'

Ketika Nelayan Menjerit Begini Kata Menteri Airlangga

Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Bintan, Jumat (31/1/2020)

PIJARKEPRI.COM – Nelayan dekat peroyek reklamasi PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bintan ‘menjerit’ soal kesulitan mencari ikan akibat dampak pembangunan, aktivitas kapal isap pasir, kapal keruk yang mencemari perairan Kawal, Bintan, Kepulauan Riau.

Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Bintan, Jumat (31/1/2020), menjawab lawas masalah nelayan tersebut dan mengaku sudah mengunjungi KEK Galang Batang.

Airlangga mengatakan sudah mengunjungi KEK Bintan dan melihat kondisi pembangunan ”smelter” PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) dikawasan tersebut.

“Pada waktu mengunjungi KEK investasi kita dorong agar investasi meningkat, terutama hilirisasi daripada industri alumina semelter,” ujarnya di Nirwana Garden, Lagoi, Bintan.

Airlangga juga menjawab pertanyaan pijarkepri.com soal dampak sosial kemasyarakatan yang terjadi di sekitar KEK. Salahsatunya mengenai proyek reklamasi, pendalaman alur, operasi kapal isap pasir PT. BAI yang berdampak langsung dengan lingkungan sekitar.

Nelayan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan mengeluhkan aktivitas air laut yang kotor, tercemar akibat aktivitas kapal kruk, kapal isap pasir, proyek reklamasi PT BAI. Nelayan kesulitan mencari ikan.

Airlangga menjawab kondisi nelayan tersebut dengan santai. Menurutnya, perusahaan di kawasan KEK belum beroperasi, sehingga tidak mungkin nelayan kesulitan mencari ikan.

“Pabrik aja belum jalan, bagaimana bilang susah dapat ikan, ‘weeeeh‘ bagaimana,” ujarnya, sambil berjalan menuju mobil mewahnya, meninggalkan wartawan.

Aktivitas reklamasi dan sejumlah pembangunan Smelter Pt Bintan Alumina Indonesia, Rabu (28/1/2020). (Foto: Aji Anugraha)

Padahal dalam data pers convrens pencapaian investasi di Bintan Januari 2020, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bintan, PT BAI sudah menginvestasi Rp36 Triliun dengan laporan realisasi hingga Januari 2020 senilai Rp4,9 Triluan. Tercatat, aktivitas PT BAI membangun Pembangkit PLTU, Smelter dan Pelabuhan TUKS.

Sedangkan dampak lainnya yang berimbas ke masyarakat, salahsatunya nelayan yakni, aktivitas pertambangan pasir laut di antara Pulau Tenggel, Pulau Pangkil, Pulau Hantu dengan Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau mencemari perairan tersebut.

Baca Juga : Pertambangan Pasir Cemari Perairan Galang Batang Bintan

Berdasarkan penelusuran pijarkepri.com di Perairan Galang Batang, persis di lokasi reklamasi PT Bintan Alumni Indonesia (BAI), Rabu, penyedotan pasir dengan menggunakan kapal isap. Kapal tersebut bermuatan sekitar 4 ribu ton.

Pasir tersebut dibawa ke lokasi pembangunan di PT BAI.

Salah seorang nelayan tradisional di Kawal, Bintan, mengatakan, Perairan Galang Batang menjadi kotor akibat pertambangan pasir laut tersebut. Akibatnya, para nelayan di Kawal dan sekitarnya kesulitan mencari ikan di kawasan tersebut.

Nelayan dalam sehari biasanya bisa mendapatkan ikan yang banyak sebelum reklamasi. Penghasilan kotor dalam sehari berkisar antara Rp300.000-Rp500.000, namun sekarang hanya sekitar Rp100.000-150.000.

Aktivitas kapal sedot pasir di perairan Kawal, Bintan, Kepri. (Foto: aji anugraha)

Uang kompensasi yang diberikan kepada para nelayan Rp200.000/bulan, namun tidak semua nelayan menerimanya.

“Sekitar setahun lalu kami pernah protes, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Nelayan hanya diberikan Rp200.000/bulan. Saya termasuk nelayan yang menolaknya,” ujarnya.

Baca Juga : Bertarung Nyawa Di Laut BAI Demi Sesuap Nasi

Kelompok nelayan hanya menginginkan pemerintah memperhatikan permasalahan ini dengan menyediakan kapal besar jika tidak dapat membenahi perairan yang sebelum perusahaan itu beroperasi memiliki banyak karang.

“Kapal besar itu supaya kami bisa melaut ke lokasi yang jauh, yang banyak ikan,” katanya.

Hingga saat ini pihak PT BAI belum dapat dikonfirmasi terkait dampak limbah pengerukan pasir di sekitar perairan kawal tersebut.

Pewarta : Aji Anugraha
Editor : Ali Atan Sulaiman

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top