Bintan  

Keluh Nelayan Kecil Tambelan Soal Kapal Pukat

Kapal nelayan kecil Tambelan, Bintan, Kepulauan Riau saat bersandar di dermaga. Nelayan Tambelan mengeluhkan soal kesulitan tangkapan ikan karena kehadiran kapal pukat. (Foto : piajrkepri.com)
Kapal nelayan kecil Tambelan, Bintan, Kepulauan Riau saat bersandar di dermaga. Nelayan Tambelan mengeluhkan soal kesulitan tangkapan ikan karena kehadiran kapal pukat. (Foto : piajrkepri.com)

PIJARKEPRI.COM – Nelayan kecil di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau mengeluhkan soal kehadiran kapal-kapal pukat yang mencari hasil tangkap laut diperairan terdekat, tepat di batas terdekat para nelayan setempat mencari ikan.

Seorang Nelayan Tambelan yang tak menginginkan namanya disebutkan, Kamis, (9/7/2020), mengeluhkan kehadiran kapal-kapal pukat itu.

Nelayan Tambelan tak mengetahui pasti puluhan kapal pukat itu berasal dari mana, yang jelas kapal pukat tersebut menangkap ikan masuk hingga 4 mil lepas pantai Tambelan.

Nelayan melihat, kapal pukat berkapasitas mesin 30-50 gross tonnage (GT) itu menangkap hasil laut berupa, ikan, cumi, tepat dilokasi para nelayan-nelayan Tambelan mencari ikan.

Sekali beroperasi, alat tangkap kapal pukat tersebut menyapu habis tangkapan laut di rompong-rompong nelayan tradisional mencari ikan.

Rompong sebutan bagi nelayan Tambelan tempat ikan berada. Di tempat itu, nelayan biasa menangkap ikan.

“Kapal-kapal pukat ini berukuran besar, jaringnya besar, sekali tangkap habis rompong, tak ada lagi ikan, kami tak dapat apa-apa,” kata Nelayan Tambelan.

Nelayan Tambelan melihat kapal-kapal pukat tersebut beroperasi saat malam hari, sekira pukul 22.00 WIB. Kapal pukat tersebut masuk hingga ke alur laut, tempat rompong-rompong nelayan Tambelan.

Kapal pukat tersebut kemudian keluar dari wilayah pencarian nelayan tradisional Tambelan saat pagi hari, sekira pukul 04.00 WIB. Sehingga, tak satupun nelayan, masyarakat maupun aparat penegak hukum melihat kapal pukat tersebut beroperasi saat siang hari.

“Kalau siang hari, kapal pukat itu beroperasi di 40 sampai 70 mil dari pantai. Mereka masuk ke dalam, sampai 4 mil dari pantai. Kalau sudah siang, ikan sudah habis di rompong-rompong, kami tak dapat lagi mencari ikan,” ungkapnya.

Nelayan Tambelan tak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan aktivitas kapal-kapal pukat itu. Selain keterbatasan alat tangkap, kapal nelayan tambelan berukuran kecil tak sanggup mengejar kapal pukat itu.

Nelayan Tambelan tersebar di 8 desa yang berada di 1 kelurahan dan 1 kecamatan Tambelan. Hampir 80 persen penduduk Tambelan bermatapencaharian sebagai nelayan. Mereka mencari ikan dengan alat tangkap seadanya.

Delapan Desa di Kecamatan Tambelan, BintN itu yakni, Kelurahan Desa Teluk Sekuni, Desa Batu Lepuk, Desa Kampung Melayu, Desa Hilir, Desa Kukup.

Tiga desa berada di pulau terdepan, Desa Pulau Pinang, Desa Mentebung dan Desa Pengikik. Di peraian tiga desa inilah kapal pukat sering beroperasi.

“Hasil tangkap ikan kami jauh berbeda bila dibandingkan dengan kapal pukat. Wahai kapal pukat, janganlah tangkap dekat-dekat, berbagilah dengan nelayan setempat. Kami hanya mencari sesuap nasi,” kata seorang nelayan Tambelan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Desa Kampung Melayu, Tambelan, Bintan, Sis Suardi belum lama ini mengatakan sudah sering mendudukkan permasalahan pengoperasian kapal pukat masuk di perairan tangkap ikan nelayan kecil Tambelan.

Bahkan, pengurus HNSI di Tambelan sudah sering menyampaikan keluhan itu saat pemangku kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Bintan maupun Provinsi Kepulauan Riau berkunjung ke Tambelan. Namun, menurutnya, tak satupun kebijakan yang dapat memperjuangkan hak-hak nelayan Tambelan.

“Sudah sering kami sampaikan sama Bupati, pertemuan-pertemuan di Kecamatan Tambelan soal kapal pukat ini. Hari itu kami sudah buat perjanjian antara kami dan kecamatan, tapi tak ada juga hasil, masih juga beroperasi,” ujarnya.

HNSI Tambelan mengetahui izin penangkapan ikan kapal pukat tersebut diberikan oleh pusat. Namun, menurutnya, izin yang diberikan itu berdampak buruk bagi mata pencaharian nelayan kecil Tambelan.

Surat Izin Penangkapan Ikan yang diterbitkan pemerintah pusat melalaui Kementerian Kelautan dan Prikanan untuk kapal pukat tersebut dibatas 4 mil. Padahal, pada batas pencarian ikan 4 mil tersebut tempat nelayan kecil mencari ikan.

Suardi meminta agar pemerintah daerah dapat menyampaikan keluhan nelayan tambelan tersebut mengenai batas tangkap kapal nelayan pukat di wilayah perairan tangkap nelayan kecil Tambelan.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat menyampaikan permasalahan batas tangkap kapal pukat ini agar tak mengganggu nara pencarian nelayan kecil di Tambelan,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, kondisi terkini salah satu akibat pengoperasian kapal-kapal pukat di Tambelan yang tak termonitor aparat penegak hukum kelautan dan prikanan, nelayan setempat tak dapat mencari sotong pada musim ini.

Padahal, sudah lebih sepekan Tambelan memasuko musim angin selatan, tangkapan nelayan pada musim itu adalah sotong. Kehadiran kapal pukat cumi dinilai nelayan setempat menghabiskan tangkapan laut Tambelan.

“Sampai sekarang ini masyarakat, nelayan tambelan banyak yang belum mendapatkan sotong,” ujarnya.

Belum lama ini, pada awal April 2020 masyarakat yang merupakan nelayan Tambelan membakar satu diantara kapal pukat yang beroperasi di perairan Tambelan, tepat dilokasi nelayan kecil mencari ikan.

Menurut masyarakat setempat, pembakaran alat tangkap kapal pukat itu merupakan bentuk ekspresi kemarahan nelayan Tambelan terhadap aksi penangkapan kapal pukat di wilayah tangkap nelayan kecil Tambelan.

Aparat kepolisian Bintan tengah menyelidiki pristiwa pembakaran kapal pukat itu.

“Masyarakat bertindak, masyarakat salah, sementara masyarakat bertindak itu hanya menjaga perut, mata pencaharian. Kami pun meminta agar masyarakat kita tidak terjerat hukum. Aksi tersebut bentuk pringatan,” pungkasnya.

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun pijarkepri.com, lebih dari 40 kapal pukat bermesin 60-70 GT tengah beroperasi di laut Tambelan dan Bintan Pesisir. Kapal-kapal tersebut berasal dari pengusaha asal Kalimantan, Lingga dan Jawa.

Pewarta : Aji Anugraha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *