Tradisi Reog Ikut Sambut Tahun Baru Islam di Tanjungpinang

Penampilan Reog Sanggar Seni Reog Suromenggolo saat menyambut Tahun Baru Islam 1440 Hijriah, dikenal malam 1 suro bagi masyarakat Jawa, di Jalan Haji Ungar, Tanjungpinang, Kepri, Selasa (11/9). (f-ajianugraha)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Kebudayaan di Indonesia tersebar seantero kepulauan, termasuk diantaranya kesenian kebudayaan Jawa, yakni Reog yang berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur melekat hingga saat ini dalam setiap perayaan hari besar keagamaan.

Tradisi menyambut tahun baru islam, penanggalan 1 Muharram 1440 Hijriah, atau dikenal di kebudayaan Jawa malam 1 suro (Tahun jawa), kerap disambut dengan Grebeg Suro, yakni acara tradisi budaya tahunan masyarakat Ponorogo, Jawa dalam rangkaian pesta rakyat melibatkan Reog.

Tidak hanya di Jawa, penampilan Reog menyambut 1 Muharram 1440 Hijriah yang jatuh pada 11 September 2018 ini juga hadir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Salah satu sanggar seni yang masih aktif menjaga tradisi menyambut tahun baru islam itu yakni, Sanggar Seni Reog Suromenggolo yang sedia tampil di salah satu rumah penduduk di Jalan Haji Ungar, Tanjungpinang, Selasa (11/9) dinihari.

“Ini adalah tradisi masyarakat Jawa Timur, Ponorogo, dalam rangka menyambut 1 Muharram, untuk menghibur masyarakat yang ada disini,” kata Ketua Sanggar Seni Reog Suromenggolo, Purwadi.

Tabuhan gamelan bersuarakan irama alat musik gendang, gong, terompet, kenong, angklung membentuk irama, hingga para pembarong (pemain reog) menari. Tak ayal kesenian ini menjadi tontonan penduduk setempat.

Pemusik Gamelan, musik khas pengiring saat Reog tampil. (f-aji)

Purwadi mengungkapkan, kesenian Reog dibawah Sanggar Seni Suromenggolo sudah giat tampil sejak 2005, bahkan sanggar tersebut mewakili Tanjungpinang pada festival Reog di Ponorogo.

“Sebenarnya kesenian ini aktif dari 2005, mewakili Tanjungpinang untuk ikut festival di ponorogo. Sampai di 2015 karena defisit, kini pernerintah tidak memberangkatkan lagi,” ungkapnya.

Meski pun keterbatasan biaya dalam pemeliharan warisan kebudayan tersebut, Purwadi bersama para pegiat seni Reog di Sanggar Seni Reog Suromenggolo tetap menggelar malam 1 suro. Dia mengharapkan kedepan pemerintah setempat dapat membantu pengembangan kesenian tersebut agar tetap hidup.

“Saya mengharapkan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota membantu kami di sisi pemeliharaan,
terutama dinas pariwisata yang ada anggaran pembinaannya,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan adanya bantuan dari pemerintah setempat, kebudayaan Jawa yang termasuk salah satu kebudayaan yang ada di Kepulauan Riau dapat terus dilestarikan dan tidak menghilang.

“Karena sekali operasional itu, untuk satu bulan memerlukan biaya Rp1 juta, seperti biaya jemur, perawatan bulu Reog asli bulu burung merak, kepala Reog asli harimau yang harus terus dirawat,” ungkapnya.

Pewarta : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top