Mengangkat Batang Terendam Disbud Lingga Hidupkan Kesenian Berodat

Beberapa pelaku seni Berodat sedang mempraktekkan kesenian Berodat.

PIJARKEPRI.COM, Lingga – Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) terus berikhtiar untuk merevitalisasi berbagai kesenian yang pernah hidup dan berkembang di masa silam, satu diantaranya kesenian berodat, yang pada tahap awal kesenian tersebut perlu ditulis dan dibukukan.

Sebelumnya kesenian bangsawan dan gazal juga telah sukses direvitalisasi Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan yang bekerjasama dengan Disbud Pemkab Lingga.

Kepala Dinas Kebudayaan Lingga, Muhammad Ishak dalam sekapur sirihnya mengatakan, Pemkab Lingga melalui Disbud sesuai dengan tugas fungsi akan terus berkomitmen untuk menyelamatkan senibudaya melayu yang dulunya pernah hidup dan bekembang di Bunda Tanah Melayu untuk direvitalisasi kmbali.

“Ibarat kata sebagai wujud nyata kami untuk “Mengangkat Batang Terendam,” ujarnya.

“Selain dihidupkan kembali kesenian yang pernah mengakar di masyarakat Kabupaten Lingga, juga perlu segera ditulis dan dibukukan, sehingga data yang didapat dari berbagai sumber dapat disatukan,” tambah M Ishak, kepada Pijarkepri.com, Rabu (26/11/2019).

Menurut Ishak, upaya mengangkat kesenian Batang Terendam di Lingga sangat penting untuk dapat dijadikan sebagai bahan rujukan, referensi dan pengetahuan bagi masyarakat, sekaligus berguna untuk materi bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.

Dia memberikan apresiasi dan mengungkapkan terimakasih kepada para penulis dan dukungan yang luar biasa dari para narasumber, karena meskipun dalam waktu yang relatif singkat, tapi cukup banyak data dan informasi tentang kesenian berodat yang telah didapat.

“Insya Allah, buku ini selesai ditulis sesuai jadwal, dan dapat dicetak pada bulan Desember 2019 mendatang,” tutupnya.

Tim penulis dan penyusun buku kesenian berodat Lingga yang diketuai Medri Osno, peneliti dari Kantor Balai Bahasa Kepri dan dibantu beberapa orang penulis lokal handal Kabupaten Lingga, seperti M. Fadlillah dan Zaid Aziz telah bekerja satu bilan lebih, termasuk mengumpulkan data dari berbagai sumber dan menemui langsung beberapa para pelaku seni berodat yang hanya tinggal beberapa orang saja di Kabuparen Lingga.

Seperti Abdurrahman yang lebih akrab disapa Ayah Man dan Mohammad Apan, untuk menyempurnakan penulisan buku tersebut, diadakan FGD di Balai Adat Melayu pada hari Selasa 26 Nopember 2019, dan FGD tersebut selain dihadiri para penulis dan para pelaku seni berodat, juga ada tokoh-tokoh masyarakat, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pendidikan, serta para penggiat seni budaya di Lingga, dan para pemerhati seni. (ACI)

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top