Anambas, PIJARKEPRI.COM – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepulauan Anambas, Sahtiar, menghadiri penutupan pertandingan persahabatan gasing antardesa di Desa Pesisir Timur, Kecamatan Siantan, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan itu menjadi upaya menghidupkan kembali permainan tradisional sekaligus mempererat persaudaraan masyarakat.
Penutupan pertandingan tersebut turut dihadiri jajaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan disambut antusias masyarakat.
Pada babak final, Tim Predator berhadapan dengan Tim Ikan Teri untuk memperebutkan posisi juara pertama dan kedua.
Dalam sambutannya, Sahtiar menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang berinisiatif menggelar pertandingan tersebut.
Menurutnya, gasing bukan sekadar permainan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Anambas yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Permainan gasing ini sebenarnya sangat dicintai orang Anambas. Karena itu, kita harus membudayakan kembali dan membangkitkannya agar tradisi ini tetap hidup,” kata Sahtiar.
Ia mengaku prihatin karena permainan gasing sempat meredup dan semakin jarang dipertandingkan. Padahal, tradisi tersebut memiliki nilai kebersamaan sekaligus menjadi warisan budaya masyarakat pesisir yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Jangan sampai karena kelalaian kita, tradisi ini hilang di Bumi Anambas. Kita punya komitmen untuk mengangkatnya kembali,” ujarnya.
Sahtiar juga mengapresiasi keberanian masyarakat Desa Pesisir Timur menginisiasi pertandingan.
Menurut dia, penyelenggaraan turnamen gasing memiliki tantangan tersendiri, mulai dari kebutuhan perlengkapan hingga upaya menarik minat peserta dan dukungan masyarakat.
Ia menilai, penyebab meredupnya permainan tradisional tersebut perlu ditelusuri bersama, termasuk kemungkinan sulitnya memperoleh kayu untuk membuat gasing, tingginya biaya, serta berkurangnya minat masyarakat.
“Kita perlu mencari tahu apa penyebab permainan gasing ini sempat sepi. Apakah karena kayunya sulit didapat, biayanya besar, atau minat masyarakat berkurang. Ini perlu kita cari solusinya bersama agar ke depan semakin banyak desa yang berpartisipasi,” katanya.
Selain pelestarian budaya, Sahtiar mengingatkan para peserta agar menjunjung tinggi sportivitas, keselamatan, dan semangat kekeluargaan selama pertandingan.
Ia menegaskan, kompetisi tersebut seharusnya menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat, bukan memicu perselisihan.
“Teman-teman semua datang untuk menjaga kebudayaan dan persaudaraan, bukan mencari permusuhan. Tolong itu dijaga dan jangan sampai mengecewakan masyarakat,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa permainan gasing menggunakan kayu keras sehingga membutuhkan kehati-hatian dan kedisiplinan untuk menghindari cedera.
Di akhir sambutannya, Sahtiar secara resmi menutup pertandingan persahabatan gasing antardesa.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga permainan tradisional tersebut kembali diminati dan tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kepulauan Anambas.
Pewarta : Fendi







