Ruhana Kuddus, Sosok Wartawan Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada 6 Tokoh

Foto: Muchlis Jr – Biro Pers Sekretariat Presiden

PIJARKEPRI.COM, Jakarta – Almarhumah Ruhana Kuddus, tokoh dari Provinsi Sumatera Barat seorang wartawati pertama di Indonesia mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo, di Jakarta, 8 November 2019.

Ruhana Kuddus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bersama 5 tokoh lainnya, yakni Almarhum Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko), tokoh dari Provinsi Sulawesi Tenggara, Almarhum Prof. Dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H., tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta, Almarhum Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta; Almarhum Dr.(H.C.) A.A. Maramis, tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara; Almarhum K.H. Masjkur, tokoh dari Provinsi Jawa Timur.

Pemberian gelar tersebut berpedoman pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang mengatur kriteria pemberian tanda kehormatan.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 120/TK/Tahun 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019 Presiden Jokowi menetapkan nama-nama di bawah ini sebagai Pahlawan Nasional.

Presiden Jokowi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam orang tokoh yang semasa hidupnya dianggap berjasa dalam perjuangan di berbagai bidang untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Penganugerahan yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 8 November 2019, tersebut dihadiri oleh para ahli waris dari keenam tokoh tersebut.

Ruhana Kuddus

Dua tahun menanti sejak diusulkan pada 2017, akhirnya pemerintah secara resmi menobatkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kuddus wartawati pertama asal Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang mendirikan surat kabar Sunting Melayu.

Terlahir dari pasangan Muhammad Rasyad Maharaja dan Kiam pada 20 Desember 1884, Ruhana merupakan perempuan Minang yang berjuang mengangkat harkat kaumnya yang ketika itu masih terpinggirkan.

Ia merupakan tokoh yang menjadi pelopor pergerakan perempuan pada masanya, fokus berjuang melawan ketidakadilan pada kaumnya pada masa itu.

Apalagi pada eranya, perempuan masih identik dengan urusan domestik yakni sumur, dapur, dan kasur, sedangkan pendidikan merupakan hal tabu.

Atas hal itu di kampungnya di Koto Gadang, sosok yang akrab disapa One berinisiatif membuka sekolah dan mengajar anak-anak membaca dan mengaji.

Ia pun mendirikan perkumpulan Kerajinan Amai Setia sebagai tempat pendidikan kaum perempuan di Koto Gadang pada 11 Februari 1911.

Dikutip dalam Buku Rohana Kudus yang ditulis Fitriyanti, lewat perkumpulan tersebut derajat kaum perempuan mulai terangkat karena menjadi tempat belajar menulis dan membaca, berhitung, keterampilan rumah tangga, agama dan akhlak, kepandaian tangan, menjahit dan menggunting, hingga menyulam.

Sejak saat itu, perkumpulan Kerajinan Amai Setia menjadi lembaga yang berhasil mengangkat harkat perempuan menjadi lebih terdidik.

Kerajinan Amai Setia juga berkembang menjadi usaha dagang hasil produksi perempuan dan pusat kerajinan rumah tangga di Koto Gadang.

Lembaga tersebut terus membesar hingga mendapatkan pinjaman modal dari bank, dan juga menjadi wadah simpan pinjam untuk perempuan dalam mengembangkan usahanya.

Sejak kecil Ruhana sudah akrab dengan surat kabar karena ayahnya saat bertugas di Talu, Pasaman membelikannya surat kabar untuk terbitan Medan, yaitu Berita Kecil.

Ketika itu sebagaimana dikutip dari Tamar Jaya dalam Rohana Kudus Riwayat Hidup dan Perjuangannya menulis setiap sore, Ruhana kecil pergi ke tempat orang ramai berkumpul lalu membacakan surat kabar.

Bahkan, saat Ruhana berusia delapan tahun dan ditugasi mengasuh kedua adiknya, ia membaca surat kabar dengan lantang yang merupakan sesuatu yang luar biasa ketika itu karena hampir tak ada anak perempuan yang pandai membaca.

Kedekatan Ruhana dengan surat kabar menjadikan ia sebagai jurnalis perempuan pertama di Nusantara sekaligus pelopor media massa perempuan dengan mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada 10 Juli 1912.

Penulis Sunting Melayu juga adalah kaum perempuan yang saat itu pendiriannya bekerja sama dengan Pimpinan Surat Kabar Utusan Melayu Dt St Maharaja.

Kiprah Ruhana membuka cakrawala baru dalam dunia jurnalistik sehingga ia tidak hanya dikenal sebagai sosok yang cakap mengajar namun juga tajam dalam menulis.

Selain itu, ia berhasil mengubah pandangan bahwa dunia jurnalistik ketika itu adalah dunia kaum lelaki.

Melalui surat kabar, Ruhana berjuang menyebar ide dan gagasan untuk mengeluarkan kaum perempuan dari keterbelakangan dan ketidakadilan, termasuk di bidang pendidik. (ANG)

Editor : Redaksi

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top