Tiga dekade menulis telah membawanya melewati pesantren, ruang redaksi, Bursa Efek Jakarta, hingga Istana Kepresidenan. Kini, Saibansah Dardani berdiri di garis depan PWI Kepulauan Riau.
BATAM – Jauh sebelum menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau, Saibansah Dardani hanyalah seorang santri yang gemar menulis.
Di sebuah pesantren di Sumenep, Madura, ketika usianya masih belia, ia mulai mengenal dunia jurnalistik. Sebuah tulisan yang lahir dari lingkungan pesantren bahkan pernah menembus halaman majalah Panji Masyarakat, media yang dikenal dekat dengan pemikiran Buya Hamka.
Barangkali ketika itu ia belum membayangkan bahwa sebuah tulisan sederhana akan menjadi pintu menuju perjalanan panjang selama lebih dari tiga dekade.
“Kelas dua SMP itu aku telah menulis. Berita pertama itu terbit di majalah Panji Masyarakat,” kenangnya.
Sejak saat itu, tulisan seperti menemukan jalannya sendiri dalam kehidupan Saibansah.
Lahir di Surabaya pada 11 Juli 1972, Saibansah merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan. Ibunya seorang guru.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 47 Surabaya dan diselesaikan pada 1985. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, dan lulus pada 1991.
Pesantren bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama. Di sana, bibit-bibit jurnalistik Saibansah justru tumbuh.
Ia mengenal dunia majalah pesantren yang dikelola para senior. Dari sana, keberaniannya menulis terus berkembang. Bahkan ketika duduk di tingkat SMA atau kelas empat dalam sistem pendidikan pesantren, ia sudah dipercaya menjadi pemimpin redaksi.
“Menjadi pemimpin redaksi sudah dilakukan sejak kelas satu SMA, kalau di pondok itu kelas empat, karena tiga tahun SMP dan tiga tahun di SMA digabung,” ujarnya.
Belajar Menulis dari Kesederhanaan
Perjalanan itu tidak lahir dari kemewahan.
Saibansah mengingat bagaimana kehidupan di masa mudanya dibangun dari kesederhanaan. Uang untuk kebutuhan makan, listrik, dan sekolah bersumber dari ibunya.
Namun keterbatasan tidak membuatnya berhenti belajar. Dia harus mengelola uang itu sebaik-baiknya.
Ia bahkan mencari pengalaman jurnalistik di luar pesantren melalui Lembaga Jurnalistik Mandiri di Jakarta. Di sana ia mempelajari dasar-dasar jurnalistik, termasuk prinsip 5W+1H.
“Di sana aku belajar 5W 1H (Rumus dasar jurnalistik,red),” katanya.
Selepas dari pesantren, ia sempat mengajar di Pesantren Al-Irsyad, sebuah lembaga pendidikan komunitas Arab, di Bondowoso. Di sana ia mengajarkan bahasa Arab.
Mengajar bukan sesuatu yang asing baginya. Di lingkungan pesantren, kewajiban mengajar menjadi bagian dari proses pendidikan.
“Santri itu dinyatakan lulus jika dia bisa mengajar,” katanya.
Namun jalan hidup kemudian membawanya ke arah lain.
Tahun 1991, setelah menamatkan pendidikan pesantren, Saibansah sempat berencana melanjutkan kuliah ke Universitas Kebangsaan Malaysia. Tetapi perjalanan itu tidak berlangsung sebagaimana rencana awal.
Ia justru kembali ke Indonesia dan menuju Pekanbaru. Di kota itu, sebuah koran membuka pintu baru dalam kehidupannya.
Ketika Bahasa Arab dan Inggris Mengantar ke Ruang Redaksi.
Saat berada di Pekanbaru, Saibansah kerap membaca Koran Jawa Pos. Dari kebiasaan membaca itulah muncul keberanian untuk mencoba melamar sebagai wartawan.
“Koran ini kalau di pegang tangan saya masih lengket tintanya. Saya pikir, saya bisa melamar di koran ini,” katanya.
Ia datang membawa modal yang mungkin sederhana, tetapi cukup berarti, yakni kemampuan bahasa Arab, bahasa Inggris, serta pengalaman menulis sejak di pesantren.
“Modal ku bahasa Arab, bahasa Inggris dan aktif menulis sejak pesantren. Itu yang mengantarkanku diterima di Riau Pos,” ujarnya.
Tahun 1992, Saibansah memulai karier profesionalnya di Harian Pagi Riau Pos Pekanbaru, ketika media tersebut berada di bawah kepemimpinan Rida K Liamsi.
Ia bekerja sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi.
Dunia jurnalistik profesional pun dimasukinya dari bawah.
Ia pernah menangani foto AFP (Kantor Berita Prancis,red) dan menerjemahkan materi untuk kebutuhan redaksi sebelum akhirnya diarahkan ke liputan ekonomi.
Setahun kemudian, pada 1993, ia menjadi anggota PWI Riau.
Menjadi anggota organisasi profesi wartawan kala itu bukan perkara administratif belaka. Ada ujian tertulis dan wawancara yang harus dilalui.
“Testnya tertulis dan wawancara, semacam test skripsi. Satu orang menghadap tiga sampai empat penguji,” kenangnya.
Usianya baru sekitar 21 tahun ketika itu.
Ia dinyatakan sebagai anggota muda. Dua tahun kemudian, statusnya meningkat menjadi anggota biasa.
Kartu keanggotaan lama itu bahkan masih ia simpan.
“Saya masih simpan kartu tanda tangan Pak Rida di laminating,” katanya.
Sebuah benda kecil yang menyimpan jejak awal perjalanan panjangnya di dunia pers.
Jakarta: Antara Pasar Modal dan Honor Liputan
Tahun 1997 menjadi babak baru bagi Saibansah Dardani.
Saibansah pindah ke Jakarta dan ditugaskan menjadi perwakilan Riau Pos. Dengan gaji sekitar Rp550 ribu plus tunjangan kemahalan, ia menjalani kehidupan sebagai wartawan Ibu Kota.
Salah satu wilayah liputannya adalah Bursa Efek Jakarta.
Di tempat itu, ia belajar banyak hal tentang dunia pasar modal. Istilah-istilah seperti blue chip, insider trading, hingga dinamika perdagangan saham menjadi bagian dari pengetahuan jurnalistiknya.
“Di sana aku belajar banyak, salah satunya goreng saham, insider trading, blue chip dan lain-lain tentang ekonomi,” tuturnya.
Tetapi menjadi wartawan di Jakarta pada masa itu bukan berarti kehidupan langsung mapan.
Ia mencari tambahan penghasilan dengan mengambil berbagai pekerjaan liputan, termasuk liputan hiburan.
Salah satu yang paling dikenangnya adalah liputan di Indosiar.
“Untuk sekali liputan di Indosiar aku paling senang. Liputan film baru, episode baru, sekali liputan Rp150 ribu, waktu itu uang segitu sudah besar ji, gajiku saja berapa coba sebulan,” katanya.
Dari sana, kariernya kembali bergerak.
Ia bergabung dengan kelompok wartawan ekonomi yang didirikan Yusuf Kalla dan Fadel Muhammad. Pada 1998, penghasilannya meningkat menjadi sekitar Rp1,2 juta.
Kemudian ia masuk ke Majalah Kapital dan berlanjut ke Warta Ekonomi.
Dunia perbankan, pasar modal, dan real estat semakin akrab dengan dirinya.
Namun Jakarta masih menyimpan satu pengalaman yang jauh lebih besar.
Menembus Pintu Istana
Pada 1998, Saibansah mendapat kesempatan menjadi wartawan Istana.
Tetapi memasuki lingkungan Istana Kepresidenan bukan perkara mudah. Terdapat prosedur yang harus dipenuhi.
Ada pemeriksaan dan penyaringan ketat. Latar belakang diperiksa. Kemampuan juga diuji. Seperti kiri, kanan, atas dan bawah.
“Ini untuk melihat latar belakang keluarga,” ujarnya.
Bahasa Arab dan Inggris yang selama ini dipelajarinya di pesantren dan melalui perjalanan pendidikan justru menjadi modal penting.
“Petugas wawancaranya Paspampres. Aku terkejut dia bertanya dalam bahasa Arab dan Inggris,” kenangnya.
Ia akhirnya diterima sebagai wartawan Istana.
Tetapi pada masa itu, bahkan untuk menginjak karpet merah Istana, ada prosedur yang harus dilalui.
“Tidak sembarang orang bisa menginjak karpet merah. Hanya wartawan yang bisa lulus screening yang bisa masuk,” ujarnya.
Pengalaman itu berlangsung kurang dari setahun.
Namun periode singkat tersebut bertepatan dengan salah satu momentum paling bersejarah dalam perjalanan bangsa: gejolak politik 1998 dan berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto.
Saibansah masih mengingat suasana ketika kerusuhan terjadi.
“Yang jelas aku masih ingat waktu kerusuhan itu aku sudah di dalam Istana,” tuturnya.
Dari balik pagar dan prosedur ketat Istana, ia menyaksikan sebuah zaman berganti.
Sebuah Doa yang Membawanya ke Batam
Setelah era Istana, Saibansah kembali ke dunia jurnalistik di Jakarta.
Tetapi kota itu perlahan membuatnya lelah.
Kemacetan yang menghabiskan waktu berjam-jam menjadi salah satu alasan ia ingin pergi.
Pada suatu malam, ia berdoa.
“Ya Allah, keluarkanlah aku dari Jakarta ini,” ucapnya mengenang doa tersebut.
Beberapa waktu kemudian, jalan itu terbuka.
Februari 2002, ia pindah ke Batam.
Seorang sahabat lama, Taufik Muntasir atau Ace, mengajaknya membangun media baru bernama Harian Lantang.
Perpindahan itu bukan sekadar pindah kota.
Batam kelak menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan kariernya.
Di kota industri tersebut, ia ikut membangun media dari awal. Tantangannya tidak kecil. Mulai dari kertas, tinta, percetakan hingga distribusi koran harus dipikirkan.
“Perjuangan terberat ada di Harian Lantang. Saya harus memutar otak untuk produksi koran ini,” kenangnya.
Namun justru dari kesulitan itulah pengalaman baru lahir.
Menyaksikan Lahirnya Provinsi Kepulauan Riau
Harian Lantang tidak berdiri di ruang hampa.
Media tersebut ikut berada dalam arus perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Saibansah menyaksikan bagaimana sejumlah tokoh memperjuangkan agar Kepulauan Riau berdiri sebagai provinsi sendiri.
Nama-nama seperti Huzrin Hood, Arif Rasahan, Sudirman Almon, dan Ismet Abdullah tercatat dalam ingatannya sebagai bagian dari dinamika perjuangan tersebut.
Sebagai wartawan, ia berada di tengah peristiwa.
Ia melihat aksi demonstrasi. Ia mengikuti perkembangan politik. Ia menyaksikan bagaimana perjuangan tersebut akhirnya sampai ke pengesahan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Salah satu kenangan yang paling melekat adalah ketika ia menyaksikan rekan-rekan perjuangan menceburkan Datok Huzrin Hood ke kolam DPR RI, sebagai bentuk ungkapan keberhasilan terbentuknya Provinsi Kepualaun Riau.
Bagi Saibansah, dukungan terhadap pembentukan Kepri bukan semata persoalan politik. Ada alasan yang lebih substantif.
“Saya melihat Kepri ini sangat luas sekali, maka perlu dikelola sendiri. Jika dikelola sendiri akan lebih baik untuk menyejahterakan masyarakat Kepri,” katanya.
Ia juga masih mengingat pidato Gubernur Riau ketika itu, Rusli Zainal.
“Laut bukan pemisah Riau dan Kepri, tapi laut menyatukan kita di bawah langit yang sama,” ujarnya, mengutip bagian pidato yang menurutnya sangat emosional.
Bagi seorang wartawan, sejarah semacam itu bukan hanya untuk disaksikan. Ia harus dicatat.
Menyaksikan Zaman Berubah
Setelah Harian Lantang, Saibansah terus bergerak.
Ia menjadi kepala perwakilan Majalah Pilar untuk Kepri dan Singapura hingga 2004. Kemudian bergabung dan menjadi Wartawan Koran Sindo di Kepri pada 2005 hingga 2006.
Setelah itu, ia menjadi wartawan Harian Ekonomi Neraca untuk wilayah Kepri hingga 2014.
Pada 2014, ia masuk ke Batamtoday.com. Kali ini, tantangannya berbeda.
Dunia pers mulai meninggalkan ketergantungan pada kertas. Media digital mulai tumbuh.
Ketika pertama kali bergabung, ia sempat mempertanyakan masa depan media siber.
“Saat itu sempat aneh, siapa yang baca media ini?” katanya.
Tetapi zaman menjawabnya.
“Sekarang orang tidak bawa koran ke mana-mana, tapi cukup bawa handphone untuk membaca berita,” ujarnya.
Saibansah bukan hanya menyaksikan perubahan itu. Ia menjalaninya.
Dari koran cetak menuju media siber, dari mesin cetak menuju layar telepon genggam, dari berita yang menunggu pagi hari menuju informasi yang hadir hampir setiap saat.
Dari Wartawan Menjadi Penguji Wartawan
Tiga dekade berada di dunia pers akhirnya membawa Saibansah ke peran lain.
Bukan lagi hanya menghasilkan berita, tetapi ikut memastikan wartawan memahami kompetensinya.
Pada 2016, ia mengikuti Training of Trainer penguji UKW PWI.
Setelah lulus, ia mulai menguji wartawan pada 2017 dan kemudian menjadi penguji UKW di Lembaga Uji Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Pada Oktober 2023, perjalanan profesional itu kembali bertambah dengan kepercayaannya sebagai Ahli Pers Dewan Pers. Ia mengikuti seleksi yang digelar di Makassar.
Posisi tersebut membuat pengalaman panjangnya menemukan ruang pengabdian yang lain.
Ia semakin sering melihat persoalan pers bukan hanya dari perspektif seorang wartawan, tetapi juga dari sisi kompetensi dan tanggung jawab profesi.
Menurutnya, tantangan wartawan hari ini semakin rumit.
“Tantangan pers itu makin kompleks dan makin menuntut wartawan lebih cerdas, lebih teliti, lebih berhati-hati lagi,” tegasnya.
Ada banyak aturan yang harus dipahami wartawan. Ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi, UU ITE, hingga aturan mengenai data pribadi.
Karena itu, ia mengingatkan:
“Wartawan perlu banyak membaca dan berhati-hati dalam menjalankan tugasnya.”
Kalimat itu seperti rangkuman dari perjalanan tiga dekadenya.
Teknologi boleh berubah. Platform boleh berganti. Tetapi kecermatan, pengetahuan, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi.
Menulis untuk Mengabadikan Ingatan
Bagi Saibansah, berita bukan satu-satunya cara meninggalkan jejak. Ia juga menulis buku.
Karya-karyanya antara lain 100 Tahun Cerpen Riau, Tol Laut dari Natuna ke Papua, Para Pecinta Selat Philip, The Border Watchdog, Membaca Sani, Mengenang K.H. Muhammad Idris Djauhari, Pahlawan di Jalur Tikus Kepri, Rumah Kelamin, Extraordinary Margiono: Wartawan Cerdik & Dalang Nyentrik, serta Azyumardi Azra: Sang Intelektual Organik yang Rendah Hati.
Sebagian merupakan karya sendiri, sebagian lainnya merupakan karya bersama.
Namun benang merahnya tetap sama, yakni menulis tentang manusia, peristiwa, tokoh, dan perjalanan zaman.
Dari pesantren hingga jurnalistik profesional, Saibansah tidak pernah benar-benar meninggalkan kebiasaan menulis yang tumbuh sejak usia muda.
PWI Kepri dan Babak Baru Pengabdian
Kini, Saibansah Dardani dipercaya memimpin PWI Provinsi Kepulauan Riau untuk periode 2025 hingga sekarang.
Jabatan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjangnya.
Ia pernah berada di posisi sebagai wartawan muda yang harus mengikuti ujian untuk menjadi anggota PWI.
Pernah menjadi wartawan ekonomi. Pernah berada di Bursa Efek Jakarta. Pernah menembus ruang Istana Kepresidenan. Pernah menyaksikan langsung pergolakan politik 1998. Pernah meninggalkan Jakarta dengan sebuah doa. Pernah membangun media di Batam dari keterbatasan. Pernah menyaksikan perjuangan lahirnya Provinsi Kepulauan Riau. Pernah menguji kompetensi wartawan.
Dan kini dipercaya memimpin organisasi profesi wartawan di wilayah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Di titik ini, jabatan ketua PWI bukan sekadar sebuah posisi. Ia adalah pertemuan antara pengalaman dan tanggung jawab.
Sebab dunia pers yang dihadapinya hari ini jauh berbeda dengan dunia pers ketika ia memulai karier pada 1992.
Tetapi ada sesuatu yang tetap sama, yakni tulisan, fakta dan tanggung jawab.
Lebih dari tiga puluh tahun Saibansah Dardani berada di dunia jurnalistik. Waktu telah mengubah koran menjadi portal, ruang redaksi menjadi ekosistem digital, dan berita cetak menjadi informasi yang bergerak dalam hitungan detik.
Tetapi perjalanan itu justru memperlihatkan satu hal sederhana: seorang wartawan boleh berganti medium, tetapi tidak boleh kehilangan marwah profesinya.
Dari seorang santri yang menulis di Madura, Saibansah tumbuh menjadi wartawan yang menembus ruang-ruang penting republik.
Ia pernah berdiri di depan karpet merah Istana. Pernah berada di tengah hiruk-pikuk perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Dan kini berdiri di garis depan organisasi kewartawanan di tanah yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Barangkali itulah makna paling dalam dari perjalanan panjangnya.
Bukan tentang seberapa banyak jabatan yang pernah diduduki.
Bukan pula tentang berapa banyak berita yang pernah ditulis.
Melainkan tentang bagaimana sebuah pilihan sederhana untuk menulis ketika masih menjadi santri, perlahan berubah menjadi jalan pengabdian selama puluhan tahun.
Dari catatan kecil seorang santri, perjalanan itu akhirnya sampai pada tanggung jawab besar menjaga marwah pers Kepulauan Riau.
Pewarta : Aji Anugraha







