Menguraikan Jasa Para Pahlawan Kepri di Era Milenial

M Syahrial dan Endri Sanopaka saat mengisi materi di seminar sehari bertajuk “Kilas Balik Perjuangan Raja Haji Fisabilillah (RHF) di Era Milenial”. (f-ang)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Komunitas Belajar (Kobar) Kepulauan Riau menguraikan sejumlah jasa pahlawan dalam bentuk perjuangan para pahlawan nasional dari Kepulauan Riau yang dapat dicontoh dalam kehidupan saat ini, di dalam Seminar sehari.

Menyambut hari pahlawan, Sabtu 10 November 2018, puluhan mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi menyimak seminar yang sudah dikemas Kobar Kepri bertajuk “Kilas Balik Perjuangan Raja Haji Fisabilillah (RHF) di Era Milenial” yang dilaksanakan, di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tanjungpinang.

Tentu menjadi pertanyaan siapa Raja Haji Fisabillah, yang kerap hanya diketahui sebagai salah satu pahlawan nasional dari Kepulauan Riau. Namanya pun digunakan pemerintah sebagai Bandar Udara Internasional, di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau, namun, sangat jarang untuk mengenal perjuangannya.Terlebih di era milenial saat ini.

Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Celah yang dipertuan muda ke IV Riau-Lingga merupaan pahlawan nasional dari Kepulauan Riau. Berjuang melawan belanda saat berkedudukan di Melaka, saat ini merupakan Malaysia. Dia merupakan raja yang terkenal dengan pertempuran lautnya.

Raja Haji Fisabililah atau dikenal juga sebagai Raja Haji marhum Teluk Ketapang adalah (Raja) yang dipertuan muda Riau, Lingga, Johor, Pahang IV. Ia terkenal dalam melawan pemerintahan Belanda dan berhasil membangun pulau Biram Dewa di sungai Riau Lama.

Karena keberaniannya, Raja Haji Fisabililah juga dijuluki sebagai Pangeran Sutawijaya (Panembahan Senopati) di Jambi. Ia gugur pada saat melakukan penyerangan pangkalan maritim Belanda di Teluk Ketapang (Melaka) pada tahun 1784. Jenazahnya dipindahkan dari makam di Melaka (Malaysia) ke Pulau Penyengat oleh Raja Ja’afar (putra mahkotanya pada saat memerintah sebagai Yang Dipertuan Muda).

Rekam jejak perjuangan Raja Haji Fisabilillah ini yang tengah dibahas dalam Kobar Kepri, dalam Seminar sehari memperingati hari pahlawan 10 November 2018. Refleksi perjungan Raja Haji Fisabilillah di era milenial dijelaskan MPI KNPI Tanjungpinang, M Syahrial dan Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka.

Uraian Politisi dan Akademisi Soal Perjuangan Pahlawan di Era Milenial

Tidak ikut membuat berita bohong (Hoax) dan menyebarkan ke media sosial merupakan bentuk penghargaan yang kita berikan untuk para pahlawan, kata MPI KNPI Tanjungpinang M Syahrial, saat mengisi materi di acara Komunitas Belajar (Kobar) Kepri.

“Di era milenial, peperangan terbesar ketika menghadapi jari jemari yang rentan menyebabkan perpecahan karena kata-kata,” tambahnya di Tanjungpinang, Sabtu (10/11/2018).

Menurut Syahrial, implementasi dari jiwa kepahlawan yang terdapat dalam diri Raja Haji Fisabilillah perlu ditanamkan didalam diri pemuda saat ini, terlebih diera milenial dengan mengenal sebaik-baiknya Kepulauan Riau.

“Peran dan pengaruh rakyat Kepri di era milenial. Kita harus tau potensi di kepri yang ada,” ujarnya.

Ketua Komisi II Perwakilan Rakyat di Kota Tanjungpinang ini memaparkan, sosok Raja Haji Fisabilillah yang mengenal kesetian terhadap perintah, rela berkorban demi memperjuangkan kemerdekan, melepaskan diri dari belenggu penjajahan dapat di implementasikan di era milenial.

“Pada saat ini, bagaimana adik-adik sekalian, perlu melihat kembali perjuangan pahlawan kita, dan inilah yang harus kita pertahankan. Seperti melawan narkoba, cinta NKRI, jaga kehormatan bangsa dan negara dengan tidak berseteru di media sosial atas persoalan SARA, ini yang perlu ditanamkan di era milenial,” ungkapnya.

Perjuangan para Pahlawan di era pembangunan saat ini menjadikan kita lebih mudah untuk berjuang agar bersaing lebih cepat dari negara-negara lain.

Syahrial mengutarakan, berdasarkan letak geografis Kepri yang strategis dan merupakan sentra poros maritim dunia yang juga kaya akan Sumber Daya Alam dari Migas, Prikanan dan Pariwisata, dapat diperjuangkan oleh diri kita sendiri sebagai generasi yang berkelanjutan.

“Peningkatan infrastruktur yang menunjang potensi Geografis dan Geopolitik di Kepri. Diperlukan SDM yang berkualitas dan tepat guna yang dapat ditempatkan dan mengelola di bidang Migas, Pariwisata, Militer, Perikanan, Pendidikan, inilah implementasi dari perjuangan Raja Haji Fisabilillah di era milenial, saat ini,” ungkapnya.

Syahrial berpesan, tidak hanya untuk sendiri, tapi seluruh pemuda, mahasiswa yang ada di Kepulauan Riau yang mengenal Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji pengarang Gurindam 12, dan Sultan Mahmud Riayat Syah III yang ikut berperang melawan belanda, ketiganya merupakan para pahlawan dari Kepri yang memberikan manfaat untuk masyarakat Kepri saat ini.

“Pada dasarnya semua orang memiliki sifat kepahlawanan dan bisa menjadi pahlawan, tergantung dari seberapa besar peran, manfaat dan perjuangan yang diberikan kepada orang lain. Sebaik baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Tidak Menyebar Hoax Bentuk Impelentasi Perjuangan Pahlawan

Di era industri 4.0 saat ini yang lebih dikenal zaman milineal, akses inter dan percepatan pergerakan teknologi semakin ringkas untuk bersaing dari berbagai sektor kehidupan. Tak terlepa dari kecepatan akses informasi yang sedekat ujung jari menembus dunia maya.

Akademisi yang juga Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka menguraikan, bagaimana implementasi perjuangan Raja Ali Haji, pahlawan nasional pengarang Gurindam 12 asal Kepulauan Riau mendapatkan peran untuk terus dipertahankan hingga saat ini.

Raja Ali Haji ibni Raja Haji Fisabilillah, pengarang mahakarya, Gurindam Dua Belas (1847). Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yakni Kamus LoghatMelayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.

Endri memaparkan, bagaimana norma, nilai dan karakter Raja Ali Haji yang dapat di contoh dalam kehidupan saat ini, satun dalam bertutur bahasa, sikap dan norma kebaikan dalam bersikap adalah pesan tauladan Raja Ali Haji yang diuraikan di Gurindam 12 dan manuscrip lainnya.

Padahal, pada masa penjajahan, tak jarang manuscrip tersebut ditulis sang pahlawan bahasa dalam kondisi dibawah tekanan. Semua dilakukan untuk menjaga keutuhan negara, bangsa, rakyat dan memenangkan peperangan dari kata-kata.

Ia menjelaskan, jika diimplementasikan dalam kehidupan di era milenial saat ini, setiap orang dengan mudah mengutarakan kebencian, mencaci maki, mengadu domba dan meluapkan kata yang memicu perpecahan dari tulisan-tulisan di media sosial, melalui internet. Menurutnya ini perlu menjadi pembelajaran untuk kembali mengingat perjuangan Raja Ali Haji.

“Jadi jangan sampai para pendahulu kita yang sudah membangun perjungan, dengan mudah karena jempol kita hanya karena kepentingan kita, atau emosi kita yang diadu domba oleh emosi, sehingga menjadikan kita, negara, bangsa ini, terpecah belah, kita harus mengingat perjuangan Raja Ali Haji yang mengutarakan kata-kata bijak dengan baik dan santun,” ungkapnya.

Hendri mengatakan, perjuangan lain yang perlu dipertahankan di era milenial ini yakni, dengan tidak menyebarkan berita bohong atau hoax, yang dapat dengan mudah menghancurkan negara kita.

“Hari ini kita berjuang, salah satunya adalah tidak menyebarkan berita bohong, dan saling mengingatkan agar ini menjadi pelajaran baik untuk kembali mengingat perjuangan pahlawan,” ungkapnya.

Seminar sehari Kobar Kepri bertajuk Refleksi perjuangan Raja Haji Fisabillah tersebut ditutup dengan penggung pemuda. Sebagian mahasiswa juga mengisi kegiatan tersebuat dengan menyajikan lapak baca buku gratis.

“Hasil seminar tersebut direkomendasikan terbuka untuk seluruh masyarakat Kepri agar mengenal kembali perjuangan pahlawan dari Kepri,” tutup Ketua Kobar Kepri, Rully Permana.

Pewarta: Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top