Pemerintah Belum Juga Perbaiki Komplek Makam Embung Fatimah

Kondisi komplek makam Embung Fatimah yang berada di Kampung Jamba, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (20/8/2019). (Foto: Aji Anugraha/pijarkepri.com)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Pemerintah Kota Tanjungpinang belum juga memperbaiki situs bersejarah, komplek makam embung fatimah, yang rusak tertimpa pohon sejak 13 Juli 2016 hingga saat ini.

Padahal pemerintahan di kota itu berjanji akan segera memperbaiki komplek permaisuri Yang Dipertuan Muda Riau (YDMR) X Raja Muhammad Yusuf itu sejak dikabarkan rusak.

“Dulu pemerintah janji mau perbaiki bangunan ini, tapi sampai sekarang belum juga,” ujar Eko, seorang pengunjung makam Embung Fatimah.

Saat pijarkepri.com mengunjungi situs bersejarah itu, Selasa (20/8/2019) terlihat jelas komplek makam Embung Fatimah tak beratap, besi pembatas pagar reot dan plang petunjuk situs sejarah terbiarkan, tak ada aktivitas pembangunan di makam itu.

Komplek makam Embung Fatimah berada di Kampung Jamba, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Situs bersejarah ini relatif mudah untuk dijangkau karena berada di kawasan wisata Pulau Penyengat.

Makam Embung Fatimah terletak di Bukit Bahjah, tidak jauh dari jalan menuju Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah.

Kondisi komplek makam Embung Fatimah yang berada di Kampung Jamba, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (20/8/2019). (Foto: Aji Anugraha/pijarkepri.com)

Kondisi komplek makam Embung Fatimah yang berada di Kampung Jamba, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (20/8/2019). (Foto: Aji Anugraha/pijarkepri.com)

Selain makam Embung Fatimah, di komplek ini masih terdapat makam-makam lainnya yang seluruhnya berjumlah 21 makam, dibatasi dengan pagar bertembok.

Akses untuk menuju ke lokasi makam dari jalan beraspal dapat ditempuh sekitar 120 menit dengan berjalan kaki, atau menggunakan kendaraan roda dua.

Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, komplek makam Embung Fatimah merupakan cagar budaya tidak bergerak Kepulauan Riau.

Embung Fatimah merupakan seorang wanita bangsawan yang pernah dilantik menjadi Sultanah Lingga Riau.

Dia diangkat menjadi Sultanah pada 1883 dengan gelar Sultanah Tengku Embung.

Sejak dinobatkan menjadi Sultanah di Kerajaan Riau Lingga, beliau selalu melakukan perjalanan dari tempat kedudukannya di Lingga ke tempat kedudukan suaminya (Raja Muhammad Yusuf al-Achmadi Yang Dipertuan Muda X) di Pulau Penyengat.

Embung Fatimah menjadi Sultanah sejak 1883 sampai 1885 dan digantikan oleh puteranya, Raja Rahman Muazam Syah.

Embung Fatimah adalah anak Sultan Mahmudsyah III, permaisuri YDMR X (Raja Muhammad Yusuf, memerintah 1858-1899).

Perkawinannya dengan Raja Mohammad Yusuf Al-Ahmady telah mempererat persekutuan antara raja-raja Melayu dengan raja-raja keturunan Bugis yang sebelumnya retak.

Dengan demikian, Embung Fatimah mempunyai peran yang cukup penting secara politis pada kondisi kerajaan
setelah Embung Fatimah wafat, ia dimakamkan di Kampung Ladi, Pulau Penyengat.

Hingggla saat ini belum ada tanggapan dari instansi pemerintah terkait penanganan bangunan komplek makam Embung Fatimah yang rusak itu.

Pewarta : Aji Anugraha

Editor : Redaksi

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top