Bintan  

Sengketa Lahan di KEK PT BAI

Sejumlah warga Desa Gunung Kijang, Bintan saat menunjukkan bukti kepemilikan tanah mereka yang digarap PT BAI, di KEK PT BAI, Bintan, Senin (26/4/2021). (foto: Aji Anugraha)
Sejumlah warga Desa Gunung Kijang, Bintan saat menunjukkan tanah mereka yang digarap PT BAI, di KEK PT BAI, Bintan, Senin (26/4/2021). (foto: Aji Anugraha)

PIJARKEPRI.COM – Lima warga Desa Gunung Kijang, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau mengaku tengah bersengketa lahan dengan PT Bintan Alumina Indonesia (BAI), di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Lima pemilik lahan terbagi seluas kurang lebih 6,6 hatare persegi itu adalah Deki, Rokimah, Darwis, Jasman dan Nurhadi. Mereka menunjukkan bukti kepemilikan tanah kepada wartawan, di Kawal, Bintan, Senin (26/4/2021).

Deki menunjukkan bukti kepemilikan lahan seluas 2 hektar yang dia beli dari Darwis bersempadan dengan Jasman 1,6 hektare, Nurhadi 1,3 hektare dan Rokimah 1,6 hektare.

Semua surat pembelian tanah, surat tidak bersengketa dan Sporadik mereka tersebut ditandatangani Kades dan Camat Gunung Kijang beserta nomor registrasi.

Deki mengatakan tanah yang dia beli tengah digarap PT BAI di kawasan KEK. Senada disampaikan Jasman, Nurhadi dan Rokimah.

Deki mengatakan membeli tanah dari Darwis pada 2018 untuk keperluan investasi. Namun, setelah dia mengunjungi lahan tersebut pada 2019 lahan tersebut sudah digarap PT BAI.

Dia juga mengaku sudah berupaya untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan PT. BAI. Namun hingga saat ini tidak ada kejelasan.

“Kita sudah berupaya sampai sekarang mereka tidak mau tau, mereka sudah mediasi, tapi tak ada kejelasan. Tanah kami diserobot,” kata Deki.

Kata Deki, sepengetahuan dia, tanah mereka dijual seorang bernama Nguan Seng kepada PT. BAI. Padahal, mereka tak pernah menjual tanah itu kepada Nguan Seng.

“Tanah kami dijual Nguan Seng. Total 6,6 Hektare ke PT BAI. Kami tak pernah menjual tanah ini ke Nguan Seng,” kata Deki, sembari menunjukkan bukti Sporadik dan surat tidak pernah bersengketa kepada media ini.

Begitu juga disampaikan Rokimah. Lahan yang digunakan Rokimah untuk keperluan perkebunan sayur mayur tersebut seketika rata dengan tanah. Dia mengaku tak dapat berbuat banyak dan menuntut keadilan.

“Saya taunya kebun saya sudah diratakan kemarin. Awalnya tinggal pokok tahu, sekarang sudah rata. Ya, saya mau tanah saya kembali,” kata Rokimah.

Sejumlah warga Desa Gunung Kijang, Bintan saat menunjukkan bukti kepemilikan tanah mereka yang digarap PT BAI, di KEK PT BAI, Bintan, Senin (26/4/2021). (foto: Aji Anugraha)

Kemudian mereka menunjukkan lokasi lahan yang saat ini tengah dikuasai PT BAI tesebut. Di lokasi terlihat pekerja PT BAI tengah meratakan akses jalan. Sedangkan lahan warga tersebut telah rata. Mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Terpisah, Direktur PT BAI, Santoni membantah kalau PT BAI tengah bersengketa lahan dan menyerobot tanah lima warga Desa Gunung Kijang tersebut.

Santoni mengatakan lahan di KEK PT BAI memiliki surat dan telah dibebaskan sejak 2 tahun silam. Dia khawatir persoalan tanah tersebut dimotori oleh oknum kejahatan tanah.

“Ga benar. Ga tahu warga dari mana. Kami bebaskan jual beli sudah 2 tahun. Ada surat semua. Kok warga baru datang sekarang. Sekarang memang banyak mafia-mafia tanah,” kata Santoni, dihubungi.

Santoni tak menjawab tanah tersebut apakah PT BAI beli dari Nguan Seng.

Hingga berita ini dimuat, Nguan Seng belum dapat dikonfirmasi terkait menjual tanah yang juga diakui milik warga tersebut kepada PT BAI. Namun, Deki, Rokimah, Darwis, Jasman dan Nurhadi menunjukkan lokasi tanah yang mereka miliki telah digarap PT BAI.

Pewarta : Aji Anugraha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *