Petani Cengkih Natuna Menjerit, Butuh Tindakan Pemerintah

Petani Cengkih Midai, Natuna, Kepri. (Foto : Fahry Naviardi)

PIJARKEPRI.COM, Natuna – Ribuan petani cengkih di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau menjerit soal tidak stabilnya harga jual cengkih ke para tengkulak. Petani mengharapkan pemerintah bertindak agar harga cengkih tetap stabil.

Ribuan petani cengkih di Natuna menggantungkan nasib perekonomian mereka dari harga jual cengkih ke para penampung di daerah itu. Saat ini, harga cengkih basah Rp14.000 ribu per kilogram, cengkih kering Rp52.000 ribu per kilogram dan baru-baru ini sempat turun hingga Rp47.000 per kilogram.

Bila dibanding dengan harga jual cengkih kering di 2012 hingga 2018 bisa tembus sampai Rp120.000 ribu/kg dan cengkeh basah Rp35.000 ribu/kg.

Suarman (51), petani cengkih asal Desa Gunung Sebelat Kecamatan Midai, Natuna, mengungkapkan kegelisahannya mengenai harga jual cengkih ke para tengkulak yang terus menurun.

“Ribuan petani cengkih disini tidak langsung menjual ke pasar, tetapi di jual ke penampung terlebih dahulu setelah itu dari penampung baru menjual ke Pasar,” ungkapnya.

Suarman merupakan salah satu petani cengkih dengan luas perkebunan cengkih miliknya 1,5 Hektar dan 80 persen ditanami pohon cengkih.

Setiap musim panen cengkih tiba, Suarman mengupah pemanjat cengkih. Dia mengatakan, harga upah panjat cengkih ketika harga stabil bisa sampai kisaran Rp7000 per kilogram,
Dan ketika mengalami penurunan pemanjat hanya diupah Rp 4000 per kilogram.

Kondisi ini kemudian menjadi masalah bagi para petani cengkih. Kebanyakan para pemanjat cengkih tak mau bekerja ketika diupah Rp4000 per kilogram, akhiranya cengkih tak di panen.

“Petani mengalami kerugian karena banyak cengkih yang tidak layak panen alias busuk karena tidak di panen tepat pada waktunya,” ungkapnya.

Ditambah lagi, hanya terdapat satau penampung cengkih di Natuna “Petani hanya menggantungkan hasil penjualan cengkih kepada 1 penampung saja,” ungkapnya.

Panen cengkih di Natuna terjadi di setiap akhir tahun. Biasanya puncak panen cengkih pada bulan ke dua awal tahun. Besar harapan petani, harga cengkih di Natuna dapat stabil seperti sediakala.

Petani Cengkih Butuh Tindakan Pemerintah

Petani cengkih Natuna sangat mengharapkan kebijakan pemerintah pusat mau pun daerah menyikapi dan menindak stabilitas harga jual cengkih ke penampung.

Petani cengkih di Natuna menyatakan kebijakan pemerintah daerah dalam menyikapi harga jual cengkih pertahun sangat minim. Petani merasa kehilangan peran serta pemerintah untuk membantu persoalan mereka.

Seorang pekebun cengkih di Midai, Natuna, Fahri mengatakan, petani cengkih di Natuna sangat mengharapkan peran serta pemerintah dalam menyikapi musim panen cengkih di Midai, agar tidak lagi melalui para tengkulak.

“Para petani tidak tau tentang Harga jual Cengkih yang sebenarnya dikisaran berapa,” ungkapnya.

Masa panen petani cengkih Midai, Natuna, Kepri. (Foto: Fahry Naviardi)

Dia menduga ada indikasi permainan mafia cengkih, mengingat harga cengkih saat ini turun drastis hingga 50 persen.

Ia mengatakan, meskipun harga cengkih turun drastis, para petani tetap menjual cengkih mereka ke para tengkulak.

“Petani cengkih disini ketahui hanyalah bagaimana cengkih mereka dapat terjual meski harga menurun derastis demi menghidupi keluaraga mereka,” ungkapnya.

Menurutnya, dampak dari harga cengkih turun, petani merugi sebelum masa panen tiba. Petani cengkih harus mengeluarkan modal untuk membersihkan kebun cengkih mereka dengan mengupah jasa pembersih kebun.

Ketika musim cengkih tiba petani pun harus memikirkan bagaimana mengupah para pemanjat cengkih untuk menghabiskan cengkih di kebun milik mereka.

“Apabila harga cengkih tidak sebanding dengan harga jual di pasar, maka para petani yang seharusnya menerima keuntungan lebih malah terkadang menerima kerugian,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ketika harga cengkih menurun di musim panen cengkih setahun sekali ini sangat di tunggu tunggu para petani untuk mencari penghasilan lebih demi menghidupi keluarga mereka.

“Dari cengkih mereka biasa membayar biaya sekolah anak dan menstabilkan perekonomian keluarga,” ungkapnya.

Biasanya ketika harga masih stabil banyak orang yang datang kesini untuk mengambil upah memanjat cengkih, dan ketika terjadinya penurunan, nyaris tidak ada orang yang datang untuk memanjat cengkih karena memikirkan upah yang begitu minim.

Ia mengatakan, penyebab harga cengkih turun derastis dikarenakan saat ini ribuan petani disini hanya menjual hasil kepada 1 penampung (china) saja dan tidak adanya saingan antar pembeli cengkih lah salah satu penyebabnya.

“Peran pemerintah yang sangat diharapkan para petani selama ini bisa dikatakan tidak ada selama musim cengkuh di Midai, Natuna tiba,” ungkapnya. (FHN)

Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top