Surjadi Dalam Pita Pembangunan Kota Tanjungpinang

Surjadi, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang. (Foto : Aji Anugraha)

Surjadi, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang. (Foto : aji/doc.pijarkepri.com)

SEBUAH perencanaan yang matang dapat menjadi dasar untuk mengukur seberapa besar pembangunan yang merata dalam kurun waktu tertentu. Alur mobilitas perkembangan daerah, terintegrasi dari satu tempat ke tempat yang lain itu disebut Pita Pembangunan, kata Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang, Surjadi.

“Pita Pembangunan adalah sebutan, mengibaratkan kutub pertumbuhan penduduk, pembangunan dalam pemerintahan, membuka akses dari satu tempat ketempat lainnya yang sudah direncanakan,” tambahnya, di Tanjungpinang, Rabu 18 April 2018.

Siapa Surjadi ?, dia adalah seorang pria kelahiran Tanjungpinang 18 Febuari 1974, suami dari Mira Santika, dan bapak dari kedua anaknya, Himi dan si bungsu Marwah, buah hati tercinta pasangan keduanya yang kini beranjak dewasa. Kedepan, keduanya akan merasakan dan menikmati hasil jerih payah Surjadi, ikut serta membangun Tanjungpinang.

Nama Surjadi tak asing baik dikalangan pemerintahan maupun masyarakat kota Gurindam, Tanjungpinang.

Pasalnya, lulusan Diploma 3 Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) 1995 dan S1 Sekolah Tinggi Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI 1999, Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD) Universitas Gajah Mada 2002 ini sudah sejak usia 19 tahun menggeluti bidangnya, yakni di birokrasi pemerintahan, terkhusus bidang perencanaan.

Belum sampai di Pita Pembangunan, kembali ke ruang kerja Surjadi. Memberikan ruang dan waktu, kepada pijarkepri.com di ruang kerjanya, Kantor Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang, Surjadi bercerita tentang perjalanan karirnya.

Begitu nyaman ketika Surjadi mempersilahkan duduk setiap tamu yang datang keruangannya. Kedisiplinan Surjadi dapat terlihat langsung dari tampilan ruangan kerjanya, lebih kurang 10 ruang kerja dari setiap bidang di Bapelitbang termonitor langsung dengan kamera CCTV dalam sebuah layar.

Pegawainya bekerja sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkannya. “Penerapan kerja yang saya terapkan Studio Perencanaan. Tidak ada sebuah perencanaan itu terlepas dari kerjasama tim yang kokoh,” ujarnya.

Anak ke 3 dari 7 bersaudara pasangan Supardi ayahnya dan Purwati ibunya ini sejak dahulu tidak pernah terpikir untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau sekarang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN). Cita-citanya sedari dulu ingin menjadi penerbang.

Bahkan, usai menamatkan bangku SMA 2002, Surjadi melamar di PLP Curut (Penerbangan). Sayang pendafataran sudah ditutup, cita-citanya untuk jadi penerbang pun pupus ditengah jalan, Surjadi banting setir, coba-coba melamar di kala Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) membuka peluang lamaran.

“Ketika itu kebetulan ada pembukaan D3 STPDN, dan saya coba melamar, dan pada akhirnya saya diterima, gak sangka juga bisa diterima,” ujarnya, sumringah.

Setelah lulus dari STPDN, Surjadi melanjutkan pendidikan di Bandung, Jatinangor. Dalam kesempatan pertamanya itu, ia mendapatkan penempatan tugas dinas di Lampung, lebih kurang menempati kawasan pusat pendidikan selama kurun waktu 12 tahun, dimulai sejak 1995 hingga 2007.

Ada alasan tersendiri Surjadi kembali ke kampung halamannya, tempat sedari kecil ia dibesarkan kedua orang tuanya, mengabdi kepada negara, ikut serta membangun daerahnya dari apa yang dia pelajari.

“Memikirkan nama baik keluarga dan hal-hal yang bisa dibuat untuk daerah, maka saya kembali ke Tanjungpinang di 2008, tanah kelahiran saya,” ujar pria yang kerap di sapa Aji ini.

Rekam jejak Surjadi mulai masuk kedalam rongga-rongga pemerintahan. Di tahun pertama dia menempati Tanjungpinang, ia dipercayai menjabat sebagai Sekretaris Camat Kecamatan Tanjungpinang Barat 2008 hingga 2009.

Kerjanya cukup memuaskan dalam pelayanan masyarakat, pemimpin kota Gurindam kala itu mempromosikan dia ke tingkatan sedikit lebih tinggi. Surjadi mendapatkan penempatan sebagai Kepala Bidang Perekonomian di Badan Perencanaan Daerah Kota Tanjungpianang.

“Tapi hanya 3 minggu saya menjabat,” ujarnya.

Sebagai aparatur sipil negara yang baik dan tunduk akan aturan negara, terlebih kepada pimpinan, tak begitu lama Surjadi ditempatkan sebagai Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota Tanjungpinang pada tahun 2009 hingga 2012.

Perannya menyiapkan segala agenda Wali Kota kala itu Ibu Surya Tati Amanan dipercayakan sepenuhnya, hingga pada akhirnya ia dipercaya untuk memimpin Dinas Kesbangpol Tanjungpinang periode 2012 hingga 2013.

Pemerintahan kota Tanjungpiang kian waktu terus mengalami rotasi, Surjadi mendapatkan kesempatan untuk menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tanjungpinang periode 2013-2014.

Menurutnya, jabatan ini yang paling berkesan semasa dia menduduki jabatan sebagai birokrat di pemerintah Kota Tanjungpinang.

Banyak hal yang telah dialami Surjadi dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Tanjungpinang sebagaimana menjalankan payung hukum di kota Gurindam. Saat itu lebih kurang 400 personil Satpol PP dengan disiplin kerja semi militer harus diakomodir olehnya.

Sebagai fungsi pengawasan dan penertiban kawasan padat penduduk, fasilitas umum yang kerap kali dijadikan tempat berdagang para pedagang, bermacam-macam aturan Kepala Daerah dan Perda menjadi acuan yang harus dijalankan Satpol PP, tindakan penggusuran kerap kali berlawanan dengan rasa prikamanusian, ini yang menurutnya selalu bertentangan.

Surjadi punya cara tersendiri untuk memberikan himbauan kepada para pedagang, melalui pendekatan – pendekatan humanis, tak melulu menggusur kaum proletar tanpa memikirkan nasib mereka.

“Terutama kepada masyarakat kategori pedagang ekonomi kecil menengah, memindahkan tempat mereka berdagang, bukan menggusur,” ujarnya.

Sukses memimpin Satpol PP Kota Tannjungpinang, Surjadi kembali dipercaya membawa awak aparatur sipil negara mengurus Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Tanjungpinang, ia dipercaya Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah sebagai Kepala Dinsosnaker Tanjungpinang dalam kurun waktu empat tahun, dimulai dari tahun 2014 hingga 2017.

Satu tahun diakhir masa jabatan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang Syahrul, ia dipercaya untuk memimpin Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang, dimulai Januari 2017 hingga saat ini.

Perombakan kabinet di pemerintahan Lis-Syahrul pun harus dilakukan karena mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sedangkan SOTK 2015 masih mengacu pada PP Nomor 41 2007 tentang OPD.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 SOTK kembali berubah. Karena ada beberapa SKPD yang akan dilebur dan dipisah sesuai dengan tipe SKPD. Karena itu, mau tak mau Pemerintah KotaTanjungpinang harus kembali kerja keras menggodok SOTK.

SOTK yang baru pun disahkan DPRD Kota Tanjungpinang, lebih kurang berjumlah 43, antara lain terdapat 17 dinas, 6 badan, 4 kecamatan, 18 kelurahan, 7 puskesmas dan 9 organisasi lainnya, salah satu OPD didalamnya adalah Bappelitbang Kota Tanjungpinang, yang saat ini dipimpin Surjadi.

Tugas besar surjadi menyambungakn antara resapan aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada pemimpin yakni Wali Kota tertuang dalam sebuah perencanaan, melebur bersama pemikiran-pemikiran perwakilan rakyat hingga dilaksanakan dalam pita pembangunan. “Semua sudah terintegrasi,” ungkapnya.

10 Bulan Menata Tanjungpinang

Wali Kota Tanjungpinang melalui tim seleksi menempatkan Surjadi sebagai  Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang dengan masa waktu 10 bulan untuk menyusun acuan RPJPD, RPJMD, RKPD dan Renstra OPD Kota Tanjungpinang menjelang akhir masa jabatannya.

Kerangka acuan pemerintahan itu untuk mengisi program pembangunan di masa kekosongan jabatan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang nantinya, agar pemerintahan terus berjalan.

Bappelitbang Tanjungpinang mendapat tugas besar membuat RPJMD Teknokratik, sebuah rencana pembangunan yang dikerjakan pada tahun anggaran 2018 Kota Tanjungpinang, sembari menghitung dan menyelesaikan target RPJMD pemerintah Kota Tanjungpinang.

“Saat ini Bappelitbang sedang menghitung target capaian RPJMD 2013-2018, dengan target pencapaian 75 persen, kami yakin persentase jumlah capaian ini mencapai 85 persen sampai akhir masa jabatan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang,” ujarnya.

Sepuluh bulan waktu teramat cepat untuk Surjadi memimpin 5 bidang di Bapelitbang, dengan mengkolaborasikan kelimanya diantaranya Bidang Perokonomian, Sosial dan Pemerintahan, Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Penelitian dan Pengembangan, dan bidang Program dan Pengendalian Pembangunan.

Keterbatasan anggaran membuat Surjadi harus berpikir bersama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang untuk memanfaatkan sumber pendanaan dari lembaga vertikal pemerintahan yang mendapatkan peran untuk pembangunan di daerah.

Urusan pemerintahan seperti pembangunan jalan-jalan, menghubungkan antara satu daerah padat penduduk dan daerah baru seperti membangun penghubung jalan Sungai Carang, sebagai terusan mobilitas penduduk dari Kota Lama ke Tanjungpinang Timur dan Tanjungpinang Kota.

“Ini yang diumpamakan “Pita Pembangun,” katanya.

Ia menjelaskan pita pembangunan merupakan kutub penghubung Tanjungpinang yang terus digesa pemerintah, demi menciptakan aktifitas pembangunan dan penduduk yang merata, menata dan memberdayakan masyarakat dengan tepat sasaran.

“Saya contohkan kenapa dibangun pelebaran jalan di Pulau Dompak dan kemudian tumbuh pembangunan seperti mall-mall di kilometer 8, dompak. Seperti perluasan akses jalan di kawasan sungai carang, dan kemudian tumbuh investasi perumahan, masyarakat pun pindah kedaerah itu, ini untuk menghindari kepadatan penduduk di suatu tempat, seperti kota lama,” ujarnya.

Dalam kesempatan akhir, Surjadi berpesan untuk memotivasi masyarakat dan para aparatur sipil negara dimanapun berada, dalam setiap pekerjaan pembangunan suatu daerah diharapkan mengutamakan perencanaan.

“Bahwa perencanaan itu adalah motivasi untuk pembangunan. If you tail to plan, you plain to tail,” ujarnya.

Penulis : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top