Anambas, PIJARKEPRI.COM – Setelah hampir 20 bulan perdagangan ikan hidup tersendat, harapan pembudidaya ikan keramba dan nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas kembali terbuka.
Kapal penampung ikan hidup Mitra Dodo
yang sejak Maret 2025 tidak lagi beroperasi di perairan Anambas, kini kembali menuju daerah tersebut. Kapal yang berangkat dari Hong Kong itu menempuh perjalanan sekitar tujuh hari dan diperkirakan tiba di Tarempa pada 29 September 2026.
Kembalinya kapal penampung tersebut menjadi kabar yang dinanti masyarakat perikanan Anambas. Selama kapal tidak beroperasi, akses pemasaran ikan hidup hasil budidaya keramba menjadi terbatas, sementara sejumlah komoditas bernilai ekonomi tinggi membutuhkan pasar dengan daya serap yang memadai.
Pengusaha perikanan lokal, Dodo, yang telah hampir 30 tahun menjalankan usaha penampungan dan perdagangan ikan keramba di Anambas, membenarkan rencana kembali beroperasinya Mitra Dodo.
“Apa yang selama ini diharapkan masyarakat budidaya ikan keramba, agar kapal kembali masuk ke Anambas, kini terjawab sudah,” kata Dodo, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, kapal tersebut nantinya tidak hanya menampung ikan hasil budidaya keramba, tetapi juga membeli hasil tangkapan nelayan lokal.
“Termasuk hasil tangkapan nelayan, kita juga beli dengan harga terbaik,” ujarnya.
Selama hampir 20 bulan kapal penampung tidak beroperasi, pembudidaya menghadapi keterbatasan pasar. Kondisi itu turut memengaruhi kepastian waktu panen ikan yang telah dipelihara berbulan-bulan di keramba.
Sejumlah komoditas seperti ikan Napoleon dan kerapu merupakan ikan bernilai ekonomi tinggi yang selama ini memiliki pasar hingga Hong Kong. Terbukanya kembali jalur perdagangan diharapkan memberi ruang bagi pembudidaya untuk memasarkan hasil produksi dengan lebih teratur.
Salah seorang pembudidaya ikan keramba, Pang, menyambut baik rencana tersebut. Ia berharap kembalinya kapal penampung benar-benar terealisasi dan dapat menghidupkan kembali perdagangan ikan hidup dari Anambas.
“Kalau benar dibukanya kembali kran ekspor ikan hidup dari Anambas ke Hong Kong, kami menyambut baik. Dengan begitu ekonomi masyarakat dapat bergairah kembali,” kata Pang.
Menurutnya, tersendatnya perdagangan ikan hidup selama ini berdampak langsung terhadap penghasilan keluarga pembudidaya yang menggantungkan kehidupan dari usaha keramba.
Dampak ekonomi juga dirasakan dalam rantai usaha perikanan lainnya. Perputaran perdagangan ikan melibatkan pembudidaya, nelayan, pekerja keramba, pengangkut ikan hingga pelaku usaha yang berkaitan dengan aktivitas perikanan.
Sebagai daerah kepulauan, perekonomian masyarakat Anambas sangat berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan. Karena itu, masyarakat berharap kembalinya Mitra Dodo tidak hanya membuka kembali akses pasar, tetapi juga dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dengan kepastian pasar, pembudidaya diharapkan dapat kembali meningkatkan produksi dan merencanakan waktu panen dengan lebih baik, sementara nelayan memperoleh tambahan akses untuk memasarkan hasil tangkapannya.
Pewarta : Fendi







