
PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – SUARA tangis balita laki-laki disudut kontrakan kecil Jalan Gudang Minyak Gg. Punai 2 RT.01/RW.01 Kelurahan Tanjung Unggat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau terdengar sampai di rumah Baharudin (42).
Tak hanya beberapa menit atau selang waktu bahkan berhari-hari suara balita itu mengusik hati Baharudin, risau bercampur tanya, anak siapa yang menangis. Terjawab, ternya balita itu adalah anak tetangganya, anak ke tiga dari pasangan Ratnawati Zebu (32) dan Sudarmaji (34).
Keduanya merupakan pendatang dari daerah Pekanbaru, Riau dan baru saja tiba di Kota Tanjungpinang. Anak ketiganya itu baru saja dilahirkan tepatnya di Puskesmas Pancur, Tanjungpinang sebulan yang lalu itu sepertinya tengah kesakitan, menahan penyakit yang ada di dalam tubuhnya.
Tangisan yang di dengar Bahar pun terjawab. Anak Ratnawati itu tengah terbaring dengan perut membuncit, seperti mau meletus. Sesekali tubuhnya menggeliat, menahan sakit, mengeluarkan teriak, tangis bercampur marah.
Ratnawati dan suaminya tak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya mengoleskan minyak angin di perut balita itu. Keduanya tak memiliki kartu BPJS kesehatan, identitas kependudukan, ditambah lagi ekonomi keluarga yang tak berkecukupan menyimpulkan kalau saja keluarga itu kurang mampu.
Bahar berinisiatif agar keluarga itu segera membawa buah hati tercinta ke Rumah Sakit setempat. Namun, keluarga tidak berani, lantaran masih menyoalkan masalah pendanaan dan BPJS Kesehatan.
“Tapi mereka gak berani sebab gak ada sama sekali uang dan BPJS. Orang tua nya gak berdaya sama sekali, sebab untuk makan pun kadang istri saya yang bawain makanan,” ujar Bahar.
Kabar ini kemudian di dengar Pengurus Perhimpunan Melayu Raya Korwil Tanjungpinang. Gerak cepat pengurus Melayu Raya segera meninjau kondisi keluarga itu, Selasa (10/12/2019).
Seorang pengurus Melayu Raya, Ani, menyimpulkan dan membenarkan, kalau saja kondisi keluarga tersebut tengah kesulitan biaya perobatan anaknya, yang tengah mengalami kesakitan dengan perut membengkak.
“Kondisi keluarga ini benar-benar memprihatinkan,” ungkapnya.
Melayu Raya segera membentuk tim untuk mengurus administrasi kependudukan dan mengantarkan balita tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah Kepulauan Riau, Radja Ahmad Thabib, di Tanjungpinang.
Dokter Melayu Raya, Putra segera menangani balita tersebut, melalui penanganan khusus. Tenaga medis RSUD Kepri membawa balita tersebut keruang incubator, untuk mendapatkan perawatan khusus.
Ketua Melayu Raya Tanjungpinang, Arie Sunandar mengutarakan, rasa haru kepedulian pengurus dan kerabat Melayu Raya untuk memberikan harapan kesembuhan bagi balita tersebut.
“Bagaimanapun mereka adalah saudara kita yang juga membutuhkan bantuan, karena kita semua bersaudara,” ungkapnya.
Tangisan balita usia satu bulan itu perlahan terhenti ketika dokter Melayu Raya di RSUD Kepri menanganinya.
Pewarta : Aji Anugraha
Editor : Alashari







