Wanita Pemecah Batu Granit Teluk Mabai

Rafidah (46), seorang Wanita pemecah batu granit, di Teluk Mabai, Desa Dusun, Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas. (Foto:Aji Anugraha/pijarkepri.com)

WANITA biasanya bekerja di rumah, mengurus rumah tangga, anak-anaknya, menyiapkan makan untuk suami, dan jarang kali bergelut dengan panasnya matahari, tapi tidak untuk Rafidah (46), seorang Wanita pemecah batu granit, di Teluk Mabai, Desa Dusun, Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas.

Beberapa waktu lalu saat pijarkepri.com mengunjungi daerah itu guna menggali informasi untuk mencari tau keberadaan Wanita pemecah batu di Kabupaten Kepulauan Anambas. Kabarnya, masih ada wanita yang aktif memecahkan batu. Dia adalah Rafidah.

Perjalanan menuju Teluk Mabai, Desa Dusun cukup jauh, lebih kurang menempuh waktu 30 menit dari Ibu Kota Anambas, Tarempa. Melewati area jalan berbukit, terjal dan melintasi hamparan hutan asri di daerah Rintis.

Saat ditemui, Rafidah tengah mengambil persediaan batu granit yang masih utuh dipinggir jalan. Dia ditemani pamannya Rais (62) yang ikut membantunya memecahkan batu.

Untuk memecahkan granit Rafidah menggunakan tali tambang kapal yang diikat melingkar untuk meletakkan posisi batu, itu berfungsi supaya tangan tidak terkena pukulan palu ukuran besar saat memecahkan granit tersebut.

“Kalau dicegat tengah batu dapat dipukul, tanganpun tak kene,” kata Rafidah.

Batu geranit yang dipecahkan Rafidah adalah asli Sumber Daya Alam (SDA) di Kepulauan Anambas, karena daerah ini memiliki kontur tanah yang dipenuhi batu granit yang berbukit.

Rafidah tengah mengambil batu untuk persedian penitikan. (Foto: Aji Anugraha/pijarkepri.com)

Setiap sudut jalan di Kabupaten Kepuluan Anambas, dipenuhi batu, dan biasanya batu granit digunakan sebagai bahan dasar bangunan. Mulai dari pembuatan tiang, hingga pengecoran lantai bangunan.

Sudah hampir 11 tahun Rafidah bekerja sebagai pemecah batu, di Teluk Mabai. Sehari, Rafidah bisa mengumpulkan batu granit hingga delapan karung beras ukuran 100 Kilogram.

“Saye mecah batu dah 11 tahun, dari umur anak saye yang kecil umur 5 tahun sampai anak saya umur 18 tahun saya mecah batu,” ujarnya.

Katanya jika cuaca tidak hujan, ia dapat mengumpulkan 12 sampai 15 karung batu granit. “Kalau sekarang ni lagi ngejar pesanan Dusun, buat jalan dekat nun (Sana),” katanya.

Satu karung batu granit, Rafidah hargai Rp.12 ribu, namun jika pesanan banyak Rafidah dapat menjual Rp.10 ribu perkubiknya. Saat ini dia sedang dapat pesanan 24 kubik batu granit.

“Satu karung Rp.12 ribu perkarung, perkubik 10 rb perkarung, perkubiknya 30 karung, Rp.300 ribu,” jelasnya.

Kegigihan Rafidah menitik (Memecahkan,red) batu juga dibantu oleh seorang suaminya Hendri (52), seorang petani jagung di Rintis.

Hasil jual jagung ke pasar Tarempa membantunya untuk kehidupan sehari-hari, meskipun sebelumnya Rapidah sempat menjadi petani jagung membantu suaminya. Rafidah berharap tetap gigih untuk hidup.

“Mau macam mane lagi, inilah hidup, yang penting kite bersyukur dan jangan lupe berdoa,” katanya.

Rafidah memiliki tiga orang anak. Anaknya yang pertama sudah menikah dan berdiam di Tarempa, sementara anak kedua baru saja tamat SMP dan tidak melanjutkan sekolah lantaran ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.

“Anak tiga, paling kecil Kelas 1 SD. seorang tamat SMP tak lanjut. Tak ada biaya, tak ade kerja di Ranai, bantu saudare, yang pertama di Tarempa,” ujarnya.

Rafidah mengatakan keberhasilan dalam membangun kehidupan tak lepas dari usaha dan kerja keras dalam usaha mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi di daerah kepulauan juga memaksanya untuk tetap gigih dan terus berusaha, meskipun pekerjaan memecah batu bukan termasuk pekerjaan yang layak untuk seorang wanita.

“Jangan takut yang penting teruslah berdoa,” katanya menutup pertemuan pijarkepri siang itu. (pijarkepri.com).

Penulis : Aji Anugraha

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top