PIJARKEPRI.COM – Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Iman Sutiawan, merayakan ulang tahunnya yang ke-50 secara sederhana namun penuh makna di kediamannya di kawasan Patam Lestari, Sekupang, Kamis (6/11).
Acara yang dihadiri keluarga, sahabat, sejumlah anggota DPRD Kepri dan DPRD Kota Batam, Kepala Kemenag Batam, tokoh masyarakat, serta para santri itu berlangsung hangat dan akrab.
Momen paling berkesan terjadi ketika Iman membacakan puisi berjudul “Doa Sederhana dari Seberang Samudera”, karya sastrawan Kepri Ramon Damora.
Dengan suara tenang dan ekspresi penuh penghayatan, Iman menuturkan bait demi bait yang menggambarkan perjalanan seorang anak pulau yang tumbuh dengan keteguhan dan ketulusan.
“Puisi ini menjadi kado istimewa bagi saya, hadiah dari seorang sahabat,” ujar Iman usai membacakan puisi tersebut.
Karya Ramon Damora yang juga komisioner KPID Kepri itu memotret makna laut bagi masyarakat kepulauan, bukan sekadar bentang air, melainkan ruang kehidupan yang membentuk karakter manusia. Salah satu baitnya berbunyi reflektif:
“Pulau adalah darahku. Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.”
Sebagai putra asli Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Iman mengaku tersentuh. “Saya membaca puisi ini dengan hati. Saya tahu betul bagaimana perjuangan orang hinterland,” katanya.
Politisi Partai Gerindra itu kini menjabat Ketua DPRD Kepri periode 2024–2029. Sebelumnya, ia dua kali menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Batam pada periode 2014–2019 dan 2019–2020.
Bagi Iman, perjalanan hidup dari pulau kecil hingga ke kursi parlemen provinsi adalah amanah untuk memperjuangkan masyarakat pesisir dan kepulauan.
“Saya hanya ingin laut tidak lagi menjadi batas bagi manusia,” ucapnya.
Perayaan ulang tahun itu ditutup dengan doa bersama, ramah tamah, dan hiburan ringan. Tanpa kemewahan, namun penuh ketulusan, seperti laut yang tenang menyimpan kisah seorang anak pulau yang tetap setia pada akar dan cita-citanya.
Berikut puisinya:
Doa dari Seberang Samudera
~ Kepada Bang Iman Sutiawan
Seseorang datang dari gelombang paling jauh — sehelai suara lembut yang tumbuh dari rahim pulau.
“Pulau adalah darahku,” katanya.
Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.
Ia berjalan dari kampung tempat angin mengaji, dari senyum asin nelayan yang menjemur harap, di atas papan-papan yang dikelupas matahari.
Ia tahu bagaimana perahu menjadi doa,
bagaimana jarak adalah nasib yang menua dalam kesunyian. Ia tahu arti sebuah penantian pada ombak
yang datang tanpa jaminan.
Maka ketika ia berdiri di hadapan negeri ini, tak ada gemuruh tepuk tangan yang ia kejar, karena ia sendiri adalah tepukan lembut takdir pada bahu dunia yang letih, tak ada mahkota yang ia cari.
Ia hanya ingin laut tidak lagi menjadi batas bagi manusia.
Ia datang dengan ketulusan yang seperti sungai: mengalir tanpa peta,
namun sampai pada semua rumah-rumah yang menaruh harapan.
Lalu dia bilang: kita bukan superman…
Duhai, betapa merendahnya cahaya ketika bersinar di tangan yang tenang.
Sebab yang kau bawa bukanlah keajaiban, tapi, agaknya, kesabaran:
yang lebih kuat dari gelombang, yang lebih dalam dari karang, lebih setia dari mercusuar.
Duhai anak pulau, kau telah menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini berbicara kepada laut, tetapi tak pernah didengar kota. Usia adalah gelombang yang datang silih berganti. Namun hari ini, 6 November 2025, 15 Jumadil Awal 1447 Hijriah, laut tampak tenang sekali, angin seperti sedang membaca sebuah nama yang takkan pernah berhenti memberi arti.
Kami belum layak memberi selamat kepadamu, karena engkau telah lebih dulu menebar selamat bagi banyak hidup. Kami hanya menitipkan satu doa yang sederhana dari seberang samudera: semoga langkahmu selalu kembali kepada cinta yang semula jadi itu, cinta yang bergemuruh ketika engkau berkata: “saya melakukan semua ini dengan hati…”
Kepada engkau yang lahir di sebuah pulau yang tidak muncul pada ramalan cuaca televisi. Kepada engkau yang tumbuh di tempat di mana angin tahu banyak rahasia, dan orang belajar menghitung jarak dari ombak, bukan dari kalender.
Kepada engkau yang tidak tergesa-gesa menjadi siapa-siapa, sebab di pulau semua orang tahu bahwa bahkan kelapa jatuh pun punya waktunya sendiri, dengarlah; kami titipkan perahu, sampan, jaring, mimpi, duka nestapa…
Dirgahayu, Bang Iman. Kepadamu kami akan selalu belajar bagaimana beriman kepada cara pulau bersujud dan mencintai: senyap, setia, tapi tidak meminta disaksikan.
Batam, 6 November 2025
(RD/ANG)







