Bertarung Nyawa Di Laut BAI Demi Sesuap Nasi

Seorang wartawan tengah meliput aktivitas kapal isap pasir di perairan Kawal, Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (23/1/2020). (Foto: Aji Anugraha)
Seorang wartawan tengah meliput aktivitas kapal isap pasir di perairan Kawal, Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (23/1/2020). Perairan kawal tercemar akibat aktivitas kapal isap pasir dan pendalaman alur Kawal, Bintan. (Foto: Aji Anugraha).

Oleh : Aji Anugraha

OMBAK di laut Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (29/1/2020) pagi tak begitu bersahabat untuk diarungi.

Tapi tidak untuk Parno (40), seorang nelayan Kawal, Bintan yang siap menempuh resiko, bahkan nyawa taruhannya siap dia pertaruhkan demi sesuap nasi.

Parno adalah salah satu nelayan Kawal, Bintan yang tak dapat melaut ketika musim angin utara memasuki perairan Bintan dan sekitarnya. Kapal mereka terlalu kecil untuk mengarungi laut dalam, rentan tenggelam.

Rabu pagi itu Parno sudah siap dengan kapal kayu miliknya di tepian jembatan penyeberangan Kawal, Bintan. Tepat dibawah jembatan itu deretan kapal bersandar dekat dengan rumah kayu dan sebagian bangunan.

Deretan rumah apung sudah mengantri di tepian laut Kawal, sebagai tanda kalau saja musim di Januari 2020 ini nelayan kelong apung tak beroperasi. Sebagian nelayan dengan kapal kecil hanya berani memancing ikan di sekitar perairan dangkal.

“Kalau sudah musim angin kuat begini mana ada yang berani jauh-jauh (laut dalam),” ujar Parno.

Sekitar tepian periaran Kawal terlihat sangat keruh, bahkan hingga ke tengah perairan antara Pulau Hantu dan PT Bintan Alumni Indonesia (BAI) tak ada satu pun ikan yang ditemui.

Proyek reklamasi seluas puluhan hektare terbentang disepanjang pesisir Kawal, Bintan yang kemudian disebut pemerintah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang.

Di tepi perluasan area reklamasi terlihat alat berat tengah meratakan tanah bauksit. Sebagian pekerja tengah membangun tiang-tiang gedung. Di luas area reklamasi juga tampak sejumlah cerobong asap.

Parno tak berkeinginan untuk mencari ikan ditepian reklamasi PT BAI. Dia mengarahkan haluan pompong melaju lebih ketengah laut kawal, tepat diantara Pulau Hantu dan Pulau Pangkil Kecil. Ombak setinggi 3 meter menghantam kapal yang dikemudikannya.

“Ombak kuat empat meter, luar biasa,” teriak wartawan LKBN ANTARA, Nikolas Panama memegang erat tali haluan kapal.

Ditengah perairan itu terlihat pula kapal isap pasir tengah beroperasi, hilir mudik tepat diantara Pulau Hantu dan Pulau Pangkil. Parno menjauh dari kapal itu, mencari lokasi perairan lain untuk kembali menangkap ikan.

Jauh dari area kapal isap pasir tersebut, Parno menghentikan kapalnya, melempar pancingan berharap ikan besar memakan umpannya.

Akan tetapi, bukan mendapatkan ikan besar malah beberapa kali umpannya dimakan ikan kecil berukuran dua jari orang dewasa. “Ini ikan pasir namanya,” ujarnya.

Dia tak berani lebih jauh melaut, mengingat gelombang cukup kuat. Tapi tidak untuk kapal besi yang tengah beropersi mengisap pasir tepat tak jauh Parno melemparkan jangkar.

Di atas kapal pompong tersebut, Parno menggambarkan beginilah kondisi perairan Galang Batang menjadi kotor akibat pertambangan pasir laut tersebut. Akibatnya, para nelayan di Kawal dan sekitarnya kesulitan mencari ikan di kawasan tersebut.

Aktivitas kapal isap di perairan Kawal, Bintan, Kepri, Rabu (23/1/2020). (Foto: aji anugraha)

Nelayan dalam sehari biasanya bisa mendapatkan ikan yang banyak sebelum reklamasi berlangsunh. Penghasilan kotor dalam sehari berkisar antara Rp300.000-Rp500.000, namun sekarang hanya sekitar Rp100.000-150.000.

Uang kompensasi yang diberikan kepada para nelayan Rp200.000/bulan, namun tidak semua nelayan menerimanya.

“Sekitar setahun lalu kami pernah protes, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Nelayan hanya diberikan Rp200.000/bulan. Saya termasuk nelayan yang menolaknya,” ujarnya.

Kelompok nelayan hanya menginginkan pemerintah memperhatikan permasalahan ini dengan menyediakan kapal besar jika tidak dapat membenahi perairan yang sebelum perusahaan itu beroperasi memiliki banyak karang.

“Kapal besar itu supaya kami bisa melaut ke lokasi yang jauh, yang banyak ikan,” katanya.

Parno merupakan satu dari sekian banyak nelayan Kawal yang harus mengadu nasibnya di laut Bintan.***

Pos terkait