Lurah Tanjungpinang Barat : Kabar Rumah Penduduk Teluk Keriting Retak Hoax

Gilang Ikhsan Pratama, Lurah Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Kepri saat meninjau kabar rumah penduduk teluk keriting retak lantaran pemasangan tiang pancang proyek gurindam 12. (f-ang)

PIJARKEPRI.COM, Tanjungpinang – Kami terkejut mendengar kabar masyarakat Teluk Keriting akan mengentikan proyek Gurindam 12, setelah kami langsung turun ke rumah penduduk, tidak ada satu pun rumah penduduk yang retak karena proyek gurindam 12, kata Lurah Tanjungpinang Barat, Gilang Ikhsan Pratama.

“Kedepan masyarakat jangan mudah termakan isue hoax (berita bohong), tinjau dulu kebenarannya, begitu juga dengan media, cek dulu kebenarannya,” tambahnya, saat meninjau langsung pemukiman penduduk Jalan Teluk Keriting yang dikabarkan retak karena pemasangan tiang pancang pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang, Jumat (1/2/2019).

Kabar beredar rumah penduduk Teluk Keriting retak lantaran pemasangan tiang pancang pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang tersebut beredar riuh di media sosial. Sejumlah media online pun menyebutkan masyarakat mengancam akan menolak proyek tersebut.

Akan tetapi, berdasarkan keterangan penduduk setempat, mereka tak menolak proyek pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang. Masyarakat juga menepis kabar rumah retak lantaran pemasangan tiang pancang di wilayah RW 11 Teluk Keriting.

“Tidak benar, rumah masyarakat teluk kriting tidak ada yang retak, kan jauh bedanya, yang di peling kan rumah wilayah RW 11 dan 15. Saya rasa tidak tepat informasi yang disampaikan, yang di peling dimana, yang retak yang dimana, harus diluruskan,” ujar Ketua I Forum Masyarakat Teluk Keriting (Formatur), Badai (48).

Baca Juga : Masyarakat Teluk Keriting Dukung Proyek Gurindam 12

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepri untuk pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang, Rodi Yantari mengatakan, masyarakat Teluk Keriting tidak mempermasalahkan pemancangan Spon File (Tiang Pancang) pada proyek tersebut.

“Dampaknya seperti apa, kami lihat dilapangan, kami diskusi dengan warga, tidak terlalu tergangu. Berdasarkan analisa kita, pemasangan tiang pancang dilaut lebih minim pengaruhnya dibandingkan di darat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam pengerjaan proyek pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang tahap pertama itu, terdapat 350 titik pemancangan tiang, saat ini kontraktor baru memasang 10 tiang.

“Dampak ini seiring berjalannya waktu akan bergerak ke sisi SMA Negeri 5, dan sisi pantai gurindam, semakin jauh dampaknya nanti akan berkurang,” ujarnya.

Ia kembali menjelaskan, pengerjaan pemasangan tiang pancang proyek pembangunan infrastruktur penataan kawasan pesisir pantai gurindam 12 Kota Tanjungpinang, dikerjakan dengan 2 metode.

Metode pertama dikerjakan dengan Spon File (tiang pancang) dan sebagian tiang pancang akan menggunakan metode Bor File. Berdasarkan penelitian lokasi pemasangan tiang pancang dalam proyek Jalan Gurindam 12, terdapat beberapa lokasi bebatuan, sehingga memerlukan pengeboran.

“Karena dalam hasil penilitian kami, ada sebagian lokasi tiang pancang yang didalamnya terdapat batu, kita mengunakan metode Bor File. Teknisnya, kita bor dulu masukan case, baru di cor, dan itu getarannya lebih rendah,” ungkapnya.

Masyarakat Teluk Keriting, Formatur, Lurah Tanjugpinang Barat, dan PU Provinsi saat menengarai persoalan kabar rumah penduduk retak lantaran pemasangan tiang pancang Proyek Gurindam 12 di Kedai Kopi 757. (f-ANg)

PU Provinsi Kepri tak dapat memastikan dalam pengerjaan pemacangan tiang pancang proyek Gurindam 12 tersebut tak mempengaruhi pemukiman penduduk setempat. Akan tetapi PU berusaha untuk meminimalisir getaran.

“Kalau berpengaruh pasti ada, tapi kami berusaha meminilasiri dampak-dampak tadi, kalau pemancangan pasti ada, kalau bor file kegiatannya lebih kecil, karena kita sudah ada rekomendasi Amdal. Satu di zona satu di pelabuhan fery kita menggunakan pasir, kalau pakai timbunan bouksit tidak bisa, laut akan tercemar. Setelah nanti diatas baru kita mengunakan bouksit,” ungkapnya.

Saat ini, PU Kepri tengah mengerjakan teknis Amdal zona A, dengan menggunakan tiang pancang. “Karena di dalam air jadi tidak mengganggu masyarakat,” imbuhnya.

Menanggapi permintaan masyarakat setempat untuk merenovasi tempat ibadah umat muslim di Teluk Keriting, Rodi mengatakan akan menyampaikan permohonan tersebut kepada pimpinannya.

“Untuk pembangunan masjid kami akan menyampaikan ke pimpinan kami terlebih dahulu, untuk realisasi tempat ibadah, itu di Perkim, PLTnya di dinas PU,” ujarnya.

ANG
Editor : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top