan jaringan internasional.

“Kami telah mengembangkan kerjasama dengan INTERPOL dan baru minggu kemarin Tim kami ke Malaysia untuk berkoordinasi dan berkerjasama dengan Otoritas Malaysia terkait kasus-kasus penyelundupan satwa liar, kami akan ungkap semua pelaku dan jaringannya”, tutup Sustyo.

Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduard Hutapea, menambahkan bahwa untuk jaringan T yang merupakan pengembangan dari kasus Jambi akan dilanjutkan penanganannya oleh Polres Tanjung Jabung Timur, sedangkan untuk jaringan W. akan dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh PPNS KLHK dan akan diusut tuntas sampai ke jaringan pelaku lainnya.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa upaya ini merupakan komitmen Kementerian LHK dalam aksi penyelamatan SDA
termasuk Sumber Daya Hayati.

Lebih lanjut Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa kejahatan perdagangan ilegal satwa dilindungi merupakan kejahatan yang luar biasa karena selain merugikan Negara dari kehilangan potensi Sumber Daya Hayati, kejahatan tersebut melibatkan jaringan internasional.

“Kejahatan ini sangat luar biasa, seperti kejahatan Narkoba dengan sel-sel jaringan yang terputus-putus, untuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini,” kata Rasio Ridho Sani.

FIR
Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top