Delapan tahun mengelola rumah inap, Abu menyaksikan Pulau Penyengat menjadi tempat persinggahan peziarah dan pelancong dari berbagai negara. Di tengah jejak kejayaan Melayu, tantangannya kini adalah menjaga warisan sejarah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tanjungpinang, PIJARKEPRI.COM – Perjalanan menuju Pulau Penyengat bukan sekadar menyeberangi laut dari Kota Tanjungpinang. Di pulau kecil ini, pengunjung diajak menelusuri jejak kejayaan kerajaan Melayu, mengenal tokoh-tokoh besar dalam sejarah, hingga merasakan kehidupan masyarakat yang tumbuh di antara bangunan bersejarah dan permukiman penduduk.
Di balik daya tarik itu, ada warga yang menggantungkan hidup pada kedatangan pengunjung. Salah satunya Abu (56), pelaku usaha rumah inap atau homestay yang selama delapan tahun terakhir menjalankan usaha bersama istrinya.
Saat ini rumah inap Abu menjadi salah satu pilihan tempat peristirahat para wartawan yang tengah menggelar Ekspedisi Eksplorasi Penyengat PWI Kepri 2026, pada 17-18 Oktober 2026.
Bagi Abu, setiap tamu membawa cerita berbeda. Ada yang datang untuk menikmati suasana pulau, ada pula yang menempuh perjalanan jauh demi berziarah ke makam leluhur.
“Yang datang dari Terengganu dan Kelantan, Malaysia, ada yang mengunjungi makam-makam kerabatnya,” kata Abu.
Pengunjung dari Jakarta, Pekanbaru, dan Batam juga datang untuk berziarah. Bagi mereka, Pulau Penyengat bukan hanya tempat bersejarah, melainkan ruang untuk menelusuri kembali hubungan keluarga dengan masa lalu Melayu.

Usaha rumah inap yang dikelola Abu bersama istrinya menjadi salah satu bagian dari pelayanan kepada para pengunjung.
Di tengah keterbatasan fasilitas, usaha kecil seperti ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Berdasarkan data yang dihimpun dalam materi peliputan, terdapat sekitar 13 homestay di Pulau Penyengat dengan kapasitas gabungan sekitar 70 orang.
Jumlah tersebut menunjukkan adanya usaha berbasis masyarakat yang tumbuh seiring kedatangan pengunjung.
Bagi Abu, keberlangsungan usaha itu tidak terlepas dari bagaimana Pulau Penyengat dirawat dan dikelola.
Kenyamanan pengunjung, akses, kebersihan, serta ketersediaan fasilitas dasar turut menentukan apakah mereka akan kembali atau merekomendasikan pulau tersebut kepada orang lain.
Jejak Raja dan Pujangga Melayu
Pulau Penyengat menyimpan bagian penting dari sejarah Kerajaan Riau-Lingga dan hubungan panjangnya dengan Johor serta Pahang.
Jejak masa lalu itu masih dapat ditemukan melalui bangunan bersejarah, makam tokoh-tokoh Melayu, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Salah satu ikon utamanya adalah Masjid Agung Sultan Riau. Bangunan ini menjadi penanda kuat hubungan antara Islam dan peradaban Melayu, sekaligus ruang ibadah yang tetap memiliki arti penting bagi masyarakat.

Di pulau ini juga terdapat makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji, dua tokoh yang mendapat gelar pahlawan nasional dengan kontribusi berbeda bagi sejarah Indonesia.
Raja Haji Fisabilillah dikenang atas perjuangannya melawan kolonialisme. Sementara Raja Ali Haji dikenal sebagai pujangga dan cendekiawan Melayu yang memberikan sumbangan besar bagi perkembangan bahasa dan sastra, antara lain melalui karya Gurindam Dua Belas.
Bagi sebagian pengunjung, makam-makam tersebut menjadi tujuan ziarah. Bagi yang lain, situs-situs itu membuka kesempatan untuk memahami sejarah perjuangan, pemikiran, dan kebudayaan Melayu yang pengaruhnya melampaui batas wilayah Kepulauan Riau.
Warisan tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab besar. Bangunan, makam, dan lingkungan bersejarah membutuhkan pemeliharaan agar nilai aslinya tetap terjaga dan dapat dipelajari generasi mendatang.
Dari Bintan, Dua Pelancong Jerman Menjejakkan Kaki
Daya tarik Penyengat turut membawa pelancong mancanegara ke pulau tersebut. Nicol dan Marisol (20), ibu dan anak ini berasal dari Jerman, mengunjungi Penyengat untuk pertama kalinya setelah menjelajahi Pulau Bintan.
“Saya melihat dari map dan datang ke Penyengat karena ingin tahu pulau ini,” kata Marisol.

Agung, yang mendampingi perjalanan mereka, sebelumnya membawa keduanya berkeliling Bintan dan Tanjungpinang. Setelah mengunjungi Penyengat, mereka berencana melanjutkan perjalanan ke Telaga Biru di Bintan.
Selama berada di Penyengat, pengalaman mereka tidak hanya berkaitan dengan sejarah. Marisol mencicipi otak-otak, makanan berbahan dasar ikan yang dikenal di kawasan Melayu, dan mengaku sangat menyukainya.
Kuliner menjadi salah satu cara sederhana bagi pelancong untuk mengenal kebudayaan setempat.
Pengalaman menikmati makanan lokal, melihat kehidupan masyarakat, dan menyusuri tempat bersejarah dapat menjadi cerita yang dibawa pulang.
Marisol bahkan menyampaikan keinginannya untuk menceritakan keindahan Pulau Penyengat ketika kembali ke Jerman.
“Saya akan sampaikan pengalaman ini,” ujarnya.
Pengalaman dua pelancong muda itu memperlihatkan bahwa Penyengat berpotensi dikenal lebih luas, termasuk oleh wisatawan Eropa.
Namun, kesan yang baik perlu didukung fasilitas memadai, informasi sejarah yang jelas, lingkungan bersih, dan pelayanan yang ramah.
Malaysia Menjadi Pasar Penting
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, menyebut Pulau Penyengat sebagai salah satu destinasi unggulan dengan kekuatan utama pada sejarah dan kebudayaan Melayu, khususnya warisan Kerajaan Riau-Lingga, Johor, dan Pahang.
Ia menyampaikan angka kunjungan sekitar 2.500 hingga 3.000 orang, dengan 67 persen di antaranya berasal dari Malaysia dalam periode Januari hingga September 2026.

Kedekatan geografis dan hubungan sejarah menjadi faktor penting yang menghubungkan Penyengat dengan masyarakat Malaysia.
Kisah peziarah dari Terengganu dan Kelantan yang ditemui Abu memperlihatkan bahwa hubungan tersebut tidak sebatas perjalanan lintas negara, tetapi juga berkaitan dengan ikatan keluarga dan identitas Melayu.
Peluang ini dapat diperkuat melalui promosi yang terarah, paket kunjungan sejarah, dan keterlibatan pelaku usaha lokal.
Sementara itu, kunjungan Nicol dan Marisol menjadi pengingat bahwa Penyengat juga memiliki daya tarik bagi pengunjung yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kawasan Melayu.
Infrastruktur dan Tata Kelola Menjadi Tantangan
Di balik kekayaan sejarahnya, Pulau Penyengat masih membutuhkan dukungan infrastruktur, terutama sanitasi dan fasilitas dasar untuk menunjang kehidupan warga serta kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan mengatakan pemerintah provinsi terus berupaya membantu Pemerintah Kota Tanjungpinang menyediakan sanitasi dan infrastruktur pendukung di pulau tersebut.
Secara administratif, Pulau Penyengat berada di bawah Pemerintah Kota Tanjungpinang. Karena itu, pembenahan kawasan membutuhkan koordinasi antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi, termasuk dalam pemeliharaan lingkungan, penyediaan fasilitas umum, serta perlindungan situs bersejarah.
“Komitmen kepala daerah sangat diperlukan untuk mengembangkan pariwisata di daerah, tidak hanya Tanjungpinang,” ujarnya.

Sanitasi, pengelolaan sampah, air bersih, dan kebersihan lingkungan merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan kawasan.
Menurut Hasan, tanpa pembenahan yang konsisten, bertambahnya kunjungan justru dapat meningkatkan beban masyarakat dan lingkungan.
Pemerintah Provinsi Kepri juga menyebut pengembangan Tugu Bahasa sebagai salah satu upaya untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Kerja sama dengan Nongsa Digital Park turut menjadi bagian dari langkah pengembangan yang disampaikan pemerintah.
Kepri, menurut Hasan, mengarahkan pengembangan pariwisata pada pendekatan regeneratif, yakni kegiatan yang memberikan manfaat bagi ekonomi, budaya, kehidupan sosial, dan masyarakat.
Dalam konteks Penyengat, pendekatan itu semestinya memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pihak tertentu, tetapi juga dirasakan oleh warga yang tinggal dan menjalankan usaha di pulau tersebut.
Badan Pengelola Direncanakan pada 2027
Untuk memperkuat pengelolaan Pulau Penyengat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berencana mengusulkan penyusunan naskah akademik pembentukan Badan Pengelola Pulau Penyengat pada 2027.
Badan tersebut diharapkan membantu mengintegrasikan pengelolaan kawasan sekaligus mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
“Pak Gubernur sedang membahas rencana pembentukan Badan tersebut,” kata Kadispar Kepri Hasan.
Namun, pembentukan lembaga baru perlu disertai pembagian kewenangan yang jelas, mekanisme kerja yang transparan, dan keterlibatan masyarakat.
Pelaku homestay, pedagang, pemandu lokal, tokoh budaya, serta pengelola situs bersejarah perlu memperoleh ruang dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan.
Keberhasilan pengelolaan tidak cukup diukur dari peningkatan jumlah pengunjung atau pendapatan daerah. Pelestarian bangunan bersejarah, kualitas lingkungan, dan peningkatan penghasilan warga juga perlu menjadi ukuran keberhasilan.
Bagi Abu dan istrinya, masa depan Penyengat berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha yang telah mereka bangun selama delapan tahun.
Semakin baik fasilitas dan pengelolaan pulau, semakin terbuka peluang bagi usaha kecil untuk berkembang.
Merawat Sejarah, Menguatkan Kehidupan
Nicol dan Marisol akan melanjutkan perjalanan ke Telaga Biru di Bintan. Kelak, mereka mungkin mengenang Penyengat melalui masjid bersejarah, makam tokoh Melayu, suasana pulau, atau seporsi otak-otak yang disukai Marisol.
Sementara itu, Abu akan kembali menjalani kesehariannya bersama sang istri, menyiapkan rumah inap dan menyambut tamu yang datang dengan tujuan berbeda-beda.
Di antara perjalanan wisatawan dan aktivitas warga, Pulau Penyengat menghadapi pekerjaan besar, yakni menjaga warisan sejarah agar tetap lestari sekaligus memastikan masyarakat memperoleh manfaat nyata dari kekayaan yang mereka miliki.
Pulau ini bukan sekadar tempat untuk melihat peninggalan masa lalu. Ia menyimpan kisah perjuangan, pemikiran, dan identitas Melayu yang masih relevan hingga hari ini.

Jika sejarahnya terawat, fasilitasnya memadai, dan masyarakat dilibatkan dalam pengelolaannya, Penyengat dapat terus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Sebab, warisan yang sesungguhnya bukan hanya bangunan dan makam yang ditinggalkan para pendahulu, melainkan juga kemampuan generasi sekarang merawatnya sambil membangun kehidupan yang lebih baik.
Pewarta : Aji Anugraha







