Masyarakat Anambas Bergejolak Soal Prostitusi dan Miras

Puluhan ibu-ibu rumah tangga saat mendatangi warung remang-remang yang diduga menyediakan jasa prostitusi dan miras ilegal. (f-ist)

PIJARKEPRI.COM, Anambas – Masyarakat di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulaun Riau bergejolak soal maraknya prostitusi dan minuman keras di sejumlah warung remang-remang di daerah itu.

Kondisi ini mengakibatkan, puluhan Ibu-Ibu rumah tangga di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas seketika menggeruduk sejumlah warung kopi yang diduga menyediakan jasa prostitusi dan miras, Selasa (15/1/2019).

Berdasarkan keterangan Ketua Ikatan Keluarga Kepulauan Jemaja di Tanjungpinang, H Saparilis, kemarahan masyarakat jemaja, yang mayoritas merupakan ibu-ibu rumah tangga dipicu atas persoalan suami jarang pulang dan menghabiskan waktu di warung remang-remang tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat 7 (tujuh) warung remang-remang tempat jasa prostitusi dan miras beredar. Warung-warung tersebuat berada di Desa Landak, Desa Batu Berapit dan Kelurahan Letung, Kecamatan Jemaja.

Ketiga lokasi ini menjadi tempat persinggahan para suami dari ibu-ibu rumah tangga tersebut, hingga berdampak langsung bagi perekonomian keluarga mereka. Tokoh masyarakat Jemaja berharap pemerintah setempat dapat mengambil kebijakan.

“Kami berharap kepada pemerintah daerah untuk mencari jalan keluar, kami meminta agar pemerintah segera menutup kegiatan-kegiatan liar, dan memantau peredaran miras ilegal disana,” kata H Saparilis.

Berdasarkan penjelasan penduduk jemaja yang mengetahui aktifitas warung remang-remang tersebut, mayoritas para wanita penghibur di warung tersebut berasal dari luar Kepulaun Riau.

Bahkan untuk sekali melayani tamu, sekadar duduk bersama dibandrol seharga Rp100 ribu.

“Parahnya berdasarkan keterangan ibu-ibu rumah tangga disana, suami mereka alasan dirumah pergi kelaut (Nelayan,red) tapi malah pergi ke warung itu, balek tak bawa ikan tapi bawa utang di warung itu,” ujarnya.

Kendati sudah pernah mendapatkan teguran dan dirazia petugas keamanan di Jemaja, tetap saja para pengusaha yang mayoritas juga penduduk Jemaja masih saja membuka warung tersebut.

Padahal, berdasarkan data yang diperoleh Ikatan Keluarga Kepulauan Jemaja, terdapat 25 penduduk Jemaja terkena HIV. Hal itu dikarenakan merebaknya bisnis warung dengan modus Prostitusi dilengkapi hidangan Miras ilegal.

“Kami minta pemerintah daerah segera menutup warung-warung yang tak memiliki izin, jangan ada kucing-kucingan antara petugas dan pengusaha,” katanya.

Ia mengatakan akan segera menyurati Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas untuk menutup warung- warung tersebut. Senada disampaikan Wakil Ketua IMKJ, Hendra. Para mahasiswa juga akan mebyurati gubernur untuk segera menutup warung-warung bermodus tersebut.

“Kami sepakat dengan para tokoh masyarakat Jemaja, sesuai dengan apa yang disampaikan pertuah, tidak ada lagi kafe remang-remang di Kecamatan Jemaja, wanita-wanita yang ada disana harus segera dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing,” ungkapnya.

ANG

Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top