Opini  

Kekayaan Keanekaragaman Hayati di Laut Indonesia

Foto: Jihan Ramadhan, Mahasiswa Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, UMRAH.
Foto: Jihan Ramadhan, Mahasiswa Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, UMRAH.

Oleh : Jihan Ramadhan

KEANEKARAGAMAN Hayati (biodiversity) adalah salah satu bentuk nikmat yang telah Tuhan berikan kepada makhluknya.

Indonesia sendiri disebut sebagai negara maritim yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati cukup tinggi.

Selain disebut sebagai Negara maritim, Indonesia juga disebut sebagai Negara kepulauan yang ditandai dengan 2 per 3 wilayahnya merupakan perairan laut dengan iklim tropis.

Dimana keanekaragaman memegang peran sangat penting di dalam kehidupan makhluk hidup baik itu dalam mempengaruhi anatomi, fisiologi, maupun ekologi.

Keanekaragaman hayati memiliki manfaat utama yakni sebagai penyeimbang ekosistem. Ekosistem melibatkan berbagai jenis makhluk hidup yang saling bergantung dan tentu saja mempunyai peranan masing-masing dalam menjaga keseimbangan ekosistem di alam.

Apabila salah satu ekosistem yang ada hilang atau punah, maka keseimbangan akan terganggu.

Salah satu contohnya adalah ekosistem terumbu karang. Apabila terjadi kerusakan terumbu karang seperti pemutihan (Coral Bleacing), maka akan mengakibatkan hilangnya habitat atau tempat tinggal ikan, tempat untuk memijah, dan tempat ikan untuk berlindung dari predator.

Contoh keanekaragaman lainnya yakni lamun, berbagai jenis ikan, mangrove, dan sebagainya. Dengan berlimpahnya keanekaragaman hayati di Indonesia ini, terkadang membuat kita sering lalai dan lupa akan cara menjaga kelestariannya.

Sehingga, tak dapat di pungkiri bahwa lambat laun laju pertumbuhan dari kerusakan keanekaragaman kian bertambah dengan disertai punahnya makhluk hidup. Ini justru akan mengakibatkan efek negatif yang perlu kita hindari.

Apabila keanekaragaman hayati ini kita jaga dengan baik, maka ekosistem akan menjadi seimbang dan dengan begitu dapat saling menjaga keberlangsungan makhluk hidup yang ada di bumi.***

Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *