Bincang-Bincang Sejarah Lingga dan Terengganu di Hari Jadi ke-16

Prof Dr. Kamaruzzaman, ahli sejarah dan permoseuman UTM Johor asal Terengganu, Malaysia. yang menjadi salah satu sumber di kegiatan bincang-bincang Pemkab Lingga. (Foto Istimewa).

PIJARKEPRI.COM, Lingga – Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan menggelar acara bincang-bincang hubungan sejarah antara Lingga dan Terengganu di balai Adat Melayu, Damnah Daik Lingga, Minggu (24/11/2019) pagi.

Kabupaten Lingga selain punya ikatan sejarah melayu yang kuat semasa Sultan Lingga Riau yang pertama, Sultan Abdul Rahman Syah dan Sultan Mahmud Muzafar Syah, di Terengganu hingga saat ini masih ada warisan yang berkait kelindan dengan Lingga.

“Ditengah Bandar Terengganu, ada nama Jalan Daik, ada juga Kampung Daik, serta Tenunan Kain Songket, Gamelan Melayu dan alat musik lainnya, selain itu, ada juga bahasa melayu dialek Lingga dan dialek Terengganu (di Lingga Utara) serta Alquran, serta naskah Lingga dan Terengganu,” kata Prof Dr. Kamaruzzaman, Ahli Sejarah dan Permoseuman UTM Johor asal Terengganu, Malaysia.

Sementara itu, salah satu tamu yang hadir di bincang-bincang tersebut, Said Barakbah Ali mengungkapkan, bahwa keluarganya masih menyimpan kain lama tenunan Terengganu, karena keluarganya dulu banyak yang tinggal di Terengganu.

Ia mengatakan, di Terengganu sendiri masih bnyak dijumpai keluarga-keluarga yang mengaku berasal dari Daik, umumnya menyebut dari Resun, dan mempunyai ikatan kekeluargaan yang mereka beri nama kumpulan anak beranak orang Daik, yang lebih kurang ada 400 orang anggotanya.

“Dengan adanya hubungan sejarah budaya dan keluarga yang sangat erat ini, kiranya Pemkab Lingga dan pembesar-pembesar Terengganu dapat lebih menjajaki kerjsama yang lebih nyata, sehing kedua belah pihak dapat menjalin hubungan yang dapat memberikan banyak manfaat kepada daerah dan masyarakat, orang Lingga bolak balik ke Terengganu setiap saat dan begitu juga sebaliknya,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak yang mewakili Pemkab Lingga merespon positip, tetang apa yang diusulkan Said Barakbah Ali, Prof Dr. Kamaruzzaman dan jemputan yang hadir.

“Hubungan sejarah antar Lingga dan Terenganu, diharapkan dapat segera ditulis dengan melibatkan para penulis kedua pihak, sehingga informasi yang didapat dari berbagai sumber dapat dikumpul menjadi satu,” tutupnya.

Tampak hadir pada bincang-bincang tersebut, Raja M. Khalid yang merupakan salah satu zuriat Kesultanan Lingga yang tinggal di Singapura, sejahrawan dan budayawan muda Lingga, M. Fadlillah, Lazuardi, Datok Sy Paridah dan beberapa tokoh masyarakat Lingga. (ACI)

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top