Petrus Marulak Sitohang : Tanjungpinang Perlu Trobosan Baru Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tanjungpinang, Petrus Marulak Sitohang. (F-aji)

PIJARKEPRI.COM, Kepulauan Riau – Pemerintah Kota Tanjungpinang perlu melakukan terobosan baru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanjungpinang baik yang domestik dan manca negara untuk meningkatkan ekonomi dari berbagai aspek, kata Politisi PDI Perjuangan Tanjungpinang, Petrus Marulak Sitohang.

“Semakin banyak wisatawan berkunjung ke Tanjungpinang akan mampu mendorong peningkatan pembeli ke Toko-toko,” tambahnya, di Tanjungpinang, Jumat (28/9).

Menurut Petrus, fakta yang harus dikejar pemerintah untuk melakukan trobosan terbarukan di sektor ekonomi itu dapat dilihat dari perubahan prefensi konsumsi masyarakat atas minimnya transaksi perdagangan.

Fakta ini dibuktikan dengan tutupnya sejumlah toko di sejumlah pasar Kota Tanjungpinang. Namun, menurutnya, ini bukan menjadi faktor melemahnya ekonomi di kota itu.

“Toko di kota lama banyak tutup belum bisa dijadikan kesimpulan ekonomi menurun dan lesu. Ini bisa disebabkan dua hal, pertama perubahan preferensi masyarakat atas tempat belanja,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, seiring perkembangan waktu, minat konsumsi masyarakat untuk berbelanja di Pasar Kota Lama Tanjungpinang berubah ke pasar semisal, sewalayan atau pun mal-mal.

“Sekarang masyarakat lebih suka belanja di ke kawasan Bintan Centre yang lebih luas. Dan juga ke Tanjungpinang City Centre yg lebih nyaman,” ungkapnya.

Perubahan pola belanja masyarakat dari berbelanja ke toko atau dept store ke belanja lewat toko online (daring) tersebut dinilai tidak hanya terjadi di Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang. Namun, merupakan fenomena nasional bahkan global

“Perubahan ini masih akan terus mencari bentuk dan belum sampai ke bentuk yang final,” ungkapnya.

Petrus menyarankan, Pemerintah Kota Tanjungpiang perlu melakukan terobosan untuk menggesa program-program yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi, semisal meningkatkan kunjungan wisatawan. Upaya tersebut meliputi pelaksaan event yang terkonsep dengan baik.

“Tidak harus event internasional. Event nasional dan regional juga bisa mendatangkan wisatawan asalkan persiapan dan pemasaran eventnya dilakukan dengan baik,” ungkap mantan Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini.

Petrus menilai, dalam menjalankan program kepariwisataan, Pemerintah Kota Tanjungpinang perlu mempersiapkan banyak hal, terlebih untuk menjadi host international.

Tanjungpinang perlu menyiapkan prasarana pelabuhan, transportasi dari pelabuhan ke venue dan pusat kegiatan yang massal dan mudah dijangkau, termasuk layanan taksi online dan tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi wisatawan seperti tempat belanja, hiburan, kuliner dan sebagainya.

Menurutnya, Pemerintah Kota Tanjungpinang belum bekerja efektif. Kebanyakan event yang dilaksanakan di kota itu seperti diarahkan untuk konsumsi lokal, bukan untuk menarik wisatawan.

“Niatnya memang begitu, tetapi persiapan yang dilakukan untuk menarik wisatawan ke Tanjungpinang tidak ada atau tidak efektif,” ujar Petrus Marulak Sitohang.

Kendati banyak kegiatan kepariwisataan di Tanjungpinang yang berkaitan langsung dengan target pencapaian pariwisata agar meningkatkan perekonomian daerah, akan tetapi, menurut Petrus, dalam pelaksanaanya tidak terkait langsung dengan menarik wisatawan dengan target jumlah kunjungan wisatawan.

“Kalau kita lihat berbagai event yang diselenggarakan dinas pariwisata selama ini ramai karena penonton lokal. Penonton dari wisatawan luar daerah dan luar negeri sangat kurang. Padahal mereka itulah yang seharusnya datang, supaya kamar-kamar hotel, restoran dan jasa transportasi lokal terisi dan terpakai,” ungkapnya.

Selain mendesak agar Pemerintah setempat merubah konsep kepariwistaan yang lebih terstruktur dan fokus dalam mencapai target, Politisi PDI Perjuangan inu berpendapat, perlu ada trobosan baru bagi para pelaku usaha.

“Pelaku usaha tidak bisa diam, harus menyesuaikan usahanya dengan perubahan yang sedang terjadi saat ini. Dan saya rasa kebanyakan toko-toko yang tutup itu tidak berarti usahnya gulung tikar. Usahanya hanya berubah dari memajang barang di toko menjadi memajangnya di toko online,” pungkasnya.

Pewarta : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top