Gerobak Harapan dari Balik Pagar Lapas Dabo Singkep

Kepala Lapas Kelas III Dabo Singkep, Yusrifa Arif saat menyerahkan gerobak usaha kepada salah satu keluarga WB , sempena HUT Pemasyarakatan, di Lingga, Senin (27/4/2026) (Foto: Alifatoni)
Kepala Lapas Kelas III Dabo Singkep, Yusrifa Arif saat menyerahkan gerobak usaha kepada salah satu keluarga WB , sempena HUT Pemasyarakatan, di Lingga, Senin (27/4/2026) (Foto: Alifatoni)

PIJARKEPRI.COM – Suasana di halaman Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Dabo Singkep, Senin (27/4/2026) pagi itu, terasa berbeda. Tidak hanya diisi rangkaian seremonial Hari Bakti Pemasyarakatan, tetapi juga menghadirkan wajah-wajah keluarga warga binaan, yang datang dengan harapan sederhana, yakni perhatian dan dukungan di tengah perjuangan hidup yang terus berjalan.

Di antara paket sembako yang tersusun rapi, sebuah gerobak usaha berdiri mencuri perhatian.

Bacaan Lainnya

Gerobak itu bukan sekadar bantuan material, melainkan simbol harapan baru bagi keluarga warga binaan yang selama ini harus memikul beban ekonomi sendirian.

Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan tahun ini dimanfaatkan Lapas Dabo Singkep untuk menunjukkan bahwa pembinaan tidak berhenti di balik tembok penjara.

Ada keluarga yang juga terdampak, ada anak-anak yang tetap membutuhkan kehidupan layak, dan ada rumah tangga yang harus terus bertahan meski salah satu anggotanya menjalani masa pidana.

Kepala Lapas Kelas III Dabo Singkep, Yusrifa Arif, memahami persoalan itu. Karena itu, pendekatan sosial menjadi bagian penting dalam peringatan tahun ini.

Selain menyalurkan bantuan sembako, pihak lapas juga menyerahkan gerobak usaha kepada keluarga warga binaan sebagai bentuk dukungan agar mereka tetap memiliki peluang membangun usaha kecil secara mandiri.

“Bantuan ini bukan sekadar pemberian, tetapi bentuk dorongan agar keluarga warga binaan tetap memiliki semangat untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi,” ujar Yusrifa.

Menurutnya, program tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan agar lembaga pemasyarakatan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan hanya menjalankan fungsi pengamanan dan pembinaan di dalam lapas.

Di banyak tempat, keluarga warga binaan sering menjadi kelompok yang luput dari perhatian. Mereka menghadapi tekanan sosial, stigma lingkungan, hingga persoalan ekonomi yang tidak ringan.

Ketika kepala keluarga menjalani hukuman, beban kehidupan sehari-hari kerap jatuh sepenuhnya kepada istri atau anggota keluarga lain.

Karena itu, gerobak usaha yang diserahkan hari itu terasa lebih bermakna. Ia menjadi simbol kecil bahwa negara masih hadir melalui tangan-tangan para petugas pemasyarakatan.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan tersebut Lapas Dabo Singkep juga memberikan penghargaan kepada awak media. Langkah ini menjadi bentuk apresiasi terhadap peran insan pers yang selama ini ikut menyampaikan berbagai informasi tentang kegiatan pembinaan dan sosial pemasyarakatan kepada masyarakat.

Bagi Yusrifa, media memiliki peran penting membangun pemahaman publik bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan untuk membentuk kembali kehidupan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat.

“Sinergi dengan media sangat penting agar masyarakat mengetahui bahwa pemasyarakatan terus bergerak menjadi lebih humanis dan terbuka,” katanya.

Hari Bakti Pemasyarakatan di Dabo Singkep akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan yang dipenuhi pidato dan seremoni.

Di balik pagar lapas yang selama ini identik dengan hukuman dan pembatasan, muncul pesan lain yang lebih manusiawi yakni, tentang kepedulian, kesempatan kedua, dan upaya menjaga harapan tetap hidup bagi mereka yang sedang berjuang dari pinggir kehidupan.

Pewarta : Alifatoni

Pos terkait