Anambas, PIJARKEPRI.COM – Debur ombak Pantai Padang Melang mengiringi malam yang berbeda, di ujung Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Selasa (4/8/2026)
Di bawah langit malam yang tenang, tawa, tepuk tangan, dan sesekali isak haru berpadu dalam acara perpisahan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM)
yang telah mengabdi selama hampir 50 hari di tengah masyarakat.
Malam itu bukan sekadar seremoni penutupan program pengabdian. Bagi warga Desa Batu Berapit dan Desa Bukit Padi, kepergian para mahasiswa menjadi penanda berakhirnya kebersamaan yang telah melahirkan hubungan layaknya keluarga.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Kepulauan Anambas Raja Bayu Febri Gunadian, S.E., bersama jajaran pemerintah daerah, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga yang memadati kawasan Pantai Padang Melang.
Di hadapan para mahasiswa, Kepala Desa Batu Berapit, Umarlisman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia mengaku kehadiran mahasiswa UGM telah memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat di desanya.
“Malam perpisahan mahasiswa KKN-PPM UGM sangat menyentuh di desa kami,” ujar Umarlisman kepada para mahasiswa dan tamu undangan.
Baginya, pengabdian yang dilakukan mahasiswa tidak hanya sebatas menjalankan program akademik.
Mereka hadir, berbaur, mendengar, belajar, sekaligus ikut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Selama hampir dua bulan berada di Anambas, mahasiswa KKN-PPM UGM menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang menyentuh beragam sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga penguatan potensi desa.
Program-program tersebut dinilai memberi manfaat nyata sekaligus menumbuhkan semangat baru bagi masyarakat.
“Kehadiran mereka membawa energi baru bagi masyarakat Desa Batu Berapit maupun desa tetangga. Program-program yang dijalankan membantu masyarakat dan memberikan dampak langsung,” kata Umarlisman kepada media ini, Rabu (5/8)
KKN-PPM UGM tahun ini dipusatkan di dua desa di Pulau Jemaja, yakni Desa Batu Berapit, Kecamatan Jemaja, dan Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur.
Selama masa pengabdian, mahasiswa tidak hanya tinggal bersama masyarakat, tetapi juga berupaya menggali potensi lokal serta mendorong lahirnya inovasi yang dapat terus dikembangkan setelah mereka kembali ke kampus.
Bagi masyarakat, keberadaan mahasiswa menjadi ruang bertukar pengetahuan sekaligus mempererat hubungan antara dunia akademik dengan kehidupan desa.
Interaksi yang terjalin selama puluhan hari menciptakan kedekatan emosional yang membuat momen perpisahan terasa berat.
Menjelang akhir acara, suasana haru semakin terasa ketika pertunjukan seni budaya ditampilkan sebagai persembahan terakhir.
Penyerahan cenderamata menjadi simbol rasa terima kasih atas kebersamaan yang telah terjalin, sebelum malam ditutup dengan ramah tamah di tepi Pantai Padang Melang.
Di balik indahnya panorama pantai yang menjadi salah satu ikon wisata Anambas, malam itu tersimpan kisah tentang arti pengabdian.
Mahasiswa datang sebagai peserta KKN, namun pulang dengan membawa pengalaman hidup yang tak ternilai.
Sebaliknya, masyarakat tidak hanya melepas tamu, tetapi juga melepas anak-anak muda yang selama hampir 50 hari telah menjadi bagian dari denyut kehidupan desa.
Perpisahan itu menandai berakhirnya masa tugas, tetapi semangat kolaborasi yang ditinggalkan diharapkan terus hidup, menjadi bekal bagi masyarakat untuk melanjutkan berbagai program pemberdayaan yang telah dirintis bersama.
Pewarta : Fendi







