PIJARKEPRI.COM – Genap satu tahun duet kepemimpinan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah dan Wakil Wali Kota Raja Ariza menakhodai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Di tengah tekanan fiskal akibat penurunan dana transfer pusat, pasangan dengan visi besar “Tanjungpinang BIMASAKTI” itu tetap mencatatkan sejumlah capaian terukur, dari penguatan kualitas manusia, pengentasan kemiskinan, hingga penghargaan tingkat nasional.
Visi BIMASAKTI, yakni Berbudaya, Indah, Melayani, Aman, Sejahtera, Agamis, Kreatif, Berteknologi, dan Berintegritas, diterjemahkan dalam lima misi pembangunan.
Fokusnya jelasnya yakni, infrastruktur berkelanjutan bernuansa Melayu, peningkatan kualitas SDM, percepatan ekonomi produktif dan kreatif, tata kelola pemerintahan modern berbasis digital, serta lingkungan hidup berketahanan iklim.
Namun, tahun pertama bukan tanpa tantangan. APBD Kota Tanjungpinang Tahun Anggaran 2026 turun Rp55,62 miliar dibanding APBD Perubahan 2025, imbas kebijakan pemerintah pusat yang memangkas dana transfer daerah sebesar 8,7 persen.
“Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah kota tetap memprioritaskan program menyentuh langsung masyarakat dan menjaga kualitas layanan publik,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, Teguh Susanto.
Di sektor pembangunan manusia, tren positif terlihat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tanjungpinang selama 2023–2025 berstatus “sangat tinggi” (≥80), dengan rata-rata pertumbuhan 0,51 persen per tahun. Pada 2025, Tanjungpinang menempati peringkat kedua kabupaten/kota se-Provinsi Kepulauan Riau. Pertumbuhan itu ditopang percepatan Rata-rata Lama Sekolah (naik 1,22 persen) dan Umur Harapan Hidup (naik 0,48 persen).
Stabilitas ekonomi daerah juga terjaga. Inflasi year-on-year dan year-to-date per Desember 2025 tercatat 2,75 persen dengan Indeks Harga Konsumen 108,64. Sumbangan terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,4162 persen. Di sisi lain, realisasi investasi melampaui target: 107 persen pada 2024 dan melonjak menjadi 125 persen pada 2025—indikasi meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di ibu kota provinsi itu.
Upaya pengentasan kemiskinan menunjukkan hasil konkret. Dalam kurun 2024–2025, jumlah penduduk miskin turun menjadi 13.470 jiwa, berkurang 1.920 orang dibanding tahun sebelumnya.
Pemerintah kota menggelontorkan total realisasi Rp80,07 miliar dari APBD dan Rp44,53 miliar dari APBN untuk optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.
Program tersebut mencakup pengurangan beban pengeluaran warga, penurunan kantong-kantong kemiskinan, hingga peningkatan pendapatan masyarakat. Sebanyak 1.828 kader posyandu juga menerima insentif dengan total Rp3,3 miliar.
Di bidang pendidikan, Pemko meluncurkan program seragam dan perlengkapan sekolah gratis bagi siswa kelas I SD dan VII SMP negeri maupun swasta.
Total anggaran yang direalisasikan mencapai Rp2,82 miliar, mencakup LKS serta seragam OSIS, batik, olahraga, baju kurung, sepatu, dan tas. Program ini menyasar ribuan siswa dan menjadi bagian dari komitmen pemerataan akses pendidikan.
Terobosan lain adalah berdirinya Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 yang diresmikan 30 September 2025, menampung 100 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Di sektor kesehatan, layanan pengobatan gratis di seluruh puskesmas selama setahun dan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis Anak Sekolah mempertegas orientasi “Melayani” dalam visi BIMASAKTI.
Penguatan nilai “Agamis” juga diwujudkan melalui bantuan insentif keagamaan senilai Rp895 juta untuk imam, penjaga rumah ibadah, guru TPA/TQ, guru sekolah Kristen dan Buddha, petugas fardu kifayah, serta pembimbing keagamaan.
Program wajib mengaji dengan sertifikat sebagai syarat masuk sekolah diluncurkan untuk membina moral generasi muda.
Dalam tata kelola pemerintahan, digitalisasi terus digenjot, termasuk pengembangan aplikasi pendataan Kartu BIMA SAKTI agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan menghindari duplikasi penerima.
Pemerintah juga membentuk CSIRT sebagai tim tanggap insiden siber sektor pemerintah daerah, memperkuat aspek keamanan digital.
Rentetan penghargaan nasional mengiringi tahun pertama kepemimpinan Lis–Raja. Di antaranya, Juara II Trisakti Tourism Award 2025 kategori wisata sejarah untuk destinasi Pulau Penyengat, penghargaan Kementerian Kesehatan atas capaian surveilans penyakit menular, hingga peringkat terbaik kedua Keterbukaan Informasi Publik tingkat Provinsi Kepri 2025. Kelurahan Bukit Cermin dan Tanjung Ayun Sakti juga menorehkan prestasi di tingkat nasional dan provinsi.
Menurut Teguh, capaian tersebut menjadi fondasi menuju Tahap I Pembangunan 2026 sebagai fase membangun kota inklusif dan berbudaya melalui revitalisasi tata kelola.
“Target kami jelas, pada 2030 Tanjungpinang benar-benar menjadi kota yang berbudaya, indah, melayani, aman, sejahtera, agamis, kreatif, berteknologi, dan berintegritas. Tahun pertama ini adalah pijakan awal,” ujarnya.
Setahun berjalan, kepemimpinan Lis–Raja memperlihatkan arah: menjaga stabilitas di tengah tekanan fiskal, memperkuat kualitas manusia, serta membangun fondasi tata kelola modern.
Tantangan tentu belum selesai, tetapi angka-angka dan capaian menjadi catatan bahwa perubahan tengah diikhtiarkan secara pelan, terukur, dan menyentuh denyut kehidupan warga kota.
Pewarta : MH Luthfi
Editor : Aji Anugraha







