Inspirasi BUMN

Oleh Zulfata Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM), tinggal di Tebet, Jakarta Selatan
Oleh Zulfata Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM), tinggal di Tebet, Jakarta Selatan

OPINI – Agenda diskusi pada pertemuan ke tujuh kali ini tidak melalui pesan whatsapp, tetapi ditentukan melalui pernyataan setelah diskusi inspirasi sebelumnya. “Besok siang kita ketemu di sini lagi ya”, ujar narasumber utama kepada para pelaku diskusi saat itu. Esok harinya, sebelum ke Benhil, tempat bincang-bincang inspirasi itu berlangsung, saya berusaha menelusuri berbagai informasi terkait tema strategis yang hendak didiskusikan, yaitu tentang potret BUMN saat ini. Setelah itu, saya menuju kelokasi diskusi, cuaca di Jakarta sangat bersahabat hari itu, keadaan jalan pun tidak begitu padat dan selamat dari kemacetan, dan tibalah saya ke Benhil tepat waktu.

Hari itu diskusi dimulai lebih cepat dari jadwal-jadwal diskusi sebelumnya, peserta dan narasumbenr tampak terbata. Narasumber yang hadir adalah orang-orang yang berpengalaman banyak menjabat pada beberapa jabatan strategis di BUMN dan perusahaan swasta di Indonesia. Saat diskusi hendak dimulai, tidak diketahui pasti mengapa semua pelaku hari itu memesan kopi Aceh, bukan kopi Kapal Api. Barang kali kopi Aceh sangat cocok dinikmati untuk dinikmati ketika diskusi tetang BUMN.

Kopi Aceh pun dihidangkan, meja kaca diskusi berhiasakan gelas seakan berwarna hitam kopi Aceh, beberapa narasumber dan perserta pun meminum kopi, perlahan-lahan asap rokok mulai mengepul tipis di rungan diskusi, suasana santai pun terbangun. Dalam kondisi itu, saya mulai memantik diskusi dengan pertanyaan “bagaimana memahami BUMN bagi generasi masa kini bang?” apa prestasi BUMN saat ini yang telah dilakukan? Bagaimana pula kepemimpinan ET dalam BUMN?, apa saja yang telah dicapai atau dibenahinya? Dari pertanyaan ini, narasumber mulai membuka pengantar umum terkait BUMN. BUMN itu didirikan tentunya memiliki landasan hukum, tujuan dan klaster-klasternya. Dari sisi landasan hukumnya, BUMN dalam bentuk Peseroan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998. Kemudian BUMN dalam bentuk perusahaan umum diatur dalam peraturan pemerintah Nomor 13 Tahun 1998.

Jika dilihat ke belakang, kehadiran BUMN ini ada kaitannya dengan pelaksanaan untuk memperkuat perekonomian nasional melalui penerapan demokrasi ekonomi di Indonesia. Sehingga tujuan umum BUMN itu adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya yang kuat, serta mengejar keuntungan dalam meningkatkan nilai badan usaha. Hal ini dapat didalami melalui Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003. Ada soal bagaimana BUMN memberikan sumbangan perkembangan nasional di sana, mengejar keuntungan, menyelenggarakan kemanfaatan umum, menjadi perintis usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta atau koperasi, hingga terlibat aktif dalam memberikan bimbingan dan bantuan kepada pelaku atau golongan masyarakat yang ekonominya masih lemah.

Peserta diskusi masih belum ingin melontar pertanyaan pada tahapan ini, narasumber utama tampak masih terus melanjutkan penyampaian materinya bahwa secara umum BUMN adalah pemodalnya itu adalah negara Indonesia. “Namanya saja badan usaha milik negara, berarti semua fasilitas dan tujuannya untuk kepentingan negara” ujarnya. Jika ditelusuri misalnya, saat ini ada dua belas klaster BUMN, dan barangkali ada sekitar 107 BUMN yang beroperasi di Indonesia. “Semua ini tentunya tidak hanya dapat dilihat dari permukaan saja, tetapi harus dilihat dari secara keseluruhan, kita harus melihat BUMN dari masa ke masa, dari tatakelola masa orde baru hingga masa kini, dari rentetan ini kita dapat melihat sejauhmana prestasi BUMN”, papar narasumber utama sembari menghisap rokoknya.

Kemudian, sebelum melanjutkan materi, tak terasa satu gelas kopi Aceh telah habis, sehingga narasumber utama menambah satu gelas kopi Aceh lagi, mungkin hal ini terjadi akibat materi yang diberikan sangat menarik, sehingga satu gelas kopi Aceh saja tak cukup. Di sela itu, saya kembali melontarkan pertanyaan, mana yang lebih efektif tata kelola BUMN masa orde baru dari pada masa sekarang?

Narasumber utama menjawab bahwa kalau dulu, BUMN berada di bawah kementerian yang sifatnya teknis, sementara saat ini memiliki badan sendiri dan cakupannya jadi banyak. Dari pesoalan efektif atau tidaknya itu tergantung pada kepemimpinan BUMN itu sendiri. Misalnya coba perhatikan kepemimpinan BUMN yang dilakukan ET saat ini, ia sedang beruhasa ingin menjadikan BUMN agar menuju kearah garapan internasional.

Selain itu ET dapat dianggap sukses membenahi beberapa kebijakan soal merger dalam perusahaan BUMN. Ditambah lagi pada saat ini BUMN dominan memiliki sumber daya manusia yang profesional dan berjiwa semangat muda dalam membenahi BUMN. Lihat saja misalnya semangat ET yang tampak ingin menutup perusahaan-perusahaan BUMN yang dianggap tidak efektif, hingga mencopot para pejabat BUMN yang bermasalah. Hal ini dapat dilihat dari kasus pesawat Garuda dan perusahaan lainnya yang dibenahi masa kepemimpinan ET.

Karena suasana diskusi tampak tidak mencair dan terkesan tidak humoris dan santai, saya kembali memantik pertanyaan apakah kemampuan ET yang membenah BUMN tersebut dapat dijadikan modal politiknya untuk menjadi wakil presiden setelah ia mengeluarkan pernyataan bahwa presiden Indonesia trennya berasal dari Jawa? Mendengar pertanyaan saya ini, semua peserta dan narasumber tertawa pun tertawa. Suasana diskusi tampak mulai seru, humor dan santai.

Narasumber utama pun sambil tertawa menjawab bahwa “kalau persoalan calon presiden, ET tampak mundur, tapi sepertinya ET ingin melirik posisi sebagai calon presiden saja”, imbuh narasumebr utama. Kemudian narasumber utama melanjutkan bahwa “ET itu unik, sebagai calon wakil presiden mungkin ia banyak partai politik yang ingin melamarnya, apakah itu karena ia berpengalaman dalam menjadi bagian pemenangan presiden Jokowi dulu, atau karena ia sosok orang yang ramah mendengar masukan, dan juga orang kaya”. Kata akhir dari kalimat narasumber ini membuat semua pelaku diskusi kembali tertawa.

Seperti biasanya, diskusi inspirasi ini berlangsung hingga malam, karena hari esoknya adalah hari kerja, salah satu narasumber menyatakan “malam ini sampai jam berapa?”. Kemudian narasumber utama menjawab “sibak rukok teuk”. Dan semua peserta sambil tersenyum menjawab “ya ya ya”. Akhirnya kalimat penutup diskusi malam itu telah keluar, dan diskusi inspirasi BUMN akan dilanjutkan pada sesi diskusi selanjutnya.

Oleh Zulfata : Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM), tinggal di Tebet, Jakarta Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *