Melihat Peradaban Manusia di Museum Sri Serindit

Zaharudin, pengelola Museum Sri Srindit Natuna saat menjelaskan isi dari museum tersebut. (f-aji)

PIJARKEPRI.COM, Natuna – Menempuh jarak 589 Kilometer dari Kota Batam menuju Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau akhirnya sampailah kita di Pulau Intan Permata di Indonesia bagian barat, yakni Natuna.

Jika dibayangkan dari atas pesawat terbang tak satupun daratan terlihat ketika anda berkunjung ke Natuna, tentu menjadi pertanyaan, dahulu kala siapa saja yang menapakkan kaki di Kabupaten terdepan timur dan utara Indonesia ini.

Salah satu tempat yang dapat menggambarkan rekam jejak sejarah peradaban manusia di dunia dapat ditemukan di Natuna, tepatnya di Museum Sri Serindit, yang berada di Jalan Tok Ilok Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur.

Lokasinya tak jauh dari Bandar Udara Raden Sadjad. Dapat ditempuh menggunakan angkutan umum, atau pun bus penumpang antar jemput.

Museum Sri Serindit merupakan salah satu Lembaga Kajian Sejarah Kabupaten Natuna yang dipercaya pemerintah setempat menampung, merawat dan menjaga benda-benda peninggalan sejarah baik yang sudah ada maupun baru ditemukan.

Zaharudin (47), adalah seorang pria yang menempatkan hidupnya untuk menjaga benda-benda peninggalan sejarah dari generasi ke generasi, abad ke abad lamanya dunia menyinggahi Natuna, di Museum Sri Serindit.

Kepada pijarkepri.com Zaharudin mengungkapkan jumlah keseluruhan peninggalan sejarah berdasarkan hasil perhitungan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kemendigbud RI 2016, terdata 10.000 lebih peninggalan sejarah, yang tersimpan di Museum Sri Serindit.

“Sama Puspenlit Nasional dihitung persatu barang yang ada,” katanya.

Barang yang ada di museum ini tak lain, mangkok keramik, piring, gelas, lukisan, pedang, parang, kris, senjata perang zaman dahulu, uang koin emas, perak, perunggu, bebatuan lama, hingga Kampak batu perasejarah masa Neolitikum, menjadi saksi kalau saja Natuna menyimpan banyak peninggalan peradaban manusia.

“Jarum jahit zaman purba ini saya temukan di Natuna, kampak purba zaman Neolitikum juga sudah melalui hasil Penelitian Arkeologi Nasional,” ungkapnya.

Kampak Purba Zaman Neolitikum yang ditemukan Zaharudin di Natuna. (F-aji

Bicara ketertarikan Zaharudin untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejatah itu ternyata sudah diawali sejak tahun 1980, saat itu dia duduk di kelas 1 SMP. Katanya, dia banyak menjumpai barang-barang bekas peninggalan kuno.

“Belum tau kalau saja itu adalah benda yang bernilai miliaran rupiah dan berasal dari berbagai negara di Dunia. Bahkan beberapa tahun lalu saya ditawar mau dibeli semuanya Rp300 miliar, saya tolak,” ujarnya, sumringah.

Selain Zaharudin yang rela melepaskan baju PNS nya demi mengumpulkan barang-barang antik bernilai miliaran rupiah. Mencari barang antik peninggalan sejarah juga sudah ditekuni penduduk setempat sejak dahulu, bahkan kegiatan itu dijadikan sebagai sumber mata pencaharian mereka.

“Saya suka mengumpulkan barang– barang itu, dan memang barang barang ini dijadikan salah satu pekerjaan masyarakat untuk beradu nasib dengan mencari kerangka-kerangka yang ada,” ujar mantan Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Bintan ini.

Zaharudin mengungkapkan, museum Sri Srindit tercatat memiliki peninggalan sejarah terbilang komplit. Berdasarkan catatan dari berbagai kunjungan kolektor barang antik dari berbagai negara ketempatnya, tercatat usia benda tersebut dimulai dari abad ke 10, 11, sampai abad ke 20, Dinasti Sung utara, Selatan, Yuang, Meing, Cing, Kerajaan Gersik, Thailand, Kemer, Belanda, Persia, Jepang, India Selatan dan benda purba zaman Neolitikum.

“Pada awalnya kami belajar dari para pembeli, itu sekira tahun 1985. Dari mana tahu usia benda-benda ini, itu ketika tamu sudah semakin banyak, jadi saya belajar dari cina, turun dari Puslit, saya bbelajr-belajar, itu lebih teliti. Hingga akhirnya saya tau usia benda ini,” ungkapnya.

Seiring perkembangan waktu, Museum Sri Srindit yang kini telah menjadi perhatian dunia juga terus dipenuhi barang-barang antik peninggalan sejarah dari masa ke masa. Bahkan hingga saat ini penduduk Natuna masih terus mengumpulkan benda-benda tersebut.

“Natuna merupakan harta karun dunia yang masih menjadi sorotan berbagai negara, maka sayang kalau tidak terperhatikan, setidaknya kita bisa menjaga warisan dunia yang tertinggal dari para leluluhur,” imbuhnya.

Pewarta : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top