PIJARKEPRI.COM – Di bawah terik matahari Tanjungpinang, palu dan semen pernah menjadi saksi kerja keras Rusli. Setahun lebih lalu, ia menumpahkan tenaga dan waktu untuk membangun enam pintu ruko di Kampung Baru, Bintan.
Namun hingga hari ini, jerih payah itu tak pernah benar-benar berbuah. Upah senilai Rp37 juta yang seharusnya ia terima, masih menggantung tanpa kepastian.
Rusli adalah pekerja bangunan biasa di Tanjungpinang, seorang ayah dari tiga anak yang hidupnya bergantung pada keringat harian. Proyek ruko yang dikerjakannya milik Asun, seorang kontraktor.
Sejak pekerjaan rampung, janji pembayaran hanya tinggal janji. Telepon tak diangkat, pesan singkat tak berbalas, dan harapan Rusli perlahan berubah menjadi beban yang menekan dada.
Lebih dari sekadar angka, tunggakan itu menyeret Rusli ke pusaran masalah yang tak pernah ia bayangkan. Ia harus menanggung upah tukang lain yang bekerja bersamanya.
Kini, mereka justru mengejarnya, menuntut tanggung jawab, bahkan mengancam membawa persoalan ini ke ranah hukum.
“Sudah mau setahun, Bang. Totalnya Rp37 juta. Saya hubungi dia (Asun,red) tak pernah diangkat, WA tak dibalas. Mengeluh pun tak ada hasil,” ucap Rusli, Rabu (18/2/2026) dengan suara yang bergetar menahan perasaan.

Dampaknya merambat ke rumah kecil yang ia sewa. Anak bungsunya hingga kini belum bisa bersekolah karena tak ada biaya mengurus kepindahan administrasi dari kampung halaman ke Kepulauan Riau.
Anak keduanya, seorang siswi Madrasah Aliyah, menunggak uang sekolah hingga Rp3 juta. Sementara itu, biaya kontrakan dan kebutuhan makan sehari-hari kian menumpuk.
“Saya mau mengadu ke siapa lagi, Bang. Anak nunggak sekolah, tukang yang saya bawa kerja mau laporkan saya ke polisi, rumah kontrakan nunggak, makan pun sulit,” katanya lirih.
Harapan Rusli sederhana, yakni upah yang menjadi haknya dibayarkan, agar hidupnya kembali berjalan.
Terpisah, redaksi pijarkepri.com mencoba mengonfirmasi Asun. Ia membenarkan adanya persoalan tersebut dan meminta waktu untuk menyelesaikannya.
“Ya benar. Saya nanti telepon Rusli. Beri saya kesempatan duduk dulu, kita hitung bersama-sama,” ujarnya singkat.
Namun janji itu kembali menggantung. Hingga berita ini ditulis, menurut Rusli, sisa pembayaran belum juga diterimanya.
Di ambang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, Rusli hanya ingin menyambut puasa dengan hati yang lebih tenang.
“Saya sudah sampaikan ke dia, mau nyambut puasa. Tapi tetap tak dibalas, telepon maupun WA,” katanya pelan.
Bagi Rusli, puasa tahun ini bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia juga harus menahan perih, menunggu hak yang belum pasti, sembari berharap keadilan tak terus menghindar dari hidupnya.
Pewarta : Aji Anugraha







