Dari Masker hingga Antibiotik Langka di Tanjungpinang

Ilustrasi ; Hand Sanitizer buatan dan masker. (Foto: pijarkepri.com)

PIJARKEPRI.COM – Masker hingga produk cairan disinfektan atiseptik sulit ditemukan di pasaran, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau sejak wabah Corona Virus Desese 2019 (Covid-19) berlangsung.

Bahkan kelangkaan produk-produk kesehatan itu dimulai sebelum Pemerintah menetapkan Indonesia tanggap darurat Covid-19.

Kebutuhan masker dan produk cairan disinfektan atiseptik meningkat drastis di Kepulauan Riau. Seluruh Apotek di Tanjungpinang, Bintan dan Batam kehabisan persediaan masker dan produk disinfektan hingga saat ini.

“Masker tidak ada, handsanitizer tidak ada, sudah 2 bulan tidak masuk, kalau masuk juga cepat habis, yang beli puluhan kotak,” ujar salah satu pegawai Apotek di Tanjungpinang.

Kebutuhan antiseptik seperti, masker, antiseptik dektol, hand sanitizer sulit ditemukan di sejumlah supermarket, pasar dan toko penyedia kebutuhan masyarakat.

Kelangkaan masker mengakibatkan masyarakat menggunakan kain yang dikemas serupa masker. Masyarakat juga mandiri membuat cairan antiseptik dari bahan alkhol dan sedikit cairan pewangi yang belum teruji klinis.

Sebagaian pedagang konvensional maupun non konvensional menjual masker kain buatan, cairan antiseptik (hand sanitizer), dan disinfektan buatan yang tidak melalui uji laboratorium kesehatan.

Harga masker kain yang dijual di group-group Facebook dan WhatsApp bervariasi, puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kotaknya. Padahal sebelum Covid-19 mewabah harga masker hanya ribuan rupiah perlembar.

Kondisi kelangkaan masker dan cairan disinfektan antiseptik ini berjalan mulus beberapa pekan. Mau tidak mau masyarakat menggunakan masker kain dan hand sanitizer yang di jual terbuka tanpa uji klinis dari pada terkena Covid-19.

Polres Tanjungpinang bersama pemerintah setempat belum lama ini memonitor persedian masker dan cairan disinfektan antiseptik di sejumlah apotek kota itu. Mereka tidak menemukan penimbunan masker, hanya saja suplay kebutuhan barang kesehatan itu tidak masuk dari Distributor pusat, di Jakarta, Batam.

“Kami tidak menemukan penimbunan masker, pengakuannya dari distributor di Jakarta tidak masuk. Jika ada yang menimbun masker kami tindak, saat ini masih lidik,” kata Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Rio Reza Parindra, dihubungi pijarkepri.com, belum lama ini.

Pendapat Ahli Soal Masker Kain dan Hand Sanitizer Buatan

Akedemisi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Eka Ramdani, mengatakan masker kain dapat digunakan jika bahan yang digunakan merupakan kain berpori-pori kecil. Penggunaan masker kain dianjurkan dicuci bersih setiapkali usai digunakan.

Berdasarkan riset, masker kain berbahan caton maupun bersertifikasi anti bakteri dengan pori-pori kecil dapat menahan drop plat berupa cairan yang keluar dari mulut. Masker kain bersifat sementara tidak dapat digunakan untuk paramedis Covid-19.

“Masker kain untuk saat ini dapat digunakan, di tengah kesulitan mendapatkan masker di Apotik, tapi dianjurkan menggunakan kain yang berpori-pori kecil, untuk antisipasi dari pada gak sama sekali,” ungkapnya.

Sedangkan disinfektan antiseptik seperti Hand Sanitizer, tidak dianjurkan untuk diproduksi rumahan. Pembuatan handsanitizer diperlukan riset dan ketentuan campuran bahan kimia melalui uji laboratorium.

Pembuatan handsanitizer rumahan atau dijual dengan harga bervariasi di median online tidak sesuai rekomendasi lembaga kesehatan rentan berbahaya untuk kesehatan pengguna.

Campuran pembuatan hand sanitizer seperti Etanol, Giliserol, Hidrogen Peroksida, Aquadest, merupakan bahan kimia yang sulit ditemukan. Selain itu, untuk membuat hand sanitizer perlu uji laboratorium agar ukuran campuran seimbang, sehingga tidak berbahaya digunakan.

“Berdasrkan riset, sarat hand sanitizer itu diatas 60 persen, kalau dibawah itu kita gak tau dampaknya seperti apa, di masyarakat di jual murah, tapi kan bahaya. Ada yang menggunakan alkohol, kalau alkohol itu kita gunakan sembarangan uapnya berbahaya juga, takutnya gagal organ, tidak direkomendasikan untuk sembarangan,” ungkapnya.

Hand Sanitizer tidak efektif untuk menahan bakteri Covid-19, masyarakat dianjurkan cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan, menggunakan masker ketika batuk, mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga imunitas tubuh.

Pewarta : Aji Anugraha
Editor : Redaksi

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *